Sejak berada di bangku sekolah dasar, kita acapkali disuapi puluhan halaman pedoman budi pekerti. Kita dituntun bagaimana caranya berbicara dengan santun kepada sesama. Kita berusaha menjadi sosok anak yang baik yang tidak pernah menghardik orang lain. Saat menginjak bangku sekolah menengah, kita mungkin akan dihukum karena tidak sengaja mengumpat kepada teman sebaya. Kita selalu diajari untuk selalu berperilaku terpuji, bertutur kata santun, dan menghargai orang lain.
Namun hari ini, rasa-rasanya pelajaran mengenai budi pekerti itu terdengar seperti lelucon. Sebab orang nomor satu di negeri ini, yang paling dihormati, yang tiap kalimat dan tingkah lakunya selalu berada di bawah gemerlap lampu sorot, justru melakukan hal yang sebaliknya. Lantas, bagaimana anak-anak bangsa dapat berperilaku dan bertutur kata santun jika pemimpinnya saja tidak memberikan contoh?
Belakangan ini, warganet menyoroti bagaimana perilaku Presiden Prabowo Subianto ketika berdiri di atas podium. Bagaimana cara beliau berbicara dengan intonasi yang meledak-ledak. Bahkan beberapa kali dengan sengaja mengucapkan kata-kata umpatan yang terdengar begitu tidak pantas keluar dari mulut seorang pemimpin negara. Fenomena ini kemudian menjadi tantangan baru bagi para guru dan orang tua, sebab anak-anak mungkin akan ikut-ikutan berkata kasar, lalu ketika ditegur mereka akan membela diri dengan: “Presiden saja bicara seperti itu, kenapa aku tidak boleh?” Salah satu pilar dari visi Indonesia Emas 2045 yang secara resmi diatur dalam Undang-Undang RPJPN 2025–2045 adalah pembangunan manusia dan penguasaan IPTEK. Jelas, duduk di bangku sekolah saja tidak cukup untuk dapat mewujudkan visi itu. Anak-anak bangsa memerlukan fondasi budi pekerti, yakni sopan santun dan tutur kata yang baik. Yang mana ratusan halaman buku teks pun tidak cukup untuk dapat membuat mereka paham. Pembelajaran budi pekerti tentu membutuhkan contoh nyata yang bisa diamati secara seksama, yang seharusnya praktiknya dimulai dari sosok yang paling disorot oleh seluruh elemen masyarakat di negeri ini. Jika SDM bangsa ini hanya dibangun dengan pembelajaran tekstual di dalam ruang kelas tanpa diberikan contoh nyata perilaku terpuji, maka yang terjadi adalah mereka nantinya hanya akan tumbuh dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa memiliki empati dan hati yang suci.
Ironis sekali bagaimana ratusan halaman buku Pendidikan Agama dan Budi Pekerti yang disuapi dari bangku sekolah dasar hanya menjadi bahan hafalan untuk ujian, tanpa benar-benar ada sosok yang menjadi panduan untuk mewujudkannya di kehidupan sehari-hari. Sedih sekali jika membayangkan anak-anak bangsa nantinya akan tumbuh dengan kebiasaan mengumpat dan berkata kasar. Sebab pemimpinnya saja berkata “ndasmu” dan “bajingan” di atas mimbar. Miris sekali ketika menyadari bahwa hari ini saja sudah banyak anak muda yang bersikap individualis dan tidak empatis. Sebab pemimpinnya saja, ketika mendapatkan kritik dari masyarakatnya, beliau hanya berkata: “Emang gue pikirin?” sembari mencibir di hadapan ratusan sorot kamera.
Seorang pemimpin harus memberi contoh yang baik kepada rakyatnya. Namun di bangsa yang pemimpinnya berani mencibir dan mengumpat di hadapan awak media, dari mana contoh baik itu bisa didapatkan?





