Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Paradoks, Menjadi Dewasa, dan Ilusi

Oleh: Gratio Ignatius Sani Beribe*
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Bagian Keenam

Baca bagian kelima disini: https://lpmperspektif.com/2021/08/22/perempuan-misterius-dahlia/

Sore semakin larut dan berkas cahaya jingganya menembus kaca jendela tepat di hadapan aku dan Dahlia. Kami masih menatap kosong ke arah mentari yang mulai terusir oleh kegelapan malam dan suara jangkrik yang memanggil rembulan untuk kembali bertahta. Sepi yang sudah lama timbul oleh bincang yang tak kunjung melintas seketika sirna saat Dahlia melemparkan sebuah tanya kepadaku yang membuat benakku semakin porak-poranda dengan segala tanda tanya tentang siapakah dirinya.

“Arma, apakah kamu tahu jika dunia ini terdiri dari berbagai paradoks yang akhirnya membentuk sistem kehidupan kita?” aku hanya menggeleng tanpa bisa berpikir apapun karena arti paradoks sendiri saja aku tak tahu. 

“Lihat!” katanya sambil menunjuk langit di seberang jendela “Saat ini kita merasa bahwa matahari mulai terbenam di barat, padahal di saat yang sama juga matahari sedang terbit dari timur.” 

“Oh, jadi matahari itu ada dua, ya? Satunya matahari yang sedang terbenam dan satunya lagi yang sedang terbit itu?” Kataku penuh ragu karena masih terjebak dalam kebingungan.

“Bukan, matahari itu ada satu saja. Tetapi, karena manusia mempunyai jarak pandang yang terbatas akan permukaan bumi, kita tidak bisa melihat apa yang sedang terjadi di sisi bumi sebelahnya. Apakah kamu sudah mengerti, Arma?” Dahlia berkata perlahan demi membuatku dapat mengerti maksudnya.

“Oke, jadi sebenarnya matahari hanya ada satu tetapi karena kita tidak bisa melihat keseluruhan sisi bumi sehingga tampaknya seperti matahari yang berbeda, begitu bukan?” 

“Iya, betul!” katanya sambil tersenyum kepadaku. Tetapi kemudian dia kembali berbalik menatap jendela dan berkata, “Hal ini sama seperti hidup dan mati, Arma. Kita selalu menganggap bahwa kehidupan dan kematian adalah sesuatu yang berbeda, tapi sebenarnya mereka adalah satu-kesatuan yang oleh karena keterbatasan jarak pandang kita akan dunia ini terlihat seperti dua hal yang berbeda. Ketika kita dilahirkan, kita tidak hanya memulai suatu kehidupan tetapi juga sedang memulai proses kematian.” 

“Lalu kalau seperti itu untuk apa kita lahir dan hidup di dunia ini?” tanyaku sambil menoleh kepadanya. 

“Kita tidak pernah memilih untuk dilahirkan, Arma. Oleh karena itu hidup ini merupakan proses mencari tahu tujuan kita dilahirkan dan mengejar tujuan tersebut. Namun jalan untuk mencapai tujuan tidaklah mudah karena kita adalah manusia yang tidak sempurna dan punya keterbatasan, sehingga begitu banyak kemalangan yang harus kita hadapi. Itulah sebabnya mengapa orang dewasa akan selalu berpura-pura baik-baik saja.” kata Dahlia sambil menatapku sangat serius. Terlihat dia begitu dewasa. 

“Oh iya, Cip juga pernah berkata kepadaku kalau orang dewasa itu hebat berpura-pura karena mereka memakai topeng agar tak bisa terlihat sedih, lara, dan sakit. Orang-orang dewasa melakukannya agar tetap terlihat tangguh dan kuat sehingga sering kupikir mereka seperti Dewa. Namun biarpun begitu, bukankah hal tersebut merupakan sesuatu yang palsu untuk menutupi kejujuran diri mereka sebagai seorang manusia utuh yang dapat tertawa dan menangis juga?”

“Tidak sesederhana prasangkamu itu Arma. Berpura-pura untuk baik-baik saja bukanlah suatu hal hina yang dilakukan oleh orang dewasa, melainkan respon manusiawi untuk membuat orang-orang disekitarnya tetap merasa aman dan membiarkan dirinya sendiri menanggung perasaan tersebut. Itulah salah satu tanggung jawab menjadi dewasa − untuk membuat orang-orang disekitarnya tetap bahagia tanpa peduli tentang dirinya sendiri.” 

“Rupanya menjadi dewasa itu sangat menakutkan, ya? Tidak boleh menangis, banyak peduli dengan banyak orang tetapi sedikit peduli dengan diri sendiri, benar-benar sangat menyedihkan menurutku.”

“Yah begitulah cara kita melalui kehidupan yang fana ini. Namun entah mengapa semuanya pasti akan terasa masuk akal saat kita menjadi dewasa. Mungkin karena kita belum dewasa sehingga sangat sulit untuk memahaminya.” Dahlia berkata sambil kembali menoleh pada langit yang sudah kehilangan mentarinya.

 “Oh, hal tersebut bisa kutanyakan ke Cip. Siapa tahu dia bisa menjawabnya.” Setelah aku berkata seperti itu, Dahlia hanya tersenyum dan segera membereskan barang-barangnya. Sepertinya ia bergegas untuk pulang.

“Kamu mau pulang ya, Dahlia?” tanyaku sambil memberikan salah satu kuasnya untuk dimasukan ke dalam tas. “Iya aku harus segera pulang sebelum seorang wanita dengan payudara yang sangat panjang datang menangkapku, hehe.” katanya sambil tertawa lebar. Kuakui selera humor Dahlia cukup rendah dan terkesan horor karena kepribadiannya yang serius plus misterius. 

Aku pun mengantarnya ke depan rumah. Saat ia berpamitan dan hendak berbalik badan, aku mencegatnya dengan satu pertanyaan yang ingin sekali kutanyakan sejak awal tadi, “Dahlia, kamu sebenarnya siapa?”

Ia lalu menoleh dan menjawab, “Aku adalah ilusi Arma.” Mendengar jawaban tersebut aku mulai lagi menebak-nebak logika tak terduga apa yang akan keluar dari gadis misterius ini tentang pernyataannya tersebut. 

“Iya, aku adalah ilusi, Arma. Aku adalah ilusi karena realitas kita sekarang merupakan ilusi bagi realitas yang lebih besar lagi. Oleh karena itu, kamu dan Cip juga adalah suatu ilusi.” Ujar Dahlia sambil mulai berbalik dan berjalan meninggalkanku. Ingin aku bertanya lagi tetapi dia berjalan dengan sangat cepat sehingga aku mengurungkan niatku tersebut. 

***

Raga Dahlia perlahan mulai hilang ditelan gelap malam. Aku kembali masuk ke dalam rumah dengan banyak tanya yang masih membekas tentang siapakah Dahlia itu. Mengapa jawaban yang dia berikan ternyata menimbulkan tanda tanya besar bukan hanya tentang dirinya saja, tetapi juga tentang aku dan Cip. Ditambah lagi kesalku yang timbul karena Cip yang tak kunjung datang saat aku bertemu dengan Dahlia. Mungkin semuanya bisa lepas saat membiarkan tubuhku ini berbaring pada ranjang ternyaman dalam kamarku. 

Saat pintu kamar kubuka, terlihat seekor kuda putih sedang berada di sudut kamar dengan senyuman menyapaku yang masih terlihat kebingungan. Biarpun senyuman Cip sehangat teh yang diseruput di kala hujan, tetapi karena kesalku yang telah meninggi, akhirnya langsung aku kubertanya kepadanya dengan cukup keras, “Cip, mengapa kamu tak pernah muncul saat aku bersama dengan Dahlia ataupun saat aku bersama dengan orang lain?”  

Bersambung 

(Visited 60 times, 2 visits today)
*) Penulis merupakan mahasiswa Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya Tahun 2020. Saat ini aktif sebagai anggota Divisi Redaksi LPM Perspektif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts