Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

AKU MAU JADI LAMPU JALAN

Ilustrator : Fadya Choirunnisa
Oleh: Yessenia Haritsa Azarine*
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Aku berimaginasi bahwa penjaga langit memberikan kesempatan pada jiwa-jiwa dari raga mati untuk menjadi sebuah benda. Mungkin, untuk waktu yang lama. Bisa juga untuk waktu yang sebentar. Atau jatuh temponya tidak ditentukan oleh yang berwenang untuk memutuskan.

Kalau benar seperti itu, aku mau jadi lampu jalan.

Kamarku ada di lantai dua, pemandangan jendelanya mengarah ke jalanan. Tidak terlalu besar, tapi ramai dilewati orang. Tepat di depan kamarku, ada sebuah lampu jalan. Tingginya hampir menyentuh daun terendah di dahan pohon mangga yang menaunginya. Lampunya menyala mulai pukul lima sore, dan mati pukul lima pagi. Sinarnya selalu terang.

Tapi, sejak dua hari lalu, sinarnya meredup. Aku tidak tahu sebabnya.

Saat ku tanya Bunda, ia menggeleng sambil mengatakan “masa bodoh.” Bibir keringnya cemberut, suasana hatinya sedang sangat buruk. Ah, tidak juga. Bunda, kan, memang selalu merenggut. Mungkin, tidak ada hal buruk yang terjadi. Mungkin, tidak ada hal buruk yang akan terjadi.

Jadi, malam ini, aku kembali melakukan kegemaranku. Memerhatikan lampu jalan di depan kamarku.

Pasti menyenangkan menjadi lampu jalan. Berdiri kokoh di bawah hujan dan terik surya dan tidak perlu demam keesokan harinya. Bisa menyaksikan dan merasakan emosi semua orang di jalanan tanpa interupsi sama sekali.

Suatu saat, aku pernah melihat seorang kakek dan nenek bercengkerama di bawah lampu jalanku. Keduanya tersenyum, nampak sangat bahagia. Aku tak bisa mendengar percakapan mereka dari kamarku. Aku iri pada lampu jalan yang bisa ikut menyimak. Mereka melanjutkan perjalanan sambil berpegangan tangan.

Sebulan setelahnya, aku melihat seorang gadis berteriak pada seorang lelaki di tengah hujan. Keduanya marah, jari mereka bergantian menunjuk wajah satu sama lain. Lagi, aku tak bisa mendengar percakapan mereka dari kamarku. Aku iri pada lampu jalan yang bisa ikut menyimak. Mereka melanjutkan perjalanan, berlawanan arah.

Hari ini, aku melihat seorang lelaki bersarung biru tua. Tangan kekarnya menggenggam sebuah kardus besar. Oh, lihat, isinya anak-anak kucing! Dia meletakkan anak-anak kucing itu di bawah lampu jalanku. Aku tidak bisa menahan diri lagi. Aku sangat iri pada lampu jalanku.

Betapa warna-warni kejadian dan perasaan yang ia saksikan.

Jadi, aku memutuskan untuk berlari menuruni tangga. Hanya selangkah lagi hingga mencapai pintu saat ayahku datang dan melakukan tindakan rutinya terhadapku.

Saat aku berkedip, aku ada di luar rumah. Di bawah kamarku. Di bawah lampu jalanku.

“Selamat malam,” seorang lelaki berkulit coklat yang sangat tampan menyapaku dari sisi kanan. “Apa kabarmu?”

Aku mendalami matanya yang sayu, sewarna dengan batang pohon mangga. Aku tak kenal orang ini, tapi, betapa nyaman aura yang ia pancarkan. Aku merasa tenang, ini adalah saat paling tenang yang aku rasakan seumur hidupku. “Baik, Pak.”

Lelaki itu memakai gamis putih yang bersih dan rapi. Ujungnya gamisnya sedikit berkibaran ditiup angin malam. Senyumnya menghangatkan, dan tubuhnya bercahaya. “Senang bertemu denganmu. Apakah kamu sudah siap menjadi lampu jalan?”

Aku terkesiap, “Kau penjaga langit!?” terkekeh, “Benar.”

Aku terlalu bersemangat atas pernyataan tersebut sampai hampir tidak mendengar instruksinya untuk menoleh ke bagian kiriku. Kudapati seorang kakek buncit tersenyum ke arahku, pakaiannya serapi dan sebersih si penjaga langit. Aku nyaris memekik saat ia berkata, “Sudah siap menggantikan ku?”

“Kau lampu jalanku?”

Seraya mengangguk, ia menambahkan. “Lampu jalanmu akan benar-benar menjadi milikmu sekarang.”

Lantas, aku melontarkan satu pertanyaan. “Kenapa kau meredup?” Masih dengan senyuman, “Waktu Ku sudah habis.” jawabnya.

Dengan begitu, aku terlibat beberapa paragraf percakapan lagi dengan keduanya. Si kakek sempat menyatakan bahwa ia mengetahui keberadaan ku di kamar atas, serta kegemaranku memerhatikannya. Ia tak pernah kesepian karena kegiatan jalanan, dan karena aku selalu menemaninya. Beberapa saat kemudian, si kakek dan penjaga langit melangkah pergi beriringan.

Aku menjadi lampu jalan! Sinar Ku akan selalu terang.

— — —

“Berapa umurnya?”

Penjaga langit menaikkan satu alis saat mendengar pertanyaan dari Si Kakek. “Enam tahun.” Keheningan tercipta sejenak. Si Kakek bertanya lagi, “Bagaimana dia mati?”

Penjaga langit menghela nafas panjang sebelum menjawab. “Ayah tirinya menamparnya dengan keras saat ia hendak keluar dari rumah. Anak itu tidak pernah keluar rumah seumur hidupnya. Orang tuanya tidak ingin merawatnya, malu memilikinya. Tidak pernah ada doa baik untuknya yang sampai ke langit, dari semua orang. Keberadaannya tidak pernah diketahui.”

Si Kakek berdehem. “Dalam pembicaraan tadi, dia berkali-kali menyinggung macam emosi yang aku saksikan selama menjadi lampu jalan. Aku ragu dia pernah merasakan kebahagiaan.”

Penjaga langit tersenyum. “Dia merasakan kebahagiaan sekarang, menjadi lampu jalan.”

(Visited 58 times, 1 visits today)
*) Penulis merupakan Mahasiswi angkatan 2021 jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya. Saat ini sedang aktif di Divisi Litbang LPM Perspektif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts