Lompat ke konten

Di Balik Lagu Messy: Mengapa Kita Terus Mengejar Standar Orang Lain?

Source: Google
Oleh: Trapsila Ophelia Ardien*

Pernahkah kita merasa sudah berusaha menjadi versi terbaik dari diri sendiri, tetapi tetap dianggap kurang? Ketika kita mencoba lebih percaya diri, ada yang menyebut kita terlalu percaya diri. Saat memilih diam, kita justru dianggap tidak memiliki pendirian. Rasanya selalu ada standar baru yang harus dipenuhi, seolah menjadi diri sendiri saja tidak pernah cukup.

Perasaan inilah yang begitu terasa dalam lagu Messy karya Lola Young. Sekilas, lagu ini terdengar seperti kisah tentang hubungan yang rumit. Namun, jika didengarkan lebih saksama, lagu ini menyampaikan sesuatu yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: betapa melelahkannya menjadi seseorang yang terus berusaha memenuhi harapan orang lain.

Hari ini, kita hidup di tengah dunia yang seolah memiliki standar untuk segala hal. Kita dituntut tampil percaya diri, tetapi tidak boleh terlihat sombong. Kita diminta menjadi produktif, tetapi tetap santai. Kita didorong untuk menjadi diri sendiri, tetapi ketika diri kita tidak sesuai dengan ekspektasi, kritik pun datang dari berbagai arah. Pada akhirnya, muncul pertanyaan yang sederhana sekaligus menyakitkan: apakah menjadi diri sendiri memang pernah benar-benar cukup?

Pertanyaan inilah yang terasa begitu kuat dalam lagu Messy. Tokoh “aku” dalam lagu tersebut bukan hanya sedang berbicara kepada pasangannya, tetapi juga kepada dunia yang terus meminta dirinya berubah. Ia merasa apa pun yang dilakukan tidak pernah memuaskan. Saat mencoba menjadi lebih baik, ia dianggap kurang. Saat menjadi dirinya sendiri, ia kembali dipersoalkan.

Fenomena seperti ini sebenarnya tidak hanya terjadi dalam hubungan romantis. Media sosial telah memperluas ruang di mana manusia terus-menerus membandingkan dirinya dengan orang lain. Penampilan fisik, jumlah followers, pencapaian akademik, karier, hingga cara menjalani hidup sering kali menjadi ukuran nilai diri. Akibatnya, banyak orang lebih sibuk membangun citra daripada memahami siapa dirinya sebenarnya.

Jean-Paul Sartre, filsuf eksistensialis asal Prancis, menjelaskan bahwa manusia pada dasarnya bebas menentukan siapa dirinya. Namun, kebebasan itu justru sering ditinggalkan karena manusia lebih memilih menjadi apa yang diharapkan lingkungan. Sartre menyebut keadaan ini sebagai bad faith atau mauvaise foi.

Bad faith bukan berarti seseorang sengaja berbohong kepada orang lain, melainkan berbohong kepada dirinya sendiri. Seseorang mengetahui apa yang sebenarnya ia inginkan, tetapi memilih menyembunyikannya demi diterima, dihargai, atau sekadar menghindari penolakan. Lama-kelamaan, identitas yang dijalani bukan lagi lahir dari pilihan pribadi, melainkan dari tuntutan sosial.

Melalui sudut pandang ini, lagu Messy terasa seperti gambaran seseorang yang mulai lelah menjalani kehidupan yang bukan miliknya. Ia terus berubah mengikuti keinginan orang lain hingga kehilangan ruang untuk menerima dirinya sendiri. Yang paling menyakitkan bukan karena ia “berantakan”, tetapi karena ia dibuat percaya bahwa dirinya memang tidak pernah cukup.

Ironisnya, budaya saat ini sering membungkus tekanan tersebut dengan istilah self-improvement. Tidak sedikit orang yang mengira bahwa mencintai diri berarti terus memperbaiki diri tanpa henti. Padahal, tidak semua keinginan untuk berubah berasal dari kebutuhan pribadi. Ada kalanya perubahan dilakukan semata-mata agar mendapat validasi dari orang lain.

Bukan berarti manusia tidak perlu berkembang. Sartre juga tidak menolak perubahan. Yang ia persoalkan adalah ketika perubahan itu dilakukan karena manusia menyerahkan kebebasannya kepada standar yang dibuat orang lain. Dalam kondisi seperti itu, seseorang memang tampak hidup, tetapi sesungguhnya ia sedang menjalani kehidupan yang dipilihkan untuknya.

Di sisi lain, menerima diri bukan berarti berhenti berkembang. Menerima diri berarti mengakui bahwa nilai seseorang tidak hanya ditentukan oleh seberapa sempurna ia di mata orang lain. Justru dari penerimaan itulah perubahan yang autentik dapat dimulai yaitu perubahan yang lahir dari kesadaran, bukan dari rasa takut ditolak.

Lagu Messy akhirnya mengingatkan kita bahwa persoalan terbesar manusia modern mungkin bukan tentang menjadi sempurna, melainkan tentang merasa harus selalu cukup di hadapan semua orang. Padahal, sebagaimana diingatkan Sartre, tidak ada satu pun orang lain yang berhak menentukan makna hidup kita. Kebebasan memang membawa tanggung jawab, tetapi di situlah letak kesempatan manusia untuk hidup secara autentik.

Mungkin, yang paling kita butuhkan hari ini bukanlah menjadi versi diri yang disukai semua orang. Melainkan keberanian untuk bertanya kepada diri sendiri: apakah kehidupan yang sedang aku jalani benar-benar merupakan pilihanku, atau hanya cerminan dari harapan orang lain?

Karena selama hidup dijalani hanya demi memenuhi ekspetasi orang lain, kita tidak akan pernah benar-benar merasa cukup.

(Visited 1 times, 1 visits today)
*) Penulis adalah mahasiswa Program Studi Psikologi, Universitas Pendidikan Indonesia. Penulis merupakan pihak eksternal LPM Perspektif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Pikir

Iklan

E-Paper

Popular Posts

Apa yang kamu cari?