Lompat ke konten

Segeralah Mati dengan Nama Anonim yang Kau Rawat

Oleh: Salwa Aulia Putri*

Langkah kaki Damar Sadewa menggerus kerikil basah di selasar Fakultas Hukum ketika sore mulai meluruh. Langit di atas tajuk pohon angsana tampak kelabu dan mendung pekat, menyimpan hawa dingin yang perlahan merayap ke koridor. Dari balik pintu ruang dekanat yang hangat dan berpendingin udara, ia baru saja melangkah keluar membawa seonggok kompromi. 

Dahulu, almarhum ayahnya menyematkan nama Damar Sadewa dengan doa yang teramat luhur. Damar berarti pelita, obor penerang di tengah kegelapan. Sadewa diambil dari putra Pandawa yang paling bijak, jujur, dan pantang berkhianat pada kebenaran. Orang tuanya berharap ia tumbuh menjadi pelita kejujuran yang menerangi kepalsuan dunia. Namun malam ini, di bawah koridor kampus yang basah, nama itu terasa bagai ejekan yang menyiksa batinnya. 

Gema suara Pak Wakil Dekan III masih terngiang di kepalanya, disampaikan dengan nada datar tanpa nada ancaman yang kentara layaknya seorang politisi ulung yang tengah bersandiwara. 

“Damar, kamu itu Pemred, Pemimpin Redaksi. Jabatan itu ada hitungan tanggung jawabnya. Kalau lembaga ini pincang cuma gara-gara satu naskah emosional, kamu yang berdiri paling depan. Kita ini sedang menata, bukan merusak. Paham maksud Saya?” 

Pria paruh baya itu tidak membentak. Ia hanya mengetuk-ngetuk berkas proposal bantuan operasional penerbitan pers mahasiswa sebesar empat puluh juta rupiah di atas meja kaca. Di sampingnya, Pak Wardhana, seorang dosen yang kemeja batik sutranya selalu licin dan menebar senyum paling ramah se-fakultas, duduk bersedekap sambil mengangguk-angguk kecil bagai patung porselen yang bernapas. 

“Nama baik fakultas ini taruhannya, Damar,” sela Pak Wardhana dengan suara berat yang mengayun lembut. “Jangan sampai semangat muda kalian yang berapi-api justru dimanfaatkan oleh pihak luar untuk menjatuhkan institusi kita sendiri.” 

Damar tidak menyanggah. Pelita di dalam dadanya seolah redup seketika. Ia hanya memberikan kepastian ringkas bahwa edisi buletin Justisia tetap dicetak dan dibagikan esok pagi tanpa kegaduhan.

Ia berjalan menembus pendar remang lampu selasar menuju ruang redaksi di ujung Gedung A. Selasar lantai tiga itu selalu menyimpan aroma yang sama, perpaduan antara kertas tua yang lapuk, bau ubin semen basah, dan hawa dingin yang tak pernah hilang. Di sana, Joko, pria bertubuh kurus yang bertugas menyusun tata letak naskah, sedang duduk menjuntai di depan monitor tabung cembung. Asap rokok klobot murah yang dihisapnya membumbung tinggi. 

“Bagaimana, Mar? Lolos?” tanya Joko tanpa menoleh dari layar monitor yang mendengung. Damar melempar map cokelat ke atas meja kayu yang lapuk. “Ganti. Ubah naskahnya.” 

Joko menghentikan jarinya di atas papan ketik hitam. Ia menoleh perlahan. “Maksudmu, Mar? Draf ini sudah mengendap seminggu dan bukti dari korban sudah lengkap. Kenapa mendadak diganti?” 

“Hapus nama Pak Wardhana,” kata Damar datar sambil melabuhkan tubuh di atas kursi putar yang busanya sudah koyak. “Ganti jadi oknum anonim, atau balik sudut pandangnya jadi isu transparansi tata kelola akademis.” 

Joko tertawa pendek, namun wajahnya mengeras bagai batu cadas. “Leluconmu garing, Mar. Rara mempertaruhkan nyawanya tiga bulan untuk liputan ini. Dia bolak-balik menemui korban yang gemetaran setiap kali mendengar derap sepatu di koridor. Kamu mau menguburnya jadi isu transparansi? Kamu sudah tidak waras?” 

“Kamu mau redaksi kita disegel besok pagi?” suara Damar membentak, memecah pengapnya ruangan. “Uang cetak kita disandera! Proposal hibah melayang! Kalau organisasi ini dibubarkan rektorat, kawan-kawan yang lain mau dapat apa? Kamu mau kita semua didepak dari kampus cuma demi berpura-pura jadi pahlawan untuk satu artikel?” 

Di luar jendela, rintik gerimis mulai menetes satu demi satu menghantam dedaunan angsana. Joko terdiam cukup lama. Ia menyulut sebatang rokok, memandang Damar seolah sedang berhadapan dengan orang asing, seperti sedang mengeja kembali garis wajah lelaki di hadapannya. 

“Ooh…” Joko mengangguk-angguk pelan, tersenyum getir. “Aku paham. Kamu hanya sedang menyelamatkan lehermu sendiri, kan, wahai Tuan Pemred?”

“Jok, kamu pikir gampang berdiri di posisi ini?” desis Damar pelan, menahan getar di kerongkongan. “Aku harus memikirkan nasib belasan anggota di redaksi!” 

“Mau gampang mau tidak, kamu yang pegang kendali,” potong Joko dingin. “Jadi Pemred itu bukan sekadar duduk di kursi pimpinan rapat, Mar. Kamu stasiun terakhirnya. Keberanian kita, keberanian Rara, dan air mata korban, semuanya berhenti di mejamu. Nama bagusmu itu cuma pajangan, Mar. Kamu cuma lagi pamer keahlian mencari alasan saat nuranimu mati.” 

Damar bungkam. Ia meraih jaket parasutnya dengan tangan gemetar, mengenakan helm, dan bergegas menerobos gerimis malam sebelum makian Joko pecah memenuhi ruangan. 

Damar butuh melarikan diri dari bayang-bayang busuk di kepalanya. Motor bebek tuanya melaju memotong kegelapan malam menuju warung kopi Ipung di pinggir jalan raya luar kampus. Tempat itu remang, pekat oleh asap rokok dan riuh suara knalpot, dengan aroma kopi tubruk yang cukup tajam untuk membunuh rasa mual di perutnya. 

Baru saja ia meletakkan helm di bangku kayu, telepon genggam di saku celananya bergetar bertubi-tubi. Layar ponsel yang retak itu menyala, menampilkan rentetan pesan singkat dari Rara yang merangsek masuk tanpa henti. 

Kak Damar, kenapa nama Pak Wardhana di draf disket yang diisi Mas Joko berubah? Kak, ini maksudnya apa? Kenapa jadi Oknum Anonim? 

Kak Damar, angkat teleponnya! Korban menangis histeris mendengar kabar ini! 

Bulu kuduk Damar meremang. Belum sempat ia mencerna runsing pikiran itu, sebuah pesan baru menyusul dari nomor tak dikenal, nomor yang tak tersimpan di kontak ponselnya, namun menyuarakan firasat kelam dari masa lalu 

Pemimpin redaksi memang selalu tahu cara memadamkan api. Kau sedang memadamkannya malam ini, Damar Sadewa? Kau tidak akan pernah bisa lari dari pilihan yang kau buat. 

Damar tertegun, menatap nanar layar ponselnya. Tidak ada siapapun di warkop remang itu yang memperhatikannya; para pengunjung lain hanya sibuk dengan rokok dan cangkir mereka masing-masing.

Melihat Damar datang menghambur dengan muka pucat dan napas memburu, Ipung, senior angkatan tua yang kini mengelola warkopnya sendiri, langsung meracik kopi tubruk tanpa bertanya. Bagi Ipung, muka panik anak muda yang datang malam-malam cuma berarti dua hal: kalau bukan urusan skripsi, ya masalah politik kampus. 

Ia mengangsurkan cangkir seng itu ke meja Damar, lalu menyulut rokoknya saat kembali berdiri santai di balik meja seduh. 

“Wajahmu seperti buronan rektorat, Mar,” celetuk Ipung. “Kenapa? Dosen pembimbingmu rewel lagi?” 

“Politik kampus, Bang. Bikin pusing,” tukas Damar singkat, menyembunyikan getar suaranya di balik tegukan cepat kopi pekat tersebut. 

Denting! Ponselnya bergetar lagi di atas meja. Pesan baru dari nomor tak dikenal itu muncul kembali 

Bicara dan carilah pembenaran semaumu. Namun pada akhirnya, kau harus menanggung rasa bersalahmu sendiri. 

Keringat dingin membasahi pelipis Damar. Ipung yang berdiri di balik meja seduh memandangnya sekilas, lalu kembali menghembuskan asap rokok. 

“Biasa, anak muda memang sukanya yang serba mutlak,” ucap Ipung enteng. “Tapi dari dulu di mana-mana pilihannya cuma dua, Mar. Kamu mau idealis tapi hancur sendirian, atau kompromi biar kamu selamat. Mengalah itu bukan kalah, Mar. Itu cuma strategi bertahan hidup.” 

Damar menatap endapan bubuk kopi di dasar cangkir. Mengalah itu bukan kalah. Kalimat asal-asalan dari mulut Ipung itu terasa bagai cadar tipis yang menutupi kebusukannya. Sangat menenangkan untuk seorang penakut yang sedang haus akan pembenaran moral. 

“Saya tidak menjual prinsip, Bang,” kata Damar setengah berbisik pada angin malam. “Saya cuma menyelamatkan banyak orang agar organisasi ini tetap bernapas.” 

“Nah, kalau kamu bisa tidur nyenyak malam ini dengan alasan itu, berarti keputusanmu tidak salah,” jawab Ipung enteng tanpa benar-benar menyimak, lalu berbalik meracik pesanan mi rebus milik pelanggan lain.

Tidur nyenyak? Jangankan tidur, rasa bersalah dari pesan-pesan Rara dan rentetan kalimat dingin dari nomor anonim itu merayap perlahan bagai bisa yang melumpuhkan sendi-sendinya. 

Ponselnya terus bergetar tanpa henti menampilkan panggilan masuk dari Rara yang tak sanggup ia angkat. 

Damar mematikan ponselnya dengan tangan gemetar, lalu membenamkan wajah di atas meja kayu yang bernoda jelaga dan bercak lingkar gelas kopi. Teror terhebat ternyata bukan ancaman dari dekanat atau bayangan misterius yang bergentayangan di lorong gelap. Teror paling mencekam adalah gema suara kecewa dari orang-orang yang menyerahkan nasib dan kepercayaan padanya, sementara ia sadar betul dirinya sendiri yang baru saja menjagal harapan itu tanpa berkedip. Kalimat-kalimat kekecewaan itu terus berdengung di rongga kepalanya, berdenyut seirama dengan detak jantungnya yang membabi buta, menjelma wujud asing yang pelan-pelan meremas dadanya hingga pasokan udara terasa kian menyempit. Ada rasa mual yang meluap dari pangkal tenggorokan, sebuah penolakan tubuh atas keputusannya sendiri yang amat kotor. 

Menjelang pukul sebelas malam, sebelum satpam mengunci gerbang utama, Damar kembali ke ruang redaksi. Kampus sudah lengang. Lampu koridor berkedip, memiringkan bayangan tiang beton yang dingin. 

Pintu redaksi tak tertutup rapat. Joko baru saja pergi. Di dalam, lampu meja berpendar redup. Di atas meja cetak, tumpukan seribu eksemplar buletin Justisia edisi terbaru tertata rapi, siap disebar besok pagi pada perhelatan mahasiswa baru. 

Damar mendekat dengan napas tersengal. Ia mengambil satu lembar teratas. 

Halaman depan masih berbau tinta basah. Judul utamanya tercetak tegar ‘DESAK TRANSPARANSI, REDAKSI SOROTI OKNUM ANONIM DI BALIK DUGAAN PELANGGARAN ETIKA.’ 

Nama Pak Wardhana telah tiada. Detail kejahatan dilenyapkan, diganti narasi elok yang aman, dan direstui dekanat. 

Denting! Ponsel di sakunya bergetar.

Seribu eksemplar kebohongan. Hasil karya seorang Pemred bernama Damar Sadewa. 

Damar menghembuskan napas panjang, mencoba mengabaikan teror tak berwujud itu. Ada rasa lega yang amat pekat menyusup ke rongga dadanya. Beres, bisik batinnya. Redaksi selamat. Uang empat puluh juta cair. Ia bisa menyelesaikan skripsi tanpa hambatan. Rara mungkin akan membencinya beberapa pekan, namun kelak perempuan itu akan paham bahwa begitulah hukum alam memutar roda kehidupan. 

Tiba-tiba, hawa ruangan berubah dingin menyengat. 

Ponselnya bergetar lagi, bukan satu, tapi lima kali berturut-turut. 

Dia ada di balik pintumu. 

Dia membawa luka yang kamu pelihara. 

Buka mata, Damar. 

Dengarkan suara yang dulu kamu bungkam. 

Pelita yang padam tidak akan pernah bisa bersembunyi. 

Selasar di luar berderit. Derap langkah terseret mendekat. Damar menoleh cepat, merasakan teror merayap di tengkuknya. 

Rara berdiri di ambang pintu, di batas kegelapan koridor dan pendar kusam redaksi. Matanya sembab, bibirnya pucat, dan kemejanya basah disiram gerimis. Jemarinya menggenggam erat bendel naskah asli penuh coretan tinta merah. Di tangan sebelahnya, layar ponsel Rara berkedip terang. 

Damar terperanjat. “Ra… kamu yang ngirim pesan-pesan itu?” 

Rara melangkah masuk tanpa menjawab, membawa bau basah air hujan yang menusuk. Suasana ruangan mendadak menjadi sangat sunyi, terpisah dari deru hujan di luar. 

“Saya bisa jelaskan, Ra,” kata Damar, mencoba menata suaranya. “Ini keputusan taktis. Dekanat mengancam membekukan Justisia. Kita mengalah sejenak demi mempertahankan panggung. Mengalah itu bukan kalah, Ra.”

Rara berhenti tepat di depan meja. Tatapannya hampa. 

“Kak Damar tahu,” suara Rara berbisik bagai gema dari dasar sumur, “korban Pak Wardhana bukan cuma mahasiswi angkatan baru.” 

Damar mematung. “Maksudmu?” 

“Dia sudah melakukan hal biadab itu bertahun-tahun,” Rara meletakkan naskah di meja. “Tapi beritanya tidak pernah lolos karena Pemred Justisia dari masa ke masa selalu memilih mengalah.” 

Dada Damar terasa disergap sesak yang mencekik. “Apa yang kamu bicarakan, Ra? Pemred sebelum kita itu senior-senior terhormat” 

“Senior terhormat?” potong Rara dengan tawa kering yang mengerikan. “Dua tahun lalu, seorang mahasiswi Hukum yang juga wartawan di ruangan ini mendatangi Pemred masa itu. Dia membawa pakaian fisiknya yang robek dan berkas kesaksian tentang apa yang terjadi di ruang baca lantai tiga. Tapi Pemred-nya berkata, ‘Demi masa depan organisasi, kita tutup mulut dan mengalah dulu.” 

Otaknya berputar liar. Narasi senior pers yang selalu mengagungkan “kompromi demi kelangsungan organisasi” mendadak runtuh menjadi kebohongan yang menjijikkan. Pemred sebelum Damar telah melakukan hal yang sama. Mereka semua bertekuk lutut, menerima kesepakatan di bawah meja, lalu mewariskan dongeng pembenaran yang sama kepada adik-adik tingkat mereka. 

Dulu, saat mereka baru bergabung di redaksi, Arimbi, perempuan yang amat Damar cintai menghilang secara mendadak. Mereka berproses bersama di Justisia, bermimpi mengubah kampus lewat tulisan. Namun di pertengahan jalan, saat Damar masih menjadi staf biasa, Arimbi memutus kontak sepenuhnya, mengundurkan diri, dan menghilang tanpa kabar. Di balik jabatannya kini, Damar hidup mengutuki diri sendiri, bertanya-tanya kejahatan apa yang telah ia perbuat hingga Arimbi tega meninggalkannya. 

Rara menatap kedalaman mata Damar tanpa berkedip. Wajahnya yang basah tampak kian pucat di bawah remang lampu.

“Kak Damar,” bisik Rara, suaranya menusuk lurus ke jantung Damar, “Mbak Arimbi tidak pernah meninggalkan Kakak karena masalah keluarga atau karena dia berhenti mencintai Kakak.” 

Pandangan Damar mengabur. Tangannya memutih dan gemetar hebat. “Ra… jangan bicarakan Arimbi…” 

“Mbak Arimbi pergi karena malam itu dia sadar,” Rara merapat mendekati meja, menyodorkan wajahnya yang diselimuti bayang-bayang pekat, “kasus kekerasan seksual yang dialaminya dari Pak Wardhana dibungkam oleh Pemred sebelum Kakak. Dan Kak Damar… bukannya mencari tahu kebenarannya, Kakak justru memuja cara Pemred pengecut itu memimpin, lalu mengulanginya malam ini.” 

Di mana Damar Sadewa saat bencana itu terjadi dulu? 

Malam itu, Damar sedang berada di kamar kosnya, sibuk menyusun draf program kerja dan memimpikan masa depan indah bersama Arimbi. Ia sama sekali tidak ada di ruangan ini. Ia tidak pernah tahu bahwa di ubin dingin inilah Arimbi dihancurkan sendirian. 

Ia tidak pernah tahu bahwa malam itu, Pemred senior yang amat diagungkannya duduk di kursi ini, menggenggam spidol hitam besar demi menyelamatkan organisasi. Di depan mata Arimbi yang hancur, Pemred itu mencoret nama Pak Wardhana dari draf. Dan saat Arimbi dipaksa bungkam, Damar justru sedang tidur lelap, dibutakan oleh rasa percaya yang polos kepada seniornya. 

Besoknya, saat Arimbi menghilang, Damar menelan bulat-bulat kebohongan sang Pemred bahwa Arimbi putus kuliah karena urusan keluarga. Damar tidak pernah bertanya atau curiga. Ia justru melangkah bangga menggantikan posisi Pemred pengecut itu, mengagumi pragmatisme sang senior, dan mengadopsi cara kotor itu sebagai kitab suci kepemimpinannya. 

Damar bukan pelita penunjuk jalan, melainkan ketiadaan cahaya yang merawat kegelapan. Ia bukan Sadewa yang bijaksana, melainkan pengecut bodoh yang bertahun-tahun memuja algojo dari wanita yang paling dicintainya. 

“Kakak ingat sekarang?” suara Rara memutus rekonstruksi horor di kepala Damar. “Mbak Arimbi dibungkam oleh Pemred sebelum Kakak. Dan bukannya membongkar kejahatan itu

saat memegang kekuasaan, Kakak justru menyembah cara Pemred pengecut itu. Kakak mengulangi dosa yang sama malam ini.” 

Damar tersungkur dari kursinya. Lututnya menghantam ubin semen. Kepalanya terkulai di tepi meja. Air matanya meletup panas, membasahi buletin edisi terbaru bertuliskan ‘OKNUM ANONIM.’ 

“Arimbi…” rintih Damar, dadanya sesak. “Arimbi… Tuhan… apa yang sudah kubuat…” 

“Mbak Arimbi tidak pernah keluar dari kota ini,” kata Rara, suaranya mengalun bagai bisikan dari alam lain. “Dia mengontrak di kamar sempit di pinggiran rel kereta api, bekerja sebagai buruh cuci untuk menyambung hidup. Pesan-pesan teror di ponselmu tadi… itu semua dikirim dari nomor Mbak Arimbi yang mengetiknya sendiri sambil menangis di gubuknya. Sewaktu tahu Kak Damar naik menjadi Pemred, dia sempat menyimpan secercah harapan kecil. Dia berpikir nama Damar Sadewa yang Kakak sandang bukan cuma hiasan. Dia berharap laki-laki yang pernah dicintainya punya keberanian untuk menjadi pelita kebenaran dan menghancurkan Pak Wardhana. Tapi setiap kali buletin terbit di koridor kampus, dia selalu mendengarku membawa kabar yang sama. Kakak selalu memilih berita aman, kompromi, dan nama-nama oknum anonim.” 

Dada Damar serasa dihantam cengkeraman ketakutan yang pekat. 

Rara merogoh saku kemeja basahnya, mengeluarkan amplop cokelat kecil yang lecek, lalu meletakkannya di hadapan Damar. 

“Kemarin malam aku membawa draf terbaruku ke kontrakannya,” bisik Rara di ambang pintu. “Aku bilang, Kak Damar pasti menerbitkan berita ini. Tahu apa yang Mbak Arimbi katakan? Dia cuma tersenyum pahit. Dia bilang Damar tidak pernah tahu apa-apa. Dia bukan pelita, cuma pemuda polos penakut yang memuja jejak seniornya. Mbak Arimbi menitipkan amplop ini. Dia bilang jika malam ini Kakak menyuruhku mengalah lagi, berikan amplop ini padanya.” 

Rara berbalik, melangkah keluar menembus hujan malam, lenyap ditelan kegelapan selasar. Damar sendirian.

Dalam remang lampu, tangannya gemetar merobek amplop cokelat lecek itu dengan napas memburu, seolah sedang membuka surat vonis bagi nuraninya sendiri. 

Di dalamnya ada tiga benda: cincin perak berkarat, potongan kliping koran lama penuh coretan spidol hitam, serta selembar surat. Di bawah coretan hitam pada kliping dan lembaran surat itu, tulisan tangan Arimbi membakar mata Damar. 

Aku kembalikan cincin ini, bersama sisa impian kita yang mati membusuk di ubin dingin ruang redaksi malam itu. Dulu, aku percaya namamu adalah doa luhur, Damar Sadewa, pelita kebenaran yang tak akan bertekuk lutut pada kejahatan. Namun, kamu sendiri yang memilih memadamkan cahaya itu, menukarnya dengan keselamatan semu yang hina. 

Kamu tidak hanya membiarkan namaku dan penderitaanku dicoret dari draf buletin. Kamu juga membiarkan kejahatan Pak Wardhana terus berulang, membiarkan korban-korban baru berjatuhan di bawah naungan ketakutan yang kamu pelihara. Dengan berlindung di balik alasan “demi organisasi”, kamu telah mencoret dirimu dari daftar manusia yang memiliki nurani. 

Kamu tak lagi punya panggung untuk berpihak. Kamu hanya pengecut yang bertahun-tahun memuja jejak algojoku sendiri. 

Simpanlah buletin palsu itu. Rayakan kemenanganmu bersama dekanat di atas air mata korban. Namun ingatlah, setiap kali bercermin, kamu hanya akan melihat bayangan tanpa jiwa. Segeralah mati dengan nama anonim yang kau rawat. 

Layar ponselnya memancarkan pendar biru kusam di tengah lampu remang ruang redaksi, menampilkan satu kalimat dari nomor Arimbi. 

Selamat malam, Tuan Anonim. Kebohonganmu sudah lengkap. 

Damar mematung, meremas ponsel itu hingga jemarinya memutih, menyadari bahwa setiap kebohongan yang ia cetak malam ini telah sampai ke tangan orang yang paling ia hancurkan. 

Tepat pukul dua belas malam, lampu ruang redaksi mendadak padam total, dipadamkan dari panel utama oleh satpam kampus yang mulai mensterilkan Gedung A. 

Kegelapan pekat menyergap ruangan saat listrik mati total. Damar tersungkur di atas ubin semen yang membeku. Di sekelilingnya, tumpukan buletin seribu eksemplar terasa meninggi,

mengapit tubuhnya bagai deretan batu nisan. Bau tinta cetak basah mendadak menguap, berganti aroma hanyir dan pembusukan yang meluap dari dasar lantai. 

Ruang redaksi itu menyempit, memeras sisa udara keluar dari paru-parunya. 

Damar menganga di tengah kegelapan. Teror yang merayap di tengkuk membakar dadanya bagai lahar dingin. Ia ingin berteriak. Ia ingin menjerit memanggil nama Arimbi sampai dinding beton ini runtuh, mengutuki Pak Wardhana, sistem, dan kebodohannya sendiri. 

Namun, tidak ada suara yang keluar. 

Kerongkongannya tersumbat tebal, seolah dipenuhi seribu lembar kertas kompromi yang ia cetak sendiri. Hukuman paling biadab bagi seorang juru kata bukanlah penjara atau siksaan fisik, melainkan dikunci dalam kegelapan, sadar penuh atas kebusukan jiwanya, dan kehilangan suara saat ia paling butuh menjeritkan penyesalan. 

Di luar selasar, derap sepatu lars petugas keamanan terdengar mendekat. Slot besi pintu utama didorong dari luar, dikunci rapat, lalu dipasangi rantai gembok yang berdenting berat. Aksesnya menuju dunia luar resmi terputus. 

Damar bersimpuh di tengah ruangan yang membeku, meremas cincin perak berkarat, surat ucapan selamat tinggal, dan buletin palsu di dadanya. Di luar, hujan terus mengguyur malam, membilas selasar dan dinding-dinding beton. Namun Damar tahu, sampai kapan pun, air hujan tak akan pernah sanggup membersihkan tinta hitam yang telah mengotori jiwanya sebab pers mahasiswa tidak pernah dibunuh oleh dekanat, ia mati pada malam ketika seorang juru kata menukar penderitaan korban demi sepiring keselamatan, membungkam idealismenya sendiri, lalu pulang ke rumah sebagai bangkai.

(Visited 1 times, 1 visits today)
*) Naskah ini merupakan Juara 2 Sayembara Cerpen dalam rangkaian kegiatan Malam Sastra LPM Perspektif 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts

Apa yang kamu cari?