Manusia itu tidak pernah tahu awal mereka berasal dari mana. Katanya, mereka punya silsilah yang rumit, dicatat dalam lembaran-lembaran kertas yang mereka agungkan. Tapi bagiku, semua itu terdengar konyol. Aku sendiri tidak pernah tahu dari mana aku berasal. Sejak mataku pertama kali bisa terbuka dan melihat dunia, aku sudah terlantar di kerasnya jalanan. Ibuku? Ayahku? Aku tidak tahu siapa mereka, bagaimana rupa bulunya, atau di mana mereka sekarang. Aku tumbuh besar dengan mengandalkan insting, membaca situasi, dan menebak isi hati manusia dari langkah kaki mereka.
Dunia manusia itu memang bising, tapi gedung tinggi yang mereka sebut “Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik” atau begitulah bunyi ejaan yang sering kudengar dari teriakan-teriakan demonstrasi di jalanan saat manusia berkumpul di alun-alun kota. Kala itu, aku masih kecil, bersembunyi di balik rerumputan mendengarkan ratusan manusia mengaum marah di depan gedung besar bertembok tinggi. Gedung yang kujejaki saat ini rasanya seperti labirin paling membingungkan.
Sore itu, hujan turun deras. Bulu abu-abuku basah kuyup, dan demi menyelamatkan kumisku dari hawa dingin, aku menyelinap masuk menusuk keramaian manusia. Desir asap rokok pun menembus indera penciumanku yang tajam. Aku berjalan tanpa arah, melewati lorong-lorong sepi berbau kertas tua dan aroma kopi instan, hingga langkahku terhenti di depan sebuah
ruangan dua pintu dari awal aku masuk.
Ruangan itu suram. Plang di depannya hanya menggambarkan sebuah lingkaran dengan huruf ‘P’ menyatu besar, sebuah hal yang rumit untuk diterjemahkan oleh otak seekor kucing jalanan. Di dalamnya, cahaya lampu berkedip-kedip malas, mempertegas tumpukan spanduk usang, bendera organisasi yang berdebu, dan aroma pengap khas ruangan yang jarang tersentuh matahari.
Namun, yang paling menarik perhatianku adalah sesosok manusia di sudut ruangan.
Dia adalah manusia. Wajahnya kusut, rambutnya diikat asal-asalan, dan kantung matanya sehitam bulu kucing ras Bombay. Di depannya, ada sebuah benda kotak pipih yang menyala terang, benda aneh yang tampaknya menjadi sumber segala penderitaannya. Jemarinya berselancar ria di atas benda itu, mengetik dengan kecepatan tinggi hingga menimbulkan suara klak-klik-klak yang berisik.
“Meong,” sapaku, mencoba bersikap ramah sekadar untuk meminta tumpangan berteduh. Manusia itu tersentak. Dia menoleh ke arahku, lalu mengacak rambutnya frustrasi.
“Ah, elah! Ngapain lagi ada lo masuk sini sih?! Keluar, keluar! Gue lagi pusing, bab satu gue dicoret-coret mulu lo malah nambah-nambahin beban hidup!” serunya dengan nada tinggi.
Dia berdiri, menghentakkan kakinya ke lantai mencoba menakut-nakutiku. “Hush! Pergi gak! Jangan dekat-dekat laptop gue, nanti lo pencet tombol delete, nangis darah gue!”
Aku memundurkan langkah, melengkungkan punggungku sedikit. Manusia ini sedang stres berat. Aura di sekitarnya dipenuhi tekanan. Saat mengamati manusia itu lebih dalam rasany penuh merah di sekeliling mataku. Aku tahu rasanya tertekan, mirip seperti saat aku dikepung tiga anjing liar di pasar bawah.
Tapi aku tidak bodoh. Aku tidak berniat pergi ke luar yang sedang hujan badai. Jadi, aku hanya bergeser ke sudut rak buku, duduk dengan tenang, dan menatapnya dengan mata bulatku.
Dia mendengus, kembali duduk di lantai, lalu memijat pelipisnya. Mulutnya berkomat-kamit mengutuk sesuatu yang disebut “dosen pembimbing”. Jemarinya kembali menari di atas benda aneh itu, sesekali berhenti untuk meratapi layar.
Setengah jam berlalu dalam keheningan yang tegang, hanya diiringi suara hujan dan ketikan keyboard. Tiba-tiba, perutku berbunyi nyaring.
“Meong…” ratapku, kali ini lebih lemah.
Manusia itu menghentikan ketikannya. Dia menatapku tajam. Aku bersiap-siap jika dia akan melempar sapu atau benda apapun di sekitarnya. Dia bangkit dari kursinya, berjalan menghentak-hentak menuju sebuah rak kayu yang penuh gigitan rayap.
“Bikin jengkel aja,” gerutunya.
Namun, alih-alih mengambil sapu, tangannya merogoh bagian dalam lemari plastik warna-warni. Tapi tunggu. Aku pernah melihat yang seperti itu saat mampir di sebuah rumah usang. Tampilannya agak berbeda. Pintu lacinya disini seperti terbalik. Detik berikutnya, indra penciumanku menangkap aroma yang sangat kukenal. Aroma gurih yang membuat air liurku menetes.
Pretek.
Dia membuka sebuah bungkus plastik. Itu adalah sisa makanan kucing kering (dry food) yang entah milik siapa, mungkin milik kucing sekretariat terdahulu yang sudah terlanjur “disayang” lebih dulu dariku. Dia menuangkan segenggam penuh ke atas selembar kertas bekas revisiannya yang sudah dicoret-coret tinta merah.
“Nih, makan! Habis itu diam, jangan berisik. Gue bisa gila kalau denger suara meong-meong lagi,” omelnya, meskipun tangannya meletakkan kertas berisi makanan itu dengan cukup pelan di dekatku.
Aku mendekat dengan hati-hati, lalu mulai melahap makanan itu dengan rakus. Sungguh sebuah berkah di tengah badai.
Sambil mengunyah, aku mendongak menatapnya. Dia sudah kembali ke depan benda anehnya, wajahnya masih ditekuk, tapi ketikannya kini terasa memiliki ritme yang lebih tenang.
Manusia memang makhluk yang aneh. Mulutnya tadi melempar amarah dan pengusiran, tapi tangannya justru mengulurkan kebaikan.
Aku memutuskan untuk tidak pergi dulu. Setidaknya, sampai hujannya reda, atau sampai manusia frustrasi ini menyelesaikan sihir anehnya di dalam kotak bercahaya itu dan berbalik mengelus lembut buluku.


