Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

21st Century Schizoid Man

Oleh: Muhammad Gibrant Aryoseno*
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Bagian Terakhir

Baca bagian keenam disini: https://lpmperspektif.com/2021/09/05/paradoks-menjadi-dewasa-dan-ilusi/

“Cip, mengapa kamu tak pernah muncul saat aku bersama dengan Dahlia ataupun saat aku bersama dengan orang lain?”

Cip diam sejenak, disertai senyumnya yang buram di balik kegelapan, sebelum akhirnya menjawab, “Kamu kurang makan banyak butiran salju. Sepertinya efek dari yang kamu makan sebelumnya sudah mulai habis, dan itu membuat otakmu sulit untuk menampilkan mimpi-mimpi.”

Aku menelengkan kepala, bingung. Apa yang sebenarnya dibicarakan oleh Cip? Dia sama sekali tidak menjawab pertanyaanku dengan kalimat-kalimat yang relevan, melainkan kalimat-kalimat membingungkan. Otakku pada akhirnya harus berputar. Aku pikir, Cip sedang mengetesku. Dia mungkin tengah memberikanku permainan kata orang dewasa.

“Antarkan aku ke kota,” seruku, “aku ingin membeli manusia salju yang lain!”

Dengan cepat Cip menggigit ujung bajuku dan menaikkan aku ke badannya. Cip tidak bersuara seperti kuda putih yang ceria yang biasa aku kenal. Kali ini dia tampak lemas, meski senyum masih terlukis di wajahnya. Ketika dia berusaha menembus jendela kecil di kamarku untuk pergi ke luar, aku melihat tubuhnya perlahan-lahan kabur. Menyadari ada sesuatu yang salah dengan penglihatanku, aku mengusap kedua mataku, dan akhirnya aku mendapati langit kota di malam hari yang terang penuh bintang.

Aku bertanya pada Cip dengan penuh rasa ingin tahu, “Apa yang baru saja terjadi?”

Dengan tubuhnya yang semrawut, Cip terus mengepakkan sayapnya. Aku bisa melihatnya dengan jelas; bulu-bulunya rontok menjadi debu dan kulitnya meleleh. Aku pun baru sadar kalau Cip bisa terbang. Sungguh aneh.

Karena aku takut ketinggian, aku memukul-mukul tubuh Cip. “Turun! Tolong turun!”

Seketika semuanya berubah menjadi mengerikan. Cip menjawab, tetapi dengan suara yang berat dan serak. “Kau selalu berusaha lari dari takdir, realitas yang diberikan Tuhan kepadamu, Arma. Itulah sebabnya mengapa kau akan selalu berpura-pura baik-baik saja.”

Untuk pertama kalinya aku merasa benar-benar marah kepada Cip. Wajahku menunjukkan ketakutan ketika dia terus saja melontarkan kata-kata tidak masuk akal tentang kehidupan di saat tubuhnya terus meleleh.

“Kau seharusnya bisa tumbuh menjadi seorang dewasa yang luar biasa, yang bisa mengatasi masalahnya sendiri. Pada nyatanya, kau belum pernah menjadi dewasa sehingga sangat sulit untuk memahami kehidupan. Kau selalu terjebak di dalam ilusi.”

Perlahan air mata membasahi pipiku. Aku tidak tahu kenapa, amarahku kepada Cip menghilang begitu saja. Mendengar kata-katanya barusan, aku merasa ada sesuatu yang menembak hatiku, membangkitkan syaraf di dalam otakku yang telah lama padam.

“Ilusi seperti apa yang kaumaksud?” Aku bertanya-tanya.

Cip meleleh sepenuhnya, membuatku terjatuh. Sebelum aku menghantam tanah, suara Cip muncul dengan nada yang lebih kasar, masih berkenan menjawab pertanyaanku. “Kebahagiaan.”

***

Sekarang aku terbangun di sebuah taman bermain kosong yang di tengah-tengahnya terdapat pohon apel merah. Mataku berkunang-kunang ketika aku mencoba berjalan, dan itu membuatku sedikit berhalusinasi. Kenapa tanganku besar sebelah? tanyaku di dalam hati. Selain besar sebelah, lebih berambut pula.

Alih-alih memedulikan kecacatan imajinasi siang bolong itu, aku bergegas menuju pohon apel merah yang di bawahnya terdapat seorang wanita cantik yang rambutnya indah dan bergelombang, kulitnya bersih putih dan mulus, sedang melukis putra kecilnya. Aku berusaha menyapanya, tapi lantunan merdu yang keluar dari mulutnya membisukan sanubariku sejenak.

Ketika kamu pergi, barang-barang itu akan kamu bawa

Berpindah pada tempat lain untuk menemukan kesempatan baru

Teman baru dan takdir baru pula

Karena itu membuat aku sedih sekaligus bersemangat dalam waktu bersamaan

Aku ingat kau bercerita tentang kuda putih di dalam dongeng

Saat aku melukismu tanpa ragu

Oh, aku merindukanmu Kakak.

“Dahlia?” Aku menepuk pundak wanita itu dengan tanganku yang besar, memasang ekspresi penuh tanda tanya.

Wanita itu jelas saja terkejut. Ia menjauh lalu memeluk putranya erat-erat. “Anda siapa?”

Aku tersenyum, merasa lega. “Berapa lama waktu telah berlalu? Apa kau masih ingat dengaku? Aku Arma. Kuda putih yang baru saja kausebut tadi, itu ada di dalam ceritaku.”

Wajah wanita cantik itu mengkerut dengan berbagai pertanyaan, seakan menganggapku sebagai seseorang yang berbahaya. Wanita itu lantas membereskan peralatan lukisnya dan bergegas pergi. Tapi sebelum itu, dia berkata, “Maaf, saya tidak kenal dengan Arma. Saya juga tidak kenal dengan Anda.”

Sebelum wanita itu benar-benar pergi dari pohon apel merah, aku menggenggam tangannya, kemudian bertanya, “Namamu benar Dahlia, bukan?”

Dengan wajah penuh rasa takut dia menjawab, “Maaf, nama saya Nara. Saya tidak kenal dengan Anda. Tolong lepaskan.”

***

Matahari terbit dan terbenam sebanyak kurang lebih tiga kali, dan sebanyak tiga kali pula aku mengalami mimpi-mimpi aneh di dalam tidurku. Karena tidak bisa menemukan manusia salju di dalam perjalananku, aku hanya berdiam diri di dalam kamar sembari menahan marah. Perlahan aku berpikir bahwa aku tidak bisa terus begini. Besok aku harus pergi ke kota dan mencari pedagang manusia salju.

Aku berusaha mengetuk pintu kamar Ayah untuk memberitahunya, tapi ketika aku buka, tidak ada orang, hanya ada cermin di dinding. Aku menatap diriku sendiri di sana, dan … rambutku memanjang. Aku menampar wajahku untuk menyadarkanku bahwa ini cuma ilusi, tapi pada akhirnya aku mendapati sebuah benda padat tumbuh di leherku.

Pada siang yang begitu sepi itu, agar tidak berlarut-larut di dalam kebingungan dan amarah yang melonjak-lonjak, aku bergegas menuju kota, mengabaikan segala perubahan yang terjadi pada tubuhku.

Cuaca hari ini begitu terik, matahari sudah tepat berada di atas kepala, aku memutuskan untuk duduk di sebuah bangku yang dipayungi oleh pohon berdaun banyak. Supaya sejuk, kataku. Sebab tubuhku terasa sangat panas, aku banjir keringat. Dari tempatku duduk, aku melihat berbagai macam kejadian yang menimbulkan banyak tanya lagi di kepalaku. Ketika mataku menangkap seorang kakek tua yang duduk di persimpangan lampu lalu lintas dengan tangan menengadah. Aku heran, apakah dia tidak kepanasan? Kenapa tidak ada yang menemani dia disana? Memandang ke arah timur, aku melihat seorang bapak berseragam warna abu dengan perut buncit yang kancingnya hampir terlepas satu asyik berfoto di tepi jalan sambil meniup peluit dan menggerak-gerakkan tangannya seolah sedang mengatur lalu lintas. Tapi setelah gambar diambil, ia melepaskan topinya dan duduk di sebuah warung dekat jalan. Oh ya, dan kakek tua tadi, aku bingung kenapa dia menyerahkan lembaran rupiah dan recehan di mangkuknya kepada seorang lelaki yang lebih muda, meminum segelas air dari si lelaki lalu kembali duduk di tempatnya semula, menengadahkan tangannya dan beraut sedih kembali.

Orang dewasa handal berpura-pura, ya? Seperti … diriku.

“Oi, kenapa manusia saljunya nggak dimakan?” tanya seorang bocah berpakaian lusuh dengan ukulelenya, menghampiriku dengan senang hati.

Aku pun baru sadar saat tanganku terasa sangat dingin dan lengket. Manusia salju yang kubeli kali ini bukan warna putih melainkan berwarna-warni yang terlukis di atas potongan-potongan kertas kecil. Kata Ayah, manusia salju ini disebut galaksi dari dunia mimpi. Dan menurutku, benar saja. Semakin sering aku memakan butiran-butirannya, mimpi-mimpiku mulai datang kembali.

***

Di perjalanan pulang, aku bertemu dengan seorang bocah laki-laki di pinggir jalan. Dia tertunduk sambil menangis tersedu-sedu. Entah kenapa alasannya. Alhasil, aku menghampirinya dan bertanya kepadanya, “Kamu kenapa, Dik?”

“Anjingku hilang, Mas. Padahal aku sudah cari ke mana-mana, tapi nggak ada.”

Aku memiringkan kepalaku, sebab ia diisi oleh dua pertanyaan berat. Pertama, kenapa dia memanggilku dengan sebutan “Mas”? Aku sadar bahwa segala kejanggalan di tubuhku sudah mulai menghilang, dan aku sekarang tampak sama seperti bocah laki-laki itu. Untuk pertanyaan kedua, aku langsung menanyakannya kepadanya. “Kamu Boy, ‘kan?”

Aku mengelus kepalanya dengan lembut, dan bocah laki-laki itu perlahan mengangkat wajahnya, menatapku. Aku mundur ketika aku menyadari bahwa bocah laki-laki itu memiliki wajah yang sama denganku. Lebih tepatnya, dia adalah aku.

“Bukan, namaku Arma. Apa Mas tahu di mana anjingku?”

***

Belakangan ini hari-hariku semakin tidak masuk akal. Mimpi-mimpi yang datang bertabrakan dengan tidak beraturan, seperti keruwetan lalu lintas ibu kota. Kenapa semua hal yang aku lalui belakangan ini tampak begitu nyata, seperti benar-benar terjadi padaku, atau pernah terjadi padaku?

Karena jutaan kebingungan itu tidak mau pergi dari kepalaku, aku memutuskan untuk pergi ke kamar Ayah yang kosong melompong. Di sana hanya terdapat cermin. Aku berjalan menyusuri ruangan itu, mengusapkan tanganku pada tubuhnya. Kotor sekali. Aku tidak tahu sudah berapa lama kamar ini kosong. Padahal, baru beberapa hari lalu aku makan bersama dengan Ayah. Sapuan tanganku berhenti ketika jemariku menabrak sebuah buku usang di sudut ruangan. Buku bersampul hijau itu dipenuhi dengan ilustrasi berwarna. Berbeda dari buku lain, buku itu dari awal memperkenalkanku dengan tokoh seorang anak kelas 1 SD yang bernama Budi, adiknya bernama Ani, dan kedua orang tua mereka. Mereka tinggal di sebuah rumah berlantai dua yang bagus sekali, dengan teras luas dan berbagai jenis tanaman yang hidup di pot-pot kecil dan besar.

Bersama Budi dan Ani, aku dibawa menuju kegiatan mereka sehari-hari yang tercetak di buku tersebut. Suatu saat, Budi melihat dua kawannya bertengkar dan ia melerai. Ada kalanya pula Ani menangis karena mainannya rusak, dan Budi membuatkan ia mainan lain. Aku membaca kisah mereka saat berkunjung ke rumah Nenek, mengikuti kerja bakti di lingkungan rumah, dan pembicaraan makan malam mereka mengenai nilai Matematika Budi yang bagus.

Ketika membuka beberapa halaman selanjutnya, sebuah kalimat muncul.

Momen itu seperti kembang api.

Akhirnya aku menemukan kata-kata itu! Inilah dia! Rahasia orang dewasa dengan segala keburukannya! Sebuah perasaan yang meledak-ledak; percampuran antara mau dan enggan, suka dan benci, serta hidup dan mati.

Belum selesai memikirkan kalimat momen itu seperti kembang api, aku sudah memikirkan hal lain. Di dalam remang-remang kamar tidurku, aku berpangku tangan menghadap jendela. Membayangkan banyak hal, terutama kalimat momen itu seperti kembang api, dan bintang-bintang yang begitu banyak. Salah satu di antara berbagai macam benda langit yang berserakan itu pastilah tempat dimana aku harus pergi. Aku menebak-nebak, di planet mana Ibu berada? Karena ibu suka memasak, pastilah ia berada di Planet Sup Ayam. Aku membayangkan Planet Sup Ayam adalah tempat yang hangat, berbau sedap, dan semua orangnya bisa membaca pikiran. Aku tak perlu mengatakan pada mereka kalau aku sedang kesal dengan buku IPS-ku. Aku sudah habis membaca buku itu, tapi tidak ada satupun cerita tentang Budi sebagaimana yang kualami sekarang. Di akhir cerita, keluarga Budi pergi liburan ke pantai. Aku tidak menemukan Budi sedang marah, Budi sedang menangis, Budi sedang kesepian. Aku tidak melihat Budi sendirian, kehilangan sesuatu, kehilangan seseorang. Aku tidak melihat Budi kehilangan sesuatu yang tidak dapat ditukarnya. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan jika mengalami kesemuanya. Aku kehilangan buku panduanku, dan pada akhirnya aku sadar, kehidupanku runtuh sejak aku kehilangan ibuku.

Aku berdiri dan tidak sengaja menatap diriku sendiri di cermin. Terpampang di sana sesosok pria dewasa dengan rambut panjangnya yang berantakan. Wajahnya beraura gelap, dan rambut-rambut yang tumbuh di tubuhnya tampak seperti rumput liar. Aku bertanya kepada diriku sendiri, Apa benar ini diriku?

Sejak dulu, aku hanya lari dari kenyataan dan berusaha mereka ulang masa laluku yang pernah bahagia seperti di dalam buku IPS.

***

Tiga puluh tahun lalu aku masih berumur enam tahun. Saat itu dunia terasa ramai, menyenangkan, mendebarkan, dan segala kata sifat lain yang mungkin menggambarkan perasaanmu ketika membaca karya Tolkien. Beranjak dewasa, banyak orang bilang aku bohong, semua hanya dongeng semata, atau imajinasi anak kecil yang kelewat kupercaya sampai dewasa. Aku tak mengerti maksudnya. Sebab, ceritaku ini asli. Aku benar-benar tinggal di rumah ajaib saat aku masih kecil. Semua dimulai dari semangkuk sup ayam buatan Ibu.

Kini Ibu sudah tiada. Begitu pula Cip, Dahlia, Nara, dan Arma. Mereka semua hanya imajinasi diriku yang berusaha lari dari kenyataan bahwa selama tiga puluh tahun aku hidup sendiri. Jalanan menjadi saksi betapa kejinya kehidupan memerkosa jiwaku, yang tadinya kecil dan tidak tahu apa-apa, sampai jadi dewasa dan tahu segalanya, di bawah bayang-bayang narkoba, menciptakan dunia fana di dalam kepala, membuatku bahagia, meski hanya sementara.

Ayah, sepertinya aku juga lupa bahwa kau telah lama pergi. Sup ayam buatanmu yang tak seenak buatan Ibu tidak lain adalah buatanku. Dan Tuhan, Tuhan juga sepertinya cuma celetuk-celetuk konyol di dalam kepalaku. Selama ini aku hanya berbicara di depan cermin, menatap diri sendiri, ketika pikiranku terbang ke mana-mana membawaku pergi.

Tapi sepertinya tidak apa-apa. Aku lebih memilih untuk tidak mengingat betapa mengerikannya kehidupanku tiga puluh tahun ke belakang. Ketika dalam perjalananku menuju dewasa aku ditendang oleh manusia, dibutakan wanita, diludahi Tuhan, kemudian karena kesal aku mengarahkan moncong senjata kepada orang-orang tak berdosa. Yang kuingat dari diriku hanyalah Arma, seorang bocah enam tahun yang ingin tahu segalanya, yang sering berkelana di dunia fantasi bersama dengan kuda putih bernama Cip, tak ketinggalan pertanyaan-pertanyaan fundamental tentang “orang dewasa”.

Aku mengambil kotak kecil yang tersembunyi di balik cermin rusak yang baru saja aku pukul. Kubuka kotak itu, dan mulai kumakan satu per satu ornamen-ornamen kecil di dalamnya. Lagi dan lagi, tubuhku terasa panas, tetapi pikiranku tenang. Mungkin kali ini, petualangan baru yang lebih abadi akan kujalani. Entah dengan nama apa dan ditemani siapa, yang terpenting sosok Ibu bisa datang dalam bentuk apa saja, bahkan kuda putih yang sering tertawa, bersedia menjawab pertanyaan-pertanyaan bodoh tentang diriku.

Tamat.

(Visited 46 times, 1 visits today)
*) Penulis merupakan mahasiswa Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya Tahun 2020. Saat ini aktif sebagai anggota Divisi PSDM LPM Perspektif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

TAM

Iklan

E-Paper

Popular Posts