“Maaf, ya. Kita kalo siap-siap emang lama,” ucapmu sembari memutar catokan mini di sela-sela rambut panjangmu. Ada keceriaan yang terpancar saat kau menyaksikan pantulan dirimu di layar aplikasi siaran langsung. Kehadiran fitur bunga kecil di atas telinga menambah riang suasana hatimu. Kuharap ceria itu menggantung di wajahmu untuk waktu yang lama. “Santuy. Jam regist-nya juga masih jauh.”
Kau mengangguk. Aksen gelombang yang mulai terlihat di ujung rambut buat senyummu merekah berpadu dengan rona merah muda di kedua pipi. Rupanya alat catok seharga 15 ribuan itu mampu menerbangkan impianmu menjadi gadis pantai siang ini.
Kau pun tidak ingin kehilangan momentum saat balon hati warna-warni tak berhenti muncul. Manfaatkan kesempatan untuk sekaligus promosi.
“Ayok di tap-tap lagi rek. Di cek sekalian itu keranjang kuning. Ada tas selempang imut bisa buat jalan-jalan, nongki … nge-date sama ayang juga bisa.” Nada gurau menghiasi akhir kalimatmu. Barangkali kamu juga menyelipkan harapan di sana.
*
Debur ombak terdengar semakin jelas. Perpotongan darat dan air buatku berdebar memandang perairan yang tak berujung. Seperti perasaan aneh hinggap di bahuku.“Mau main ke sana?” tanyamu sembari menunjuk area di bawah yang baru saja disapu gelombang. Anggukan kepala dariku buatmu segera melepas sepatu–meminggirkannya dekat dinding bangunan yang sudah tidak lagi utuh.
Tanganmu menggamit jemariku lalu mulai berjalan di depan. Barangkali kamu sungguh-sungguh mendengar celotehan saat kubilang aku ingin punya sosok ‘kakak’ sebab caramu menggandeng tanganku seolah memberi tuntunan. Sehingga anak kecil dalam diriku tidak ragu melangkah bebas.
Bergabung dengan perempuan-perempuan berjiwa bebas lainnya. Mereka bergantian mengambil foto di atas dahan lanjut usia yang menjangkar horizontal pada tumpukan pasir.
Dahan itu siap siaga meski nyawanya sudah lama melayang-layang di dekat permukaan laut. Rohnya berbisik pelan di antara angin sampaikan terima kasih karena bersentuhan dengan kehidupan buatnya merasa hidup lagi: menjadi berguna meski telah mati.
“Berbinar-binar gitu matanya.”
Kau temukan lagi posisi di sampingku. Di sekitar kita terlihat jejak kaki yang bertebaran. Terlintas di benakku manakala kita sedang berada dalam lukisan. Buat ini abadi.
Nggak nyangka aja, Mbak. Bisa sampai sini. Kata-kata itu tertahan di kerongkongan sebab nalarku sukar memutuskan apakah ‘sampai sini’ ingin kuperjelas menjadi: setelah tiga bulan kita lewati atau beberapa hari lagi tak akan kutemukan sosokmu terjeblos di perabot kayu dalam ruangan saat kita menghindari panas mentari. Lalu aku mendengar tawamu memudar seorang diri.
Maka hanya sedikit yang bisa terlepas. “Mau jalan-jalan,” sebutku yang entah kenapa lebih seperti meminta izin. Sementara beban berat semakin terasa di bahuku.
“Iya, sana. Jangan jauh-jauh,” pesanmu. Jawaban darimu buat tubuhku terasa ringan.
*
Angin kencang bertiup dari jauh. Bawa gulungan ombak tinggi bergerak cepat. Bergesekan dengan dasar laut. Mendekat, lalu melambat. Memendek. Pecah.
Serpihan-serpihan ombak menggoreskan basah di telapak kaki. Rasa penasaran yang berpendar di kepala buatku berjalan ke timur. Di mana daratan ini berujung?
Sementara itu, aktivitas menjejalkan kaki di antara pasir lembab ini terasa asyik. Belum ada jejak kaki di tempatku melangkah sehingga terus berjalan serasa mencetak sejarah. Pandanganku beralih ke sekitar, belum ada orang lain di daratan sini. Hanya suara ombak dan warna abu-abu gelap kecoklatan yang semakin memenuhi indra. Sehingga air datang membawa kontras.
Air. Naik, turun. Air. Datang. Air. Menjauh. Mungkinkah air adalah manusia dan ada kehidupan di antara gulungan-gulungan nan jauh?
Tidak. Justru terasa dekat. Dan aku ingin menjadi bagian di dalamnya.
Tunggu. Tidak. Pesannya adalah jangan jauh-jauh. Kulihat ke arah barat dan kawan-kawan begitu kecil. Aku harus lekas kembali.
Sambil sedikit berlari kupandangi ombak bergerak semakin cepat, tinggi dan mendekat. Ia seperti hendak melahap. Namun, pijakanku tak tegas. Sehingga air berhasil menangkap kemudian menyisakan pemandangan abu-abu lalu gelap.
*
Ketika kubuka mata, sekeliling berupa air yang meroda. Sepertinya aku sedang bersatu dengan ombak, tapi gerak tubuhku melawan. Mencari celah untuk berenang. Lalu pandanganku menemukan sebuah peti. Peti yang semula di bahuku. Ia ikut terombang-ambing menunjukkan sinar dari dalamnya.
Perasaan familier dan penasaran berpadu satu buatku tuju peti itu. Tak berkunci sehingga dengan mudahnya kubuka. Lalu …
Aku menyaksikan pemandangan yang familier. Tidak salah lagi! Ini adalah kedai mie ayam. Tubuhku membeku menyaksikan gelagat dan percakapan rekan-rekan kerja sebagaimana pernah kudengar sebelumnya. Seseorang menawarkan ceker ayam miliknya kepadaku, tetapi saat kata “cukup” baru sempat mencapai bibir, kedai itu disapu gelombang besar. Sementara tanganku berupaya meraih wajah-wajah yang semakin menjauh.
Selanjutnya, aku merasa ditarik dari danau chili oil diatas dimsum yang masih hangat mengepul. Aroma saus mentai begitu kentara di sekitar. Mengingatkanku pada Kelas Bahasa Inggris di kantor pada hari Jumat malam. Atau mungkin memang benar. Sebab kusaksikan sejumlah orang memusatkan pandangan ke perempuan di samping kananku, yang sedang mendeskripsikan universitas asalnya di Amerika. Kepercayaan diri terpancar dari caranya berbicara seperti tiada kekhawatiran akan salah melafalkan kata. Beberapa orang bertepuk tangan setelahnya. Niatku melakukan hal yang sama, padam saat alarm bencana berbunyi. Pemilik rumah di depan bilang: Tsunami!
Lagi-lagi, semua tertutup air.
*
Kali ini tanganku terasa lembab dan dingin. Di hadapanku ada tumpukan frozen food bermacam-macam warna. Sebagian sudah tersusun pada tusuk sate.
“Mbak, kok diem aja? Udah mau mulai bakar-bakar di bawah.” Perempuan di hadapanku berbicara. Di sekeliling nampak raut wajah mereka yang sudah menemani hari-hari di kantor selama tiga bulan belakangan. Hanya saja memori ini belum ada di kepala.
“Oh. Iya. Ini ngapain?” tanyaku berusaha mencerna. Tetapi lebih dari itu, ternyata kali ini aku bisa berbicara.
“Itu diolesin mentega sama saus. Biar nanti langsung dibawa turun,” balas perempuan di depanku. Yang lain sibuk dengan pekerjaan masing-masing sedari tadi.
“Oke, oke. Mana mentega?”
Salah seorang giliran merespon. “Ngantuk ta kamu? Di sebelahmu ada wadah isi mentega,” kekehnya.
Tawa lebih banyak orang buatku mengangkat ujung kaus sampai ke dahi.
Seseorang memastikan kobaran api tak terlampau besar sebelum sate-satean itu mulai diletakkan di atas alat bakaran. Suara daging olahan yang mulai mengering jadi pengisi hening malam.
Aku mengikuti yang lain membolak-balikan bakaran supaya tak ada bagian yang terlampau gosong
“Mantap. Emang gini nih momen perpisahan sesungguhnya,” suara yang kukenal dari arah belakang. Ia merapatkan jarak di sisi kananku.
Saudarinya kini turut mengambil tempat di sisi yang lain–menempatkanku di posisi tengah. Bicaranya seolah melanjutkan, “Yah, habis ini ga ada kita, ya.” Nada itu ceria tanpa sendu. Meski begitu, mereka tetap bergantian membahas perpisahan. Sesuatu yang jauh dari sukacita, menurutku.
“Tetep sering-sering ke kantor lho.” Tangannya menepuk bahu kananku pelan, tapi membekas.
“Iya, nanti tak chat tiap hari,” ujar saudarinya lagi.
Sepertinya api memang gemar melelehkan segala sesuatu. Termasuk kedua mataku yang sebentar lagi akan meleleh.
Aku menoleh sebagai upaya menghindar dan kutemukan wajah yang beberapa saat setelahnya turut memandangku. Bola matanya gelap seperti langit di atas. Pantulan nyala api bagai sinar-sinar sementara potret diriku amat kecil sehingga aku membayangkan ukuran manusia di galaksi yang begitu luas dan dalam. Bolehkah aku menetap di dalamnya?
Pandangannya beralih mendengar seruan dari seberang api unggun. Disahut ledekan makanyaaa baru mateng langsung digigit aja lalu tawa pecah di segala sisi.
Menyaksikan itu semua buatku tersadar mungkin begini sudah cukup. Perpisahan yang kupikirkan sejak awal pertemuan tidak lagi membuat khawatir. Biar saja momen ini menjadi kenangan di menit berikutnya. Karena mereka sudah menetap, sekarang.
Hidup detik ini adalah menyaksikan wajah-wajah yang menunggu olahan seafood itu matang.
Lalu terdengar bunyi gemuruh.
“Eh, mau hujan ta ini?” Ucapan itu memperjelas gugup di wajah semua orang.
“Bawa masuk aja bahan-bahannya,” tukas seseorang mengantisipasi.
Kubawa wadah berisi sate-satean yang sudah matang lalu bergegas mengikuti beberapa orang yang sudah beranjak duluan. “Gerimis, ayo segera!” seru seseorang dari dalam ruangan.
Tetesan air mendarat di kepalaku lalu melebur diriku ke tanah.
*
Telapak kakiku meraba daratan. Rupanya aku kembali ke pantai.
Di samping kanan tampak perairan yang begitu luas. Langkahku menuju ke arah kawan-kawan yang masih bergantian mengambil foto. Kulihat pecahan ombak yang masih berupaya menggapai ujung pakaianku kemudian menjadi kesatuan lagi di perairan.
Tunggu, perhatianku terpusat pada ombak yang geraknya semakin cepat. Ia terlihat tinggi dan terus mendekat. Rupanya seperti hendak melahap. Kali ini, kupijak pasir dengan lekas dan tegas supaya gelombang tidak lagi menyeretku. Mataku menemukan wajah-wajah familier yang turut menatapku dari jauh.
Begitu sampai, ia yang sebelumnya berpesan untuk tidak jauh-jauh, menertawakan tingkahku yang tadi begitu dekat ke bibir pantai. Ya, kamu sih jauh banget tadi, ujarnya sembari tertawa. Aku tuh ngeliatin sambil was-was, giliran saudarinya yang menegurku.
“Maaf, Mbak. Tadi ombaknya cakep banget. Bikin pengen liat dari deket,” ucapku berupaya membela diri.
Perempuan yang sebelumnya menegur kini menggandeng tanganku.“Udah kamu sama kita aja. Nanti nggak malah hilang.” Usai berkata demikian, ia menawarkan: “Mau foto di situ juga, nggak?” lalu menyiapkan alat potretnya. Rambutnya berkibar ditiup angin dengan bunga putih kecil di atas telinga.
Sungguh, hari ini impianmu menjadi gadis pantai benar-benar tercapai.





