Lompat ke konten

PASAR KLIWON 

Oleh: Naila Jasmine *

“Tiga pantangan, Mbak,” kata Pak Warno, tanpa menoleh dari kopinya. Basecamp Gunung Sirna malam itu berbau kayu basah dan mi rebus. Di dinding papan tergantung sebuah kalender bergambar gunung, dan tanggal hari ini dilingkari spidol merah: Jumat Kliwon. 

“Tiga?” Sekar, adik Wening, menyeringai sambil mengikat tali sepatunya. “Kirain sepuluh. Biasanya penjaga basecamp suka nambah-nambahin.” 

“Sekar,” Wening menegur pelan. Kejengkelannya berwarna kuning mustard, warna yang selalu muncul kalau adiknya membuka mulut di depan orang tua. Pak Warno akhirnya menatap mereka. Matanya keruh, tapi tidak bercanda. “Satu. Kalau ada yang manggil namamu di jalan, jangan nyahut. Dua. Kalau ada yang nawarin apa pun, jangan diterima, jangan dibeli, jangan dimakan. Tiga.” Ia berhenti sebentar. “Kalau kalian dengar orang tawar-menawar di atas sana, tutup kuping dan jalan terus. Jangan noleh.” 

“Tawar-menawar,” ulang Sekar. “Maksudnya pasar? Pasar setan?” 

“Saya nggak bilang begitu.” 

“Pak, itu kan legenda buat nakut-nakutin turis.” 

Pak Warno diam agak lama. Lalu ia berkata, tenang seperti orang membicarakan cuaca, “Tahun lalu ada pendaki turun bawa kain kafan di ranselnya. Nggak ada yang ngasih. Nggak ada yang tahu dari mana.” 

Kelabu logam merambat di dada Wening. Warna ketakutan, dingin seperti sendok yang dijilat di musim hujan. 

“Kita pulang aja, ya?” katanya. 

“Mbak Wen.” Sekar merangkul lengannya dengan gaya yang selalu berhasil. “Sudah bayar simaksi. Sudah cuti tiga hari. Lagian, kalau ada pasar setan, aku mau lihat. Siapa tahu jual sepatu diskon.” 

Wening menatap adiknya, lalu kalender berlingkar merah, lalu Pak Warno yang kembali menunduk pada kopinya. 

Ia seharusnya bilang tidak. Ia tahu itu, bahkan sebelum ia menghela napas dan menggendong ranselnya. 

*** 

Kabut menelan mereka di pos tiga.

Bukan kabut biasa. Tebal, hangat, dan berbau sesuatu yang manis. Senter mereka hanya mampu menembus dua langkah. Jam di ponsel Wening menunjukkan 23.58, dan entah kenapa, angka itu tak berubah selama sepuluh menit. 

“Mbak,” bisik Sekar. “Dengar itu?” 

Wening menahan napas. 

Dari kejauhan, dari balik kabut, terdengar sesuatu yang bukan angin. Bunyi orang-orang. Banyak sekali, menyatu jadi dengung lembut seperti lebah dalam sarang. Di antaranya terselip potongan kalimat, jelas sekali, dalam bahasa Jawa yang sopan: “Pinten, Mbok? Kula tumbas kalih.” 

“Nggih, Nduk. Sekawan ewu mawon.” 

Gamelan mengalun jauh di belakang, lambat, sumbang. Bau kukusan beras, kelapa parut, dan gula merah menguar di antara pohon-pohon. 

“Jangan noleh,” kata Wening. “Jalan terus.” 

“Mbak, mereka jualan kelapa parut.” 

“Jalan.” 

Tapi kabut membelah di depan mereka seperti tirai yang ditarik dari kedua sisi. Dan di lereng yang seharusnya kosong, tersusun ratusan lampu minyak kecil, jingga, bergoyang. Deretan lapak bambu beratap terpal. Tikar-tikar terbentang, tumpukan sayur, tampah berisi jajan, kain batik bergantungan seperti bendera. Ratusan sosok bergerak di antaranya, menawar, tertawa, berbisik. 

Pasar. Di ketinggian dua ribu meter. Pada tengah malam. 

“Oh,” kata Sekar, sangat pelan. “Ternyata beneran.” 

*** 

Mereka tidak berniat masuk. Tapi jalur setapak mereka melewati pasar itu, tidak ada jalan lain, dan setiap kali Wening mencoba menyimpang, tanah di bawah kakinya menggiring mereka kembali ke lorong lampu. 

“Kita lewat cepat aja,” bisiknya. “Nggak usah lihat siapa-siapa. Nggak usah ngomong.” 

Tapi ia tidak bisa berhenti melihat. 

Sosok-sosok itu tampak seperti orang biasa dari jauh. Petani, ibu-ibu berkebaya, lelaki tua berikat kepala. Tapi dari dekat, sedikit demi sedikit, ada yang keliru. Kaki seorang penjual bakso mengambang beberapa senti di atas tanah. Seorang perempuan berbaju kebaya putih duduk membelakangi mereka, menjual bunga melati, rambutnya menjuntai sampai ke lantai

tikar dan terus tumbuh perlahan. Di pojok, sesuatu terbungkus kain putih meloncat-loncat dengan sabar, menawarkan seprai kepada siapa pun yang lewat. 

“Sekar,” Wening menggigit bibir. “Jangan berhenti.” 

“Aku nggak berhenti.” 

“Kamu lagi berhenti.” 

Sekar memang berhenti, di depan lapak seorang nenek dengan rambut putih disanggul tinggi. Di atas tampah bambu, tersusun rapi bola-bola hijau berkilau, klepon, menguarkan uap yang manis dan hangat. 

“Klepon, Nduk?” Nenek itu tersenyum. Giginya kecil dan rapi, terlalu rapi. “Hangat. Baru diangkat.” 

“Sekar,” desis Wening. “Pantangan kedua.” 

“Cuma lihat, Mbak.” Tapi tangan Sekar sudah merogoh saku. “Berapa, Mbok?” “Seribu.” 

“Seribu?” Sekar tertawa kecil. Ia menaruh sebuah koin di telapak nenek itu, koin lusuh yang tadi ia temukan di jalan, dan menerima satu klepon. 

“Jangan dimakan,” Wening menarik lengannya. 

Terlambat. Sekar sudah menggigitnya. Cairan gula merah meleleh di bibirnya. Ia terdiam. Matanya membesar. 

“Mbak,” katanya pelan. “Ini enak banget. Ini rasanya kayak… waktu kita kecil.” Nenek itu mengangkat koin yang tadi diberikan Sekar, dan menggigitnya, seperti pedagang memeriksa keaslian uang. Lalu ia membuka telapak tangannya. Sebuah daun jati kering menggeliat di sana. 

Suasana pasar berhenti. 

Bukan perlahan. Seketika, seperti seseorang menekan tombol. Gamelan berhenti di tengah nada. Dengung suara lenyap. Ratusan wajah menoleh, satu per satu, ke arah kakak-beradik itu. 

“Pembeli,” bisik seratus mulut sekaligus, “yang bayar pakai daun.” 

*** 

Yang pertama kali bergerak adalah rambut. 

Rambut perempuan bunga melati itu menyapu tanah seperti ular hitam, melilit pergelangan kaki Sekar. Sekar menjerit dan jatuh, klepon terlempar dari tangannya. Wening menarik adiknya dengan kedua tangan. 

“Lepasin! Lepasin dia!”

Penjual bakso melayang mendekat. Sosok berkain kafan meloncat-loncat, cepat, jauh lebih cepat dari yang seharusnya mungkin. Lampu-lampu minyak menyala lebih terang, dan dalam cahayanya, wajah-wajah di sekeliling mereka meleleh menjadi sesuatu yang tidak lagi wajah. 

Wening menendang rambut itu. Tidak terasa apa-apa. Ia menendang lagi, dan sesuatu di dalam gelap berteriak, kulit menyobek. 

“Lari, Sekar!” 

Mereka lari. Wening menarik adiknya, sepatu menghantam tanah becek, pasar berkelebat di kiri-kanan, tawa dan bisikan dan tepuk tangan seperti hujan. Lalu mereka melihat jalan keluar: batas pasar, dua tiang bambu dengan kain merah di ujungnya, dan di baliknya, kegelapan biasa. Hutan biasa. Dunia yang normal. “Sedikit lagi!” 

Tangan Sekar terlepas dari genggamannya. 

Wening berbalik. Adiknya berada dua langkah di belakang, wajahnya putih, mata besar, dan di belakangnya, muncul sebuah pintu dari anyaman bambu yang tidak ada tadi. Sepasang tangan kurus dan panjang keluar dari celahnya, meraih pinggang Sekar. “Mbak Wen!” 

“Sekar!” 

Pintu itu menelan adiknya dan menutup dengan bunyi kayu berderit. 

Hening. Gamelan mulai lagi, pelan. Suara dengung kembali. Pasar kembali berdagang, seolah tidak ada apa-apa. 

Wening berdiri di sana, terengah. Lalu terdengar suara, lembut dan hangat, dari belakangnya. 

“Kamu bisa keluar sekarang, Nduk. Batasnya sudah dekat.” 

Ia menoleh. 

*** 

Nyai Pasar duduk di atas bangku kayu di tengah jalan pasar, seperti ratu di atas singgasana yang dibuat dari kursi tukang cukur. Ia tampak sangat tua dan sekaligus tidak tua, rambutnya perak, panjang sampai ke tumpukan tikar di kakinya. Ia mengunyah sirih, dan bibirnya merah seperti baru dicium darah. 

“Adikku,” kata Wening. Suaranya gemetar. “Kembalikan.” 

“Adikmu mengambil dagangan dan membayar dengan daun.” Nyai tersenyum. “Di pasar ini, yang membayar dengan daun jadi dagangan. Itu aturan, bukan dendam.” “Dia nggak tahu.”

“Semua pembeli bilang begitu.” Nyai meludah sirih ke tanah, dan tanah itu menghisapnya. “Tapi aku ini pedagang yang adil, Nduk. Bukan pendendam. Kutawarkan satu penawaran.” 

“Apa?” 

“Ayam berkokok itu tanda pasar tutup. Sebelum ayam berkokok, kau boleh mengambil satu adikmu.” Ia menjentikkan jari. “Silakan, pilih.” 

Tirai bambu di belakangnya tersingkap. 

Lima kursi kayu berderet. Di masing-masing duduk seorang gadis dengan jaket abu-abu, rambut kuncir kuda, sepatu lumpur, wajah yang sama. 

Sekar. Lima Sekar. 

“Adikku cuma satu,” kata Wening, dingin merambat di tulang punggungnya. “Di pasar ini, apa pun bisa ditiru, Nduk. Yang asli hanya satu.” Nyai tertawa, dan tawanya seperti butiran pasir di dalam cangkir. “Pilih benar, kalian pulang. Pilih salah…” Ia mengangkat bahu. “Yang salah jadi dagangan, dan kau, sebagai pembeli yang cerewet, jadi pelanggan tetap.” 

“Aku boleh nanya?” 

“Sepuasmu. Sampai ayam berkokok.” 

Dan dari suatu tempat yang sangat jauh, sangat lirih, terdengar kokok pertama. *** 

Wening berdiri di depan lima gadis itu, dan jantungnya berdebar terlalu keras untuk berpikir. 

“Sekar nomor satu,” katanya. “Siapa namamu?” 

“Sekar Ayu Prameswari,” jawab gadis pertama. “Mbak Wen, cepat, aku takut…” “Nomor dua?” 

“Mbak!” Gadis kedua menangis, air mata meluncur di pipinya. “Mbak, aku nggak mau di sini! Bawa aku pulang!” 

Gadis ketiga tersenyum, kepala miring. “Halo, Mbak.” 

Gadis keempat diam, hanya menggigiti kuku. 

Gadis kelima bersenandung, nada sumbang, lagu yang selalu dinyanyikan Sekar saat gugup. 

Semuanya tampak benar. Semuanya bersuara benar. Semuanya, ia menyadari dengan ngeri, tahu segala yang Wening tahu. Nama lengkap, lagu kesukaan, kebiasaan menggigit kuku. 

“Apa kalian ingat waktu kita kecil, di rumah Simbah?” tanyanya.

“Aku jatuh dari pohon jambu,” jawab gadis pertama cepat. 

“Kita nyolong mangga tetangga,” kata gadis kedua sambil terisak. 

“Kamu janji nggak bakal ninggalin aku,” kata gadis ketiga. 

Semua jawaban itu benar. Terlalu benar. Wening memejamkan mata, dan sesuatu di dalam kepalanya mengendap pelan-pelan. 

Mereka cuma bisa meniru apa yang aku tahu. 

Jadi, aku harus bertanya sesuatu yang aku nggak tahu. 

Kokok kedua terdengar, lebih dekat. 

Ia membuka mata. Ia berdiri di depan kelima gadis itu, dan bertanya dengan suara yang lebih tenang dari yang ia duga: 

“Apa yang paling kamu benci dari aku?” 

Gadis pertama tersenyum manis. “Nggak ada, Mbak. Aku sayang Mbak.” Gadis kedua terisak. “Aku nggak pernah benci Mbak.” 

Gadis ketiga menunduk. “Mungkin… aku cuma iri sedikit.” 

Gadis keempat diam. 

Gadis kelima, yang bersenandung, berhenti, dan menatap Wening lurus. “Aku benci kamu selalu ngerasa harus nyelametin aku.” 

Suasana membeku. 

“Kamu nggak pernah tanya aku mau atau nggak,” lanjut gadis itu, suaranya bergetar, matanya merah. “Kamu selalu menghitung sisa, ngatur jalan, nyariin aku pulang. Aku bukan tanggung jawabmu, Mbak. Aku adikmu. Aku cuma pengin kamu percaya aku bisa jaga diri.” Ia menarik napas, tersengal. “Meski kamu bener. Aku bodoh. Aku beli klepon itu. Maafin aku.” 

Wening menahan tangis sampai dadanya sakit. 

Tidak ada tiruan yang sanggup mengatakan itu. Tiruan hanya berkata hal-hal yang ingin Wening dengar. Hanya Sekar yang asli bisa mengucapkan sesuatu yang menyakitkan. “Yang ini,” katanya, menunjuk gadis kelima. “Yang kelima.” 

Kokok ketiga meledak, keras, dan seluruh lampu minyak padam sekaligus. *** 

Jeritan meletus dari empat kursi lainnya. Empat wajah mencair, memanjang, menjadi topeng hitam berongga dengan mulut selebar kepala. Tangan-tangan panjang menyambar dari kegelapan.

“LARI!” Nyai menjerit, dan untuk pertama kali, suaranya bukan suara nenek-nenek. Suara itu berlapis, seratus perempuan bicara serempak. “SEBELUM PASAR TUTUP, DAGANGAN BOLEH DIAMBIL KEMBALI!” 

Wening menyambar tangan Sekar. Mereka berlari. 

Pasar berubah menjadi lorong maut. Lapak-lapak bambu runtuh di kiri-kanan, menghambur ke depan. Sosok berkain kafan meloncat dari kegelapan, mulutnya menganga, tanpa gigi. Rambut perempuan bunga menyapu tanah, menangkap pergelangan kaki, mencabut, menyeret. Di kejauhan, sesuatu yang sangat besar dan berbulu bergerak di antara pohon, dan baunya, bau kemenyan dan bangkai, membuat Wening ingin muntah. “Jangan noleh!” teriaknya. “Sekar, jangan noleh!” 

“Aku nggak noleh!” 

“Mbak Wen, di depan!” 

Dua tiang bambu dengan kain merah muncul. Batas pasar. Sepuluh meter. Lima. Rambut hitam membelit pinggang Wening dan menariknya mundur, kakinya terangkat dari tanah. 

“MBAK!” 

Sekar berbalik. Ia melempar sesuatu yang bersinar. Wening mengenalinya: senter kecil mereka. Sekar menghantamkan senter itu ke gulungan rambut sekuat tenaga, dan sesuatu di dalamnya menjerit, lalu melonggar. 

Wening jatuh di tanah. Ia bangkit. 

Kokok keempat, yang paling keras. 

Mereka menerobos di antara dua tiang bambu, dan seketika, semua suara mati. Pasar lenyap di belakang mereka, seperti gambar yang diseka dari kaca. Kabut menipis. Di langit timur, ada garis pucat berwarna jeruk. 

Fajar. 

*** 

Pak Warno sedang menyeruput kopi di depan basecamp ketika mereka muncul dari jalan setapak, basah kuyup, penuh lumpur, dan gemetar. 

Ia meletakkan gelasnya. Tidak berkata apa-apa. Hanya menyodorkan dua kursi plastik. 

“Mereka…” Wening terengah. “Pak, itu…” 

“Saya sudah bilang,” kata Pak Warno pelan. “Tiga pantangan.” 

“Dua kami langgar.” Sekar menunduk. Bibirnya pucat. “Aku… Pak, maaf.” Pak Warno menatapnya lama. Lalu ia bertanya, dengan nada yang lain, lebih hati-hati:

“Kalian bayar dengan apa?” 

Wening baru menyadari sesuatu berkerut di dalam genggaman tangan kirinya. Ia membukanya. 

Selembar kertas kuning tua, lusuh, dan hangat, seperti baru diangkat dari kukusan. Tinta hitam menulis dengan huruf sambung yang rapi: 

NOTA PASAR KLIWON 

Pembeli: Wening (atas nama Sekar) 

Barang: satu adik, kondisi utuh 

Dibayar: hutang 

Sisa: satu nama 

Jatuh tempo: Jumat Kliwon berikutnya, pukul dua belas malam. 

Tempat: seperti biasa. 

Di bawahnya, cap tinta merah berbentuk telapak tangan kecil. Telapak tangan Wening. Ia tidak ingat menandatangani apa pun. 

“Mbak.” Sekar menarik lengannya, wajahnya pucat pasi. “Mbak, apa itu?” Pak Warno berdiri pelan, memegang kertas itu dari tangan Wening dengan dua jari, seolah takut tersengat. Ia membaca sampai akhir. Lalu ia menutup mata, dan menghela napas yang terdengar seperti seluruh umur. 

“Tanggal berapa Jumat Kliwon berikutnya?” tanya Wening, suaranya nyaris tak ada. Pak Warno menoleh ke kalender di dinding. 

Tanggal yang dilingkari spidol merah itu, tiga puluh lima hari dari sekarang, tepat di ujung bulan depan. 

Jauh di dalam hutan, di balik kabut yang belum sepenuhnya hilang, seekor ayam berkokok sekali lagi, terlambat, seperti seseorang yang baru saja mengingat sesuatu. 

Tamat

(Visited 1 times, 1 visits today)
*) Naskah ini merupakan Juara 3 Sayembara Cerpen dalam rangkaian kegiatan Malam Sastra LPM Perspektif 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts

Apa yang kamu cari?