Lompat ke konten

Ekofeminisme: Perlawanan terhadap Eksploitasi Hutandan Cerminan Kasih

Ilustrasi: Puri Rahayu Wilujeng
Oleh: Aquilio Jeane Windy Putra*

Dewasa ini, alam sedang berada di ambang kehancuran. Hutan dibabat habis, emas dan nikel dalam tanah dikeruk, dan punahnya keragaman hayati di berbagai tempat. Biang keladi dari kerusakan alam ini adalah manusia. Akibat keserakahan manusia, alam digerus habis-habisan dan dikorbankan demi kepentingan ekonomi dan politik semata. Tetapi jika direfleksikan lebih dalam, alam dan manusia mempunyai relasi yang amat dekat, bahkan digambarkan sebagai relasi antara ibu dan anak yang hidup berdampingan untuk memberi kehidupan dan membagi kasih. Ibu adalah alam dan anak adalah manusia. Namun, masalah kerusakan alam yang terjadi, secara khusus eksploitasi hutan secara besar-besaran merupakan cerminan sikap manusia yang tidak hidup dalam kasih persaudaraan terhadap alam ciptaan. Oleh karena itu, dalam goresan sederhana ini, penulis ingin menilik kerusakan hutan dari perspektif ekofeminisme sebagai upaya untuk membangun peradaban kasih dengan alam ciptaan.

Fenomena Kerusakan Hutan di Indonesia

Hutan merupakan suatu entitas yang sentral di bumi. Ia mempunyai tugas yang sangat penting dalam menjamin kesejahteraan manusia serta keseimbangan alam.  Hutan menyediakan makanan dan air, rumah bagi hewan, menjaga rantai makanan dalam ekosistem, sumber oksigen utama atau paru-paru dunia, penyerap karbon dioksida (C02) utama, penyediaan pasokan untuk industri kayu dan lain sebagainya. Kehidupan manusia pun tidak bisa terlepas dari hutan yang selalu memberi kehidupan. 

Namun, fakta yang tak dapat kita pungkiri adalah pada tahun-tahun terakhir ini kerusakan hutan menjadi suatu masalah lingkungan yang serius. Jutaan hektar hutan telah direnggut manusia demi kepentingan ekonomi dan politik. Tidak terhitung kebakaran hutan, penebangan pohon secara sembarangan dan pembukaan kebun atau lahan yang tidak bertanggung jawab dan pembangunan infrastruktur yang menjadi kelestarian hutan di Indonesia. Faktor internal yang menjadi penyebab rusaknya hutan ialah kesalahan paradigma pembangunan, terkikisnya peradaban kasih, pola pikir antroposentris (manusia melihat alam semesta dari sudut pandang manusia) dan lemahnya perjuangan komunal untuk memperhatikan kelestarian hutan. Kini, ironisnya adalah Indonesia termasuk negara yang mempunyai hutan kaya. Namun, Indonesia juga menjadi negara dengan tingkat deforestasi yang tinggi

Sepanjang tahun 2023 lalu harian Kompas mencatat sebanyak 1,16 juta hektar hutan dan lahan di Indonesia terbakar (Kompas.com 04/10/2024). Hal ini disebabkan oleh perubahan iklim, kemarau berkepanjangan, dan ulah manusia. Masalah lain yang disoroti adalah masalah pembangunan yang menyebabkan kerusakan hutan, misalnya polemik pemindahan ibu kota negara di Kalimantan Timur yang membabat ribuan hektar hutan, habisnya hutan hujan tropis yang ada di Sumatera dan eksploitasi hutan di Papua untuk kepentingan industri kelapa sawit dan  food estate. Hemat penulis, saat ini kerusakan hutan bukan lagi menjadi persoalan lingkungan hidup, tetapi menjadi krisis kasih terhadap hutan. 

Selayang Pandang Ekofeminisme

Ekofeminisme merupakan gabungan dari konsep ekologi dan feminisme. Ekologi berasal dari bahasa Yunani, oikos (rumah atau tempat tinggal semua manusia, binatang, tetumbuhan, air, tanah, udara, dan matahari) dan logos (ilmu). Oleh karena itu, ekologi merupakan ilmu yang mengkaji interaksi sesama makhluk hidup dan lingkungannya. Sementara itu, feminisme merupakan gerakan yang bertujuan untuk mencapai kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan dalam semua aspek kehidupan. Gerakan feminis hendak menghilangkan subordinasi gender, sikap diskriminasi, ketidakadilan dan stereotip terhadap perempuan. Jadi ekofeminisme merupakan gerakan yang berkecimpung dalam kesetaraan gender di tengah dominasi kaum patriarki dan usaha untuk melindungi alam dalam kacamata perempuan. Istilah ini diperkenalkan pertama kali oleh Francoise d’Eaubonne, seorang feminis kenamaan Prancis pada tahun 1974.

Peradaban Kasih: Jalan Menuju Pemulihan Ekologis 

Gerakan ekofeminisme rasa-rasanya bisa disebut sebagai tindakan kasih. Penulis mengatakan demikian karena perempuan dalam perjuangan ekofeminisme dan tindakan kasih sangatlah identik. Perempuan dikenal sebagai pribadi yang lembut, halus, keibuan, dan penuh kasih dan cinta. Pernyataan kasih dalam diri perempuan tidak hanya sebatas kata,  konsep atau perasaan saja tetapi menjelma dan diungkapkan menjadi tindakan nyata untuk memelihara kehidupan dan merawat sesuatu dengan lembut dan penuh cinta.

Tindakan keibuan atau kewanitaan menjadi model peradaban kasih menuju pemulihan ekologis. Sebab tindakan kasih akan menuntun manusia untuk keluar dari kungkungan antroposentris, sikap serakah, tamak, egois, kedangkalan berpikir. Selain itu, menuntun manusia kembali pada kodrat atau panggilan dasarnya sebagai penjaga kehidupan dan kelestarian hutan. Dalam konteks bangsa Indonesia yang dilanda oleh krisis ekologis gerakan ekofeminisme menjadi satu pola pikir baru, bahwa pemulihan ekologis dapat dicapai oleh tindakan-tindakan kasih seperti menjaga alam dengan tidak mengeruk secara rakus, merawat alam dengan penanaman kembali hutan yang gundul dan lain sebagainya.

Selain itu, kita perlu mengakui bahwa perempuan tidak bisa terlepas dari bumi atau alam. Sebab ada tiga hal yang menjadi persamaan antara bumi dan perempuan. Pertama, bumi selalu dikaitkan dengan perempuan karena bumi melahirkan dan memberi kehidupan kepada makhluk hidup lain. Kedua, simbol cinta, harmoni dan keseimbangan dan ketiga, bumi dan perempuan sering menjadi korban eksploitasi. Sementara bumi selalu dikeruk untuk kepentingan politik dan ekonomi, di pihak lain perempuan sering dieksploitasi dalam masyarakat patriarkal. Maka, gerakan ekofeminisme tidak hanya menjadi simbol perlawanan terhadap dominasi laki-laki dan tindakan eksploitatif, tetapi menjadi revolusi kasih dalam merawat hutan dan alam ciptaan.

Catatan Akhir

Gerakan ekofeminisme menyingkap wajah kasih yang nyata dalam perlawanan terhadap eksploitasi alam dan paradigma patriarki. Dalam semangat keibuan yang lembut sekaligus tegas, perempuan menghadirkan teladan bagaimana kasih dapat menjadi kekuatan moral yang memulihkan. Ketika perempuan berjuang menjaga bumi, sesungguhnya mereka sedang menghidupi panggilan kasih untuk melindungi kehidupan bersama. Di tengah panorama Indonesia yang diwarnai oleh krisis ekologis seperti banjir di wilayah Sumatera yang disebabkan oleh pembabatan hutan, gerakan ekofeminisme menjadi cermin bahwa perubahan sejati berawal dari hati yang penuh kasih. 

Kasih itu hanya hanya dalam kata tetapi terwujud pada tindakan kepedulian dalam merawat alam. Perjuangan ini merupakan fondasi bagi lahirnya peradaban kasih yang menempatkan kehidupan daripada keuntungan dan kepentingan ekonomi. Pada akhirnya, membangun kehidupan yang ramah ekologi berarti menumbuhkan dan menjaga peradaban kasih sebagai denyutan nadi manusia.

(Visited 2 times, 1 visits today)
*) Mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts

Apa yang kamu cari?