Lompat ke konten

Bagian 5: Si Mbak

Ilustrator - Puri Rahayu
Oleh: Azzara Naila*

Sekiranya kita masih hidup—si pocong sempat berpikir soal ini ketika ia gagal menakut-nakuti bapak-bapak yang nonton bola waktu itu—ada tiga pokok hal yang mesti kita lakukan agar bisa bertahan dalam perputaran dunia dan lapisan masyarakat. Menuntut ilmu agar bisa mencari uang, setelah dapat banyak uang, kita menikah.  Ia tidak ingat pernah ada bahasan panjang soal kematian dan sialnya kehidupan yang ia jalani dulu pun tidak sempat mengantarkannya untuk merayakan barang sejengkal saja tarikan napas yang masih sempat ia ambil. 

Tiba-tiba saja momentum yang harus dihadapinya adalah menuju ke ‘tempat bersejarah’ tempat si Mbak—ia mengikuti panggilan dari Wowok—dan mempelajari kiat-kiat ‘resmi’ agar ahli menjadi penghuni di dunia orang-orang sudah mati. Ia menyeret-nyeret badannya dengan malas sebelum Wowok menggerutu tidak sabaran dan mengangkat tubuhnya untuk disampirkan di bahu berbulu itu seperti karung beras yang tidak lagi berguna. Ketika mereka sampai di ‘tempat bersejarah’ yang disebutkan Wowok, suara kokok ayam dan gonggongan anjing terdengar dari segala arah hingga membuat si Pocong mengernyitkan dahi. 

Pocong yang pusing karena digendong Wowok dengan sembrono tadi merasakan kepalanya semakin berputar akibat kebisingan yang ada. “Memang biasanya sebising ini apa gimana sih?” Protesnya. 

Wowok hanya mengangguk-angguk setelah menurunkan Pocong di depan gerbang asap yang wangi singkong bakar dengan sedikit hint kuncup melati. Wowok melongok ke kanan dan kiri, seperti sedang mencari sesuatu—atau seseorang—tapi ini dunia hantu dan tidak ada satupun yang masih menjadi orang—mencari sosok lain yang biasa menjaga gerbang tak kasat mata itu. Si pocong tidak bisa memberikan bantuan yang berarti sebagai sosok yang belum lama mati. Ia hanya menunduk sambil menghitung jemari kakinya yang tidak sengaja menyembul dari bawah kain kafan di tubuhnya. 

“Satu, dua, tiga—lho? Satu, dua, tiga—lho?!” 

“Apa sih, Cong?” Wowok menoleh dengan heran, “Ngapain sih?”

Pocong menjawab dengan sedikit bergetar, “Demi apa sih jari-jari di setiap kakiku tinggal tiga?” Ia hampir pingsan karena lemas sebelum Wowok memukul belakang kepalanya dengan kesal. Suara kokok ayam dan gonggongan anjing di sekitar mereka semakin ribut. 

“Heh, Pocong aneh—” 

Bum! Bum! Bum!

Serentak kedua entitas ghaib itu menoleh dan melihat kembali ke arah gerbang. Tepat di depan mereka, ada sepasang kaki yang besarnya melebihi besar sebuah pohon beringin, tinggi sampai ke langit dan tidak ada ujungnya, berjalan mendekati gerbang asap di depan mata. Tanah di bawah telapak si Pocong dan Wowok ikut berdenyut seperti jantung yang dipukul dari dalam bumi, sementara suara kokok ayam dan gonggongan anjing di kejauhan mendadak berhenti serentak, menyisakan sebuah kesunyian panjang yang dipaksa lahir secara tidak alami.

Gila! Sudah sebesar itu, tapi lututnya saja belum kelihatan! Pocong membatin dengan mulut yang menganga. Wowok berjalan menghampiri sepasang kaki itu sambil tersenyum sumringah dan melambaikan satu tangannya dengan riang. 

“Hai, bolo!” 

Terdengar suara berat dari langit yang dalamnya seperti gema dalam sebuah sumur tua, “Iya, Wok. Kamu bawa yang baru ya ini?”

Pocong mendongak perlahan karena ia merasa sebuah jari telunjuk yang panjang sedang mengarah tepat di pucuk kepalanya. Semakin ia lihat ke atas, semakin kepalanya pening. Sosok itu terlalu tinggi. Tubuh bagian atasnya lenyap ditelan kabut malam dan awan-awan yang sedang menggantung rendah.

Yoi, Bolo!” Wowok menjawab dengan cepat. “Fresh from the oven!

Suara dari langit itu semakin memberat ketika terkekeh dan semilir angin dingin lewat pelan di antara mereka. Bau tanah basah, daun pisang busuk, kuncup melati, dan singkong bakar bercampur jadi satu. Pocong tidak tahu kenapa tempat semengerikan ini malah berbau seperti sebuah pasar malam desa.

Sepasang kaki itu bergeser sedikit ke kanan sambil meninggalkan bunyi dentuman yang nyaring. 

Bum! Bum! Bum!

Tanah kembali bergetar. Wowok menunggu dengan semangat ketika pocong berdiri dengan pesimis tepat di belakangnya. Gerbang asap di depan mereka mulai terbuka perlahan seperti mulut yang menguap setelah mengakar di dalam tidur yang panjang. Asap putih tipis bergerak melingkar-lingkar di udara dan membentuk celah menuju halaman luas yang tampak remang dari kejauhan. 

Wowok menepuk punggung si Pocong, “Ayo.”

Pocong diam sebentar sebelum berkata dengan suara yang mencicit terlalu pelan, “Kalau aku nolak gimana?”

“Ya nggak bisa.” Jawab Wowok cuek.

Sebelum ia sempat protes lagi, Wowok sudah mendorong tubuhnya masuk melewati gerbang asap itu. Begitu melangkah ke dalam, hawa di tempat itu langsung berubah. Udara terasa lebih berat. Dingin yang tadi hanya menyentuh kulit sekarang seperti menusuk-nusuk ke dalam kepala. Ada halaman luas terbentang di hadapan mereka. Sebuah pohon beringin raksasa dengan akar-akarnya yang menjuntai seperti rambut kusut menyapu tanah berdiri dengan kuno di tengah halaman itu. Di sekeliling pohon itu, ada puluhan sosok-sosok tak kasat mata yang duduk melingkar dengan sedikit terlalu rapi. Mereka semua diam. Hanya menatap kosong ke arah pohon beringin di depan mereka. 

Ada sosok yang memiliki kepala peyang seperti kaleng keinjak truk. Ada yang duduk sambil memangku tangannya sendiri, jika diamati lebih teliti, tangan itu tertekuk ke arah yang tidak semestinya. Ada kuntilanak tanpa kepala yang ternyata kepalanya tertanam di perutnya sendiri, ada genderuwo kurus yang matanya cekung seperti kurang tidur bertahun-tahun, bahkan di sudut lingkaran itu, Pocong sempat melihat ada hantu tanpa wajah sedang sibuk menjahit sesuatu ke dalam kerongkongannya melalui leher.

Pocong menyeret tubuhnya dengan ketakutan yang memalukan di tengah kesunyian itu, “Wok… Kalau mereka tiba-tiba makan aku, gimana?”

Wowok membalas dengan jengkel, “Demit gila kali yang doyan pocong.”

Pocong yang mendengar itu mengernyitkan dahinya karena tersinggung. Hampir saja ia lupa dengan rasa takutnya dan bersiap mengumpulkan liur di ujung lidah untuk meludahi Wowok sebelum matanya menangkap siluet kebaya hijau tua yang berada di tengah lingkaran, tepat di bawah pohon beringin. Ada pendar-pendar kecil di sekitarnya seperti lampu minyak dari lampion murah untuk lomba menghias desa dalam rangka Agustusan. Seorang perempuan. Si Mbak. Rambutnya panjang menyentuh tanah, hitam legam seperti berusaha menyerap cahaya di sekitarnya. Di dekatnya, ada teko dari tanah liat kecil yang samar-samar mengantarkan asap tipis harum melati.

Perempuan itu tersenyum begitu melihat Pocong. Aneh. Senyumnya justru terlalu lembut untuk tempat seperti ini. Perempuan itu berdiri dan berjalan tegak membelah lingkar kerumunan demit untuk menghampiri Pocong—yang sudah ditinggal Wowok melipir entah sejak kapan—Pocong baru sadar jika ia sudah sendirian ketika Perempuan itu tiba di depannya.

“Nah,” Suaranya lirih dan halus seperti untaian daun sirih yang diterpa angin lewat. Seperti ibu guru yang sedang menyambut murid baru hari pertama sekolah. “Akhirnya datang juga.”

“M-mbak?”

Perempuan itu mengangguk kecil, “Duduk sini.” Tangannya menepuk tikar kosong di sebelahnya. Si Pocong kaget karena sebelumnya dia masih berdiri di pinggiran kerumunan demit-demit itu, tapi sekarang ia sudah berada di tengah-tengah mereka, di bawah pohon beringin tempat si Mbak duduk saat pertama kontak mata dengannya. Dengan langkah ragu dan kepala yang berkecamuk ke mana-mana, Pocong mendekat lalu duduk perlahan. Tikarnya dingin. Terlalu dingin. Si Mbak menuangkan cairan hitam dari teko ke sebuah cangkir tanah liat. Asapnya tipis dan wangi singkong bakar kembali tercium.

“Kamu pasti capek kan habis mati.”

Kalimat itu membuat Pocong bingung. Sejak bangun jadi pocong, semua yang berada di sekitarnya hanya berisi tentang suruhan untuk menakuti orang, tidak sebaiknya hantu merasa hidup seperti manusia, atau ejekan-ejekan karena dia gagal membuat seseorang terbirit lari ketakutan.

Namun, perempuan ini malah bicara seolah kematian adalah perjalanan jauh yang melelahkan. Pocong tidak tahu harus berkata apa. Ia ingin menerima cangkir itu apabila ada yang berkenan untuk melepaskan ikatan di tangannya ini. 

Di sekeliling mereka, para hantu masih menunduk dalam diam. Si Pocong baru sadar kalau tidak ada satupun dari mereka yang benar-benar mengedipkan mata—atau mungkin memang hantu tidak seharusnya berkedip—ia tidak kunjung mengerti. 

“Kita mulai ketika kamu sudah siap, ya.” Si Mbak berkata dengan lembut.

“Mulai apa, Mbak?”

Perempuan itu tersenyum lagi. Kali ini lebih tipis. 

Nanti juga kamu tahu.”

Setelah mendengar kalimat itu, seluruh makhluk di bawah pohon beringin menundukkan kepala mereka lebih dalam. Dan untuk pertama kalinya, entah sudah di malam keberapa ia menjadi bagian dari mereka yang tidak lagi bernadi, Pocong merasa dirinya mungkin telah datang ke tempat yang salah.

(Visited 6 times, 6 visits today)
*) Penulis merupakan mahasiswa Ilmu Komunikasi angkatan 2023, saat ini menjabat sebagai Pimpinan Divisi PSDM LPM Perspektif 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts

Apa yang kamu cari?