Oleh Akhmad Idris*

Persepsi tentang orang yang bermental sehat (sering disebut dengan istilah waras) hidupnya selalu bahagia, tidak pernah menangis, dan tidak pernah gundah gulana; masih dipercaya dan diyakini oleh sekelompok orang di bumi pertiwi. Kelompok ini beranggapan bahwa orang yang waras dilarang keras (bahkan mungkin diharamkan) bersedih hati, merasa disakiti, dan merasa terbebani. Persepsi ini harus segera diluruskan. Jika tidak, maka hampir seluruh umat manusia di muka bumi ini dianggap bermental tidak sehat.

Bagaimana tidak; sebagian besar bayi yang dilahirkan oleh Ibunya, melihat dunia dalam keadaan menangis. Poin utamanya adalah Adakah manusia di bumi ini yang tidak pernah sedih ketika disakiti? Tidak pernah kecewa ketika dikhianati? Tidak pernah merasa kacau ketika diceracau? Baiklah, jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut memang membutuhkan survei dari seluruh penduduk bumi untuk mendapatkan jawaban dengan reliabilitas dan validitas yang akurat. Namun pertanyaan di atas dibuat bukan untuk mendapatkan jawaban, tetapi untuk menyadarkan pikiran.

Sejauh ini, penulis belum pernah menemui sesosok manusia yang berkata “aku sangat bahagia ketika disakiti. Aku ingin disakiti hingga mati” atau berucap “aku berharap setiap orang yang kucintai akan mengkhianatiku”. Oleh sebab itu, sebuah pesan suci mengatakan “setiap kesulitan akan selalu disertai kemudahan”. Kehidupan adalah cerita tentang kesulitan dan kemudahan yang berjalan beriringan.

Lalu bagaimanakah maksud dari orang yang waras (bermental sehat) itu?
Bagi penulis, orang yang bermental sehat adalah orang-orang yang pernah merasa lara & tawa, suka & luka, serta tangis haru & tangis pilu. Jika hanya merasakan satu sisi saja, maka berarti bermental tidak sehat (gangguan mental). Misalnya seumur hidup tidak pernah menangis dan selalu tertawa, bahkan ketika Ibunya berpamit pulang atau justru selama di bumi tidak pernah tertawa dan selalu menangis, bahkan ketika mendapatkan uang kaget.

Manusia bermental sehat harus merasakan mudah dan susah, namun dengan porsi yang sesuai dengan tempatnya. Manusia sangat dianjurkan tertawa, tetapi tertawa terhadap hal yang layak ditertawai. Sebaliknya; manusia boleh-boleh saja menangis, tetapi menangis terhadap hal yang perlu ditangisi. Tertawa terbahak-bahak sembari menari berlenggak-lenggok di hadapan sekelompok manusia yang sedang hampir mati kelaparan adalah hal yang boleh disebut sebagai gangguan mental.

Kartika Sari Dewi (2012) dalam buku ajarnya tentang kesehatan mental, menyatakan bahwa manusia yang bermental sehat adalah manusia yang dapat mengendalikan emosinya, baik emosi positif maupun emosi negatif. Tawa, senang, percaya diri adalah bentuk-bentuk emosi positif; sedangkan sedih, tangis, marah, cemburu adalah wujud emosi-emosi negatif.

Manusia yang berjiwa sehat adalah terhadap emosi positif, Ia mempertahankan dan terhadap emosi negatif, Ia mengendalikan. Pemertahanan emosi positif sering dianggap sebagai hal yang lumrah. Berbeda dengan pengendalian emosi negatif. Pertanyaan yang sering muncul adalah Apakah bisa emosi negatif dikendalikan? Bukankah emosi negatif seharusnya dihilangkan?

Pandangan tentang emosi negatif yang dapat dikendalikan sehingga menimbulkan reaksi yang positif disebut dengan istilah psikologi positif. Pandangan ini melihat bahwa setiap sikap manusia dibekali kemampuan untuk melakukan hal-hal baik dan mengelolanya. Dengan psikologi positif, rasa marah dapat diolah menjadi emosi positif. Marah bukan hal yang negatif jika dibantu dengan penyaluran yang benar. Misalnya rasa marah yang direfleksikan ke dalam bentuk karya seni seperti lukisan, puisi, atau cerpen. Rasa cemas juga dapat dikelola menjadi emosi positif dengan cara memanfaatkannya untuk persiapan atau antisipasi (alarm emosional).

Beberapa orang hebat juga bermula dari emosi negatif; seperti penulis karya best seller yang bercerita tentang kegelisahan hidup di dalam karyanya, youtubers yang membagikan pengalaman pahit hidupnya lewat video-video di channel youtubenya, para komedian yang berhasil menghibur para penggemarnya lewat kisah-kisah patah hatinya lantaran ditinggal gebetan, atau para motivator yang berhasil bangkit dari keterpurukan yang kemudian membagikannya dengan kalimat-kalimat yang meneduhkan.

Hal ini sejalan dengan kriteria yang disampaikan oleh WHO (World Health Organisation) tentang jiwa yang sehat. Satu di antara kriteria jiwa yang sehat adalah menerima kekecewaan (sakit hati, kesedihan, cobaan hidup) sebagai pengalaman yang dapat digunakan untuk menghadapi lika-liku kehidupan. Emosi negatif yang tidak terkendali dapat memicu reaksi-reaksi negatif seperti membentak, memukul, menggila, depresi berat, hingga bunuh diri.

Gradasi perbedaan antara orang yang bermental sehat dan orang yang bermental tidak sehat (gangguan mental) terletak pada cara memperlakukan emosi di dalam diri. Golongan pertama (bermental sehat) mampu mengukur dan mengatur setiap kadar emosi yang berbaur, sedangkan golongan yang kedua (bermental tidak sehat) tak berdaya di hadapan emosi-emosi yang mendekapnya.

Sekali lagi perlu penulis tegaskan bahwa orang yang bermental sehat berhak untuk mendapatkan kebahagiaan sekaligus kesengsaraan dalam kehidupan. Sebab tangisan tak melulu tentang penolakan dan senyuman tak selalu bermakna penerimaan. Berapa banyak manusia yang menangis tersedu sedan, kemudian esoknya Ia memilih bertahan dan terus melanjutkan kehidupan. Berapa banyak pula manusia yang mengisi hari-harinya dengan senyum dan sapa, kemudian esok harinya ditemukan tak bernyawa dengan obat racun serangga di tangannya.

Kesehatan mental adalah ihwal tentang kebahagiaan dan kesedihan yang diterima dengan hati yang lapang, bukan perihal tentang kebahagiaan yang terus menerus dan kesedihan yang harus dibuang ke dalam lubang kakus.

*penulis bernama Akhmad Idris yang merupakan lulusan Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang lahir pada 1 Februari 1994. Ia aktif menulis dan sangat mencintai dunia kepenulisan. Dapat dihubungi di 089685875606 dan ig @elakhmad. Baru-baru ini telah menerbitkan buku kumpulan esai dengan judul Wasiat Nabi Khidir untuk Rakyat Indonesia (2020). Baginya, “Menulis adalah mengukir nama di dunia yang sudah lama fana”.

(Visited 14.774 times, 1 visits today)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here