Lompat ke konten

Miel (Bukan Nama Sebenarnya)

Oleh: Aurelia Lucretie*

Untuk Miel (bukan nama sebenarnya)

Aku selalu memikirkan bagaimana, bagaimana kau bisa menjadi dambaanku?

Di Kehidupan yang lain, di takdir lain, paralel lain

Aku ingin menjadi saudaramu atau bila perlu aku juga tak segan untuk mengajukan diri sebagai ibu mu. Mengapa demikian? Kau mungkin akan menyebutku aneh, bukan?

Padahal tujuan ku amat baik, baik untuk diriku sendiri. Dan mohon maaf mungkin kau juga tak terima aku bilang begini.

Tidak lain dan tidak bukan supaya aku bisa selama-lamanya memiliki mu dan tidak perlu jatuh sedalam ini, setragis ini.

Sendirian.

Dan aku…

Aku akan merasa bangga memilikimu. Aku tak perlu bersusah payah menaikkan kualitas diriku yang masih jauh dari pantas, atau lulus tiga setengah tahun sepertimu. 

Lalu, mengapa hidupmu selalu sesuai dengan apa yang ku pikirkan? Mudah sekali ditebak.

Terbesit tanda tanya besar, ada apa ini? Dan jawabannya telah ku temukan meski butuh dua tahun untuk mengelak ini. Ku bersumpah ini akan mengejutkan, mengejutkan siapa saja yang mendengarnya. Aku saja kaget bukan kepalang.

Nyatanya, kau adalah aku…

Ini benar-benar keputusan final, Miel. Melihat mu ibarat berkaca di cermin besar yang bersih. Aku melihat diriku versi seorang lelaki yang lebih beruntung dalam banyak hal.  Kau adalah gambaran dari diriku yang ku inginkan, kau adalah aku versi sempurna.

Kau benar adanya! 

Terverifikasi dari semua kerja keras mu, semua ambisi, dan tempat kamu memburuh di pusat kota sana.  Di gedung tinggi menjulang yang kalau menengok ke arah luar dari lantai sepuluh, kau akan disuguhkan pemandangan jalan layang, tiga stasiun setelah Bundaran HI. Tapi aku tahu kau tidak pernah memperhatikan itu karena tidak mungkin kau naik MRT.

Aku tak pernah berharap untuk ada di sana tetapi aku berharap kau mengerti bahwa aku menyukai

Dirimu yang

Bukan

Khayal ku.

Sialnya, aku tak mampu menggapai diriku sendiri jadi gagal lah aku menggenggam mu. Jelas-jelas kau jauh lebih dari aku. Bagaimana kau bisa takluk, miris.

Terima kasih telah memberi kesempatan melihat diriku dalam kondisi tidak malang. Terima kasih juga karena telah membawaku ke dalam bahaya sebab semakin hari  aku semakin tidak menyadari siapa diriku hingga berharap dapat bersanding dengan mu.

Yang mana tidak mungkin dinalar orang awam pun hanya mungkin dalam skenario drama picisan siang bolong dan meskipun engkau nyaris seperti aku, alangkah baiknya aku mencari yang lebih sepadan.

Salam,

Mathilda (nama yang tidak tercantum di akta)

(Visited 69 times, 1 visits today)
*) Penulis merupakan mahasiswa Ilmu Politik FISIP UB 2021 dan sedang aktif sebagai Pimpinan Divisi Marketing Komunikasi LPM Perspektif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts

Apa yang kamu cari?