Lompat ke konten

Salt to the Sea: Tragedi yang Terlupakan di Laut Baltik

Sumber: Gramedia.com
Oleh: Adealina Zahwa*

Judul buku : Salt to the Sea

Pengarang : Ruta Sepetys 

Penerbit, tahun terbit : Philomel Books (2016) 

Jenis buku : Fiksi 

Tebal buku : 369 halaman

Salt to the Sea adalah novel sejarah yang berlatar belakang Perang Dunia II pada tahun 1945, sebuah masa penuh kekacauan dan keputusasaan ketika jutaan pengungsi dari berbagai belahan Eropa Timur berusaha mencari keselamatan. Ruta Sepetys, penulis fiksi sejarah yang telah diakui internasional, mengajak pembaca mengikuti kisah empat karakter utama yang hidup di tengah berlangsungnya perang sekaligus berhadapan dengan rahasia dan ketakutan mereka masing-masing. Keempatnya yaitu Joana, Florian, Emilia, dan Alfred, disatukan oleh takdir di atas kapal Wilhelm Gustloff, yakni kapal yang berlayar membawa lebih dari sepuluh ribu penumpang dan berakhir dalam tragedi maritim terbesar sepanjang sejarah.

Novel ini menggabungkan unsur sejarah yang nyata dan kisah fiksi, Sepetys berhasil menghadirkan sebuah narasi yang penuh ketegangan dan emosi. Setiap karakter memiliki latar belakang dan sudut pandang berbeda dan kompleks. Joana adalah seorang perawat asal Lituania yang dikejar rasa bersalah karena meninggalkan keluarganya. Florian adalah seorang seniman restorasi dari Prusia Timur yang menyimpan rahasia besar yang membahayakan mereka semua. Emilia, gadis Polandia berusia lima belas tahun yang membawa trauma perang namun tetap bertahan dengan ketabahan luar biasa. Sementara Alfred adalah seorang pelaut dari Jerman yang sangat ambisius. Ia adalah sosok yang terjebak dalam ideologi dan ambisinya sendiri. Keempat tokoh ini akhirnya bertemu di pelabuhan Gotenhafen dan bersama-sama berjuang untuk berhasil menaiki kapal Wilhelm Gustloff, berharap bisa melarikan diri dari cengkeraman perang, sebelum serangan torpedo Soviet menghancurkan segalanya.

Gaya bahasa Sepetys yang mendalam dan penuh perumpamaan membuat pembaca merasakan setiap emosi yang dialami oleh para karakter. Melalui metafora seperti “rasa bersalah bagaikan seorang pemburu”, pembaca bisa merasakan beratnya beban emosi yang dihadapi Joana dan para tokoh lainnya. Bab-bab yang ditulis pendek tapi padat secara emosional ini menciptakan ritme baca yang intens dan sulit untuk dihentikan. Suasana yang diciptakan sangat mencekam, terutama pada adegan menjelang klimaks ketika para penumpang kalut dan berusaha menyelamatkan diri saat kapal Wilhelm Gustloff dihujani torpedo dari kapal selam Rusia.

Tema utama dari novel ini adalah perjuangan untuk bertahan hidup saat membawa rasa bersalah, ketakutan, dan pengkhianatan di tengah perang. Berlatar tahun 1945, beberapa bulan sebelum Perang Dunia II berakhir, Sepetys memperlihatkan betapa perang telah merenggut hak asasi manusia dan nilai-nilai kemanusiaan, sekaligus menunjukkan bagaimana kehangatan dan solidaritas bisa tumbuh bahkan di tengah krisis yang paling gelap sekalipun.

Salah satu keunggulan novel ini adalah penggunaan sudut pandang orang pertama dari empat karakter yang bergantian. Teknik ini memberikan perspektif mendalam tentang peristiwa yang sama dari sudut pandang yang berbeda, sehingga pembaca dapat memahami konflik internal masing-masing karakter secara lebih utuh dan tidak sepihak. Keunggulan lainnya adalah kedalaman riset sejarah yang dilakukan Sepetys. Novel ini berhasil membawakan tragedi tenggelamnya Wilhelm Gustloff, yang jarang dibahas dalam buku-buku sejarah populer, kepada pembaca dengan cara yang hidup tanpa membuatnya terasa membaca catatan sejarah yang kaku.

Namun, di balik keunggulan-keunggulan tersebut, novel ini juga memiliki beberapa kekurangan yang perlu dicatat. Pertama, terdapat sejumlah kata dalam bahasa Jerman dan Polandia yang tidak disertai terjemahan, baik di pojok halaman maupun di bagian akhir buku, sehingga dapat menyulitkan pembaca yang tidak menguasai kedua bahasa tersebut untuk sepenuhnya memahami konteks yang dimaksud. Kedua, karakter Alfred terasa kurang berkembang dibandingkan ketiga karakter lainnya. Sepanjang novel, Alfred digambarkan nyaris tanpa perubahan, ia terjebak dalam ideologi dan delusinya sendiri. Terakhir, kedekatan romantis antara Joana dan Florian berkembang dengan cukup cepat sehingga terasa kurang meyakinkan, mengingat beratnya huru hara yang mereka hadapi.

Terlepas dari kekurangan tersebut, novel ini menyampaikan amanat yang kuat, yakni provokasi dan perang hanya membawa kehancuran dan penderitaan bagi semua pihak yang terlibat. Sepetys juga menekankan bahwa keluarga juga bisa terbentuk dari ikatan batin yang terjalin melalui kebersamaan dan saling melindungi di masa-masa sulit.

Dibandingkan dengan karya-karya Sepetys lainnya, seperti Between Shades of Gray yang berpusat pada deportasi warga Baltik atau The Fountains of Silence yang mengeksplorasi kediktatoran Franco di Spanyol, Salt to the Sea menawarkan perspektif yang paling luas karena menyuarakan empat sudut pandang sekaligus dalam satu bencana yang sama. Hal ini menjadikannya salah satu karya Sepetys yang paling kompleks secara naratif sekaligus yang paling emosional.

Sebagai novel sejarah, Salt to the Sea berhasil memadukan unsur sejarah dengan penulisan fiksi yang penuh empati, tanpa satu pun mengorbankan yang lainnya. Novel ini direkomendasikan bagi siapa saja yang menyukai fiksi sejarah, kisah kemanusiaan, dan pengorbanan di masa perang.

(Visited 4 times, 4 visits today)
*) Penulis merupakan mahasiswi jurusan Ilmu Komunikasi angkatan 2025. Saat ini sebagai staf magang Divisi Redaksi LPM Perspektif 2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts

Apa yang kamu cari?