Satu langkah,
satu langkah lagi.
Lalu Mitski memanggilku dengan
menyanyikan potongan-potongan “Class of 2013”
dua ribu kali ke telinga kiriku.
Sisanya 23, mungkin 20, barangkali kurang
ke telinga satunya.
Setumpuk masa depan yang aku cetak
di kertas A4, menghabiskan ratusan ribu rupiah.
Hanya mengandung sepuluh saltik
di bagian judul, dan nama,
dan tahun, dan nomor induk,
dan nama perguruan tinggi—
terjatuh di genangan trotoar tak berpaving.
Warna genangan itu mengingatkanku
pada tiga setengah lusin
Kopi Jaya yang aku habiskan
selama mengetik masa depanku
yang sekarang sudah berwarna Kopi Jaya.
Kopi Jaya merendam hamburan kertasku
Satu langkah lagi, lalu
kakiku menginjak genangan Kopi Jaya
yang ternyata lebih dalam dari
sekadar genangan trotoar tak berpaving.
Aku jatuh tersungkur,
terendam di lautan Kopi Jaya





