Lompat ke konten

Bagian 3: Akademi Hantu Nusantara

Ilustrator - Muthia Fakhira
Oleh: Rafa Adrienne*

“Cong.”

Aku menoleh pelan. Wowok berdiri di belakangku sambil menggaruk-garuk perutnya yang penuh bulu.

“Apaan?”

“Aku kok lama-lama kasihan sih sama kamu… habisnya mu sedih terus kayak soundtrack sinetron azab.”

Aku menatap tanah di depanku cukup lama. Entah kenapa malam ini terasa lebih dingin dari biasanya. Padahal kain kafan sudah melindungi ku dari gelapnya malam.

“Wok… jadi pocong tuh emang harus serem ya?” pertanyaan itu tiba-tiba terlintas dalam pikiran ku.

Wowok mengernyit. “Ya, iyalah,” lanjutnya, menggaruk ketiak dengan presisi. 

“Kalau gak serem? 

“Ya… aneh.”

Aku tertawa kecil, walaupun terdengar lebih mirip sesak napas, “Berarti aku emang aneh.”

Wowok membisu. Aku menarik napas panjang, walaupun sebenarnya aku tidak yakin hantu masih membutuhkan napas. “Shit…”

“Aku tuh capek, Wok” kataku pelan. “Aku gak ngerti harus ngapain sekarang. Mau nakutin orang juga gagal terus. Kena siram kopi lah bahkan, mau ninggalin tempat ini juga nggak mungkin, prett!” Aku menunduk sekali lagi, menatap kain kafanku yang kotor terkena tanah dan udara malam.

“Sebelum mati, aku ngerasa gak cocok jadi manusia. Dan bahkan sekarang … aku mikir … aku pun juga gak cocok jadi hantu, Wok.” tetes pertama luruh dari sudut pandangku. Air asin itu mengalir, membasahi pipi hingga dagu.

Wowok langsung menarik ujung kepalaku.

“Nah! Itu masalahmu!”

Aku berkedip bingung. “Hah?”

“Kamu tuh belum belajar.”

Aku menatapnya datar beberapa detik.

“… “

“belajar jadi pocong??”

“Ya, iya!””

“Emang ada ilmunya??”

Wowok menyeringai lebar.

“Cong… semua profesi itu ada ilmunya.”

Aku mulai merasa pembicaraan ini mengarah ke arah yang sangat buruk. “Wok!”

“Apaan?”

“Jangan bilang…” 

“Betul sekali!.”

Wowok menepuk dadanya dengan bangga, “Aku bakal ngajarin kamu jadi hantu yang profesional.” 

Aku menatap Wowok cukup lama, “ pelajarannya apa emangnya?”

Wowok menyeringai lebar “Dasar dulu.” 

“Dasar apaan?”

“Ketawa seram.” Tubuh besarnya duduk mantap di sebelahku. Lengannya meraba ke belakang, ajaib, ada singkong rebus di tangannya. 1 biji. Cukup. Cukup hanya untuk Wowok dan bukan aku.

Aku menatapnya datar. “Kamu serius?”

“Ya serius lah.”Dia menggigit singkongnya.

“Ketawa doang dipelajarin?”

“Cong.” katanya sambil menunjuk mukaku.

“Kamu tuh selama ini gagal nakutin orang karena aura mu sedih.”

“Lah memang aku sedih.”

“Nah itu masalahnya, stop deh merasa si paling tersakiti.”

Aku menghela nafas panjang. “Cepet ah. Emang ketawa seram tuh gimana?”

Tenggorokannya berdehem beberapa kali kayak mau pidato tujuh belasan. “HUAHAHAHAHAHAHA—”

Suara tawanya menggoyangkan pohon pisang sebelah. Belum selesai, ia tersedak singkong rebus yang  nyangkut.

Aku terdiam. “….”

“mampus… btw jelek banget.” 

 “Ini classic laugh.”

“Classic dari mana? kamu kayak motor mogok.” 

“Udah sekarang mu coba dah.”

Aku malas-malasan membuka mulut. “Hih…”

“Kurang.”

“Hihih…”

“Kurang niat.”

Aku mulai kesal. “HIIHIHIHIHI—”

Mendadak anjing kampung di ujung jalan ikut menggonggong. Wowok menunjuk ke arah anjing itu.

“NAH! AURA MU MULAI DAPAT NIH!”

“Itu anjingnya marah, Wok!”

(Visited 2 times, 2 visits today)
*) Penulis merupakan mahasiswi prodi Hubungan Internasional angkatan 2025, saat ini sebagai staf magang Divisi Redaksi LPM Perspektif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts

Apa yang kamu cari?