Rasanya seperti sudah setahun penuh berlalu, namun nyatanya baru 3 bulan. Bagaimana aku tau? Melati di rumahku telah berbunga. Mahkotanya menumpuk indah. Aku tidak ingat siapa yang menanamnya. Aku tidak ingat mengapa mereka menanamnya. Tapi ku sadari dengan jelas, konsep waktu milik manusia tidak berjalan sama di dunia ini. Mungkin juga karena di tempat ini mereka belum menerimaku sebagai anggota baru. Tiap aku menyapa mereka melengos seakan aku tidak ada di sana. Hah… Setan pun tak ada bedanya. Kain putih ini mengikat pergerakanku. Tidak leluasa rasanya bahkan hanya untuk menggerakkan kepalaku. Apakah nanti jika lebih lama aku akan merasa kain ini sebagai bagian dari diriku? Atau justru aku tidak akan pernah terbiasa?Tidak seperti setan-setan baru biasanya yang berkeliling mencari area mereka. Aku belum melakukannya. Belum ku temukan tujuanku sebenarnya. Apalagi kebanyakan pohon-pohon di sekitar sini sudah penuh. Tidak ada yang menerimaku sebagai penghuni baru. Apa mungkin banyak manusia mati?Tapi beberapa hal yang baru kusadari belakang ini. Aku tidak mengingat alasan kematianku. Aku tidak ingat pernah hidup sebagai apa atau siapa. Nama di nisan ini pun tidak bisa ku baca dengan jelas.Siapa aku?Apa aku ini?Untuk apa aku sekarang?Apa tujuan “hidup”ku?Apa bisa dikatakan hidup? Lantas apa itu kematian?”WOY!!! Cong!”Aku kenal suara jelek itu. Makhluk berbulu hitam lebat dengan tubuh Kakung dan kuku panjang. Mata merah yang tersembunyi di balik bulu-bulu lebatnya. Wowok alias genderuwo menyebalkan itu menghampiriku sambil menyeringai dengan menyeramkan. Tangan panjang itu merangkul pundakku. “Masih di sini ae lu. Gak keliling-keliling?” ucapnya.Ingin sekali ku singkirkan tangan berbulu sialan itu. Belum lagi bau busuk yang terpancar dari tubuhnya sangat menggangguku. “Males ah. Belum ada tempat tujuan. Ntar malah diusir sama demit lain. Ini aja hampir diusir sama mbak-mbak di pohon beringin sebelah.””Emang mereka tuh sewot kalau bukan temen mereka. Mentang-mentang penghuni lama. Demit lain gak boleh ada di sekitar.”Aku mengangguk setuju. Kadang-kadang dia ini suka bener kalau ngomong. Mungkin itu juga alasan mengapa 3 bulan di sini terasa setahun lamanya. Tidak ada tempat untukku di sini. Meskipun sepetak tanah yang mulai dipenuhi gulma dan semak melati ini juga tempatku. “Lu kenapa gak nyari tempat lain sih? Gak ada apa-apa di sini tuh Cong.”Aku terdiam cukup lama. Menatap burung hantu yang memulai perburuannya. “Emangnya aku harus nyari tempat ya, wok?” Kenapa aku tinggal tidak melakukan apa-apa saja? Di kehidupan kali ini pun haruskah aku memiliki tujuan?”Lu aneh Cong.””Apa anehnya?””Lu tuh seakan bertahan karena sesuatu. Kayak gue penasaran, apasih yang bikin lu tetep tinggal di tempat yang gak ada apa-apa ini?”Aku… Tidak pernah benar-benar memikirkannya. Apa hal yang membuatku mencari-cari alasan untuk tetap di sini?Rasanya seperti alasan di balik semua ini adalah hal kecil. Hal yang cukup remeh untuk ku lupakan begitu saja. Tapi akankah… hal kecil ini justru yang membuatku tetap ada? Akankah hal kecil ini justru alasan di balik segalanya?”Aku juga mau tau, Wok.” Akan lebih mudah jika aku tau.Genderuwo sialan ini malah tertawa keras, tangannya memukul-mukul punggungku. “Hahahaha… Lu masih baru, Cong.””Apa maksud?!”Aku tidak pernah menyukainya, tapi jelas di sini hanya dia satu-satunya teman bicaraku. Mungkin dia tidak merasa bahwa pocong kemaren sore sepertiku adalah ancaman.”Tenang aja, Cong… Waktu lu banyak.”Ya… berbeda dengan saat masih menjadi manusia, waktuku tidak lagi terbatas. Konsep waktu milik manusia sudah tidak lagi berlaku bagiku. Ah, apakah itu artinya aku sudah bukan manusia? Namun kurasa cukup bagiku untuk begini saja. Cukup biarkan aku melakukan apapun yang ku mau sekarang.




