Kita barangkali sedang dijangkiti semacam “anemia eksistensial” di mana tubuh kita hadir, namun jiwa kita tercecer, tercecer oleh persepsi orang-orang yang gemar memberi label, merumuskan kita dalam tabel-tabel kepentingan, dan mengurung kita dalam skema pemikiran mereka yang dangkal.
Ada harga selangit yang mesti ditebus demi menuntut ilmu di tempat yang jauh. Sebuah rindu yang traumatis. Kita mendambakan afeksi, tapi realitas justru menampar kita ke dalam kesendirian yang telanjang. Di perantauan, rindu seringkali menjadi beban yang menindih. Kita merasa tidak dicintai, atau lebih buruk lagi, merasa sedang dibuang oleh keadaan. Lingkungan baru terkadang terasa seperti palu yang menghantam prinsip kita hingga goyah.
Namun, sejarah punya cara unik untuk menampar kesadaran kita yang sedang melankolis.
Tengoklah para pemula pergerakan—dari rahim Boedi Oetomo hingga dentum Proklamasi. Mereka adalah manifestasi dari “intelektual yang tuntas”. Pramoedya Ananta Toer dalam Rumah Kaca pernah mengisyaratkan bahwa menjadi terdidik adalah sebuah keberanian untuk melihat dunia tanpa perantara. Cerdas saja tidak cukup; mereka haruslah benderang (tercerahkan). Mengapa? Karena mereka punya nyali untuk menolak zona nyaman. Di saat mereka bisa merengkuh kemapanan individual, mereka justru memangkas hasrat itu dengan prinsip enough is enough. Seluruh energi kognitif dan urat saraf mereka dihibahkan hanya untuk satu muara: martabat bangsa. Mereka pun rindu, mereka pun terasing, namun mereka mencegah rindu itu menjadi parasit.
Ironisnya, hari ini kita justru sering “tersandera” oleh rindu yang melumpuhkan. Kita melihat rekan-rekan mahasiswa yang layu sebelum berkembang, kehilangan orientasi hanya karena didera rasa rindu yang destruktif. Rindu yang menyabotase jam tidur, merusak fokus akademik, dan membuat diri seolah tak berdaya menghadapi kefanaan dunia. Segala perasaan ini—perasaan tidak dicintai atau ketiadaan afeksi—hanyalah awan lewat yang akan segera berlalu. Sebagaimana kata Viktor Frankl dalam Man’s Search for Meaning, penderitaan akan berhenti menjadi penderitaan pada saat ia menemukan makna.
Padahal, jika cinta kepada orang tua atau mungkin kasih akan pasanganmu itu benar adanya, bukankah seharusnya ia menjadi katalisator perjuangan?
Bagaimana kita menyikapi kepedihan ini jauh lebih penting daripada kepedihan itu sendiri. Jangan biarkan rindu menjadi parasit yang menggerogoti kewarasanmu. Alihkan rindu itu menjadi bahan bakar untuk memperlebar kapasitas diri. Rindukanlah pencapaian, rindukanlah kebermanfaatan. Sungguh naif jika kita membiarkan diri terjebak dalam pusaran perasaan yang justru memadamkan harapan orang-orang yang mendoakan kebahagiaan kita.
Abadilah dengan ilmu. Balaslah ketiadaan afeksi itu dengan surat-surat prestasi dan puisi-puisi perjuangan yang megah. Saya menulis ini karena ada urgensi yang mendesak untuk mengurai kemandekan mental ini. Kita harus berdaulat atas perasaan kita sendiri.
Mari menjadi manusia yang terdidik sejak dalam rindu. Jangan sampai kita menjadi generasi yang hanya bisa meratapi kesedihan remeh, sementara sejarah sedang menanti tangan-tangan dingin para manusia tercerahkan untuk menuliskan bab baru tentang keberanian. Rindumu adalah martabatmu; jadikan ia keindahan yang mengabadi dalam karya, daripada sekadar keluhan di bantal yang basah. Pulanglah pada dirimu yang berjuang, sebab di sanalah rindu menemukan kebenaran yang substansial.
Mari terdidik sejak dalam rindu. Jangan sampai kita menjadi generasi yang “terlunta-lunta” dalam kesedihan yang remeh, sementara sejarah sedang menanti tangan-tangan dingin para manusia tercerahkan untuk menuliskan bab baru kemerdekaan yang lebih substansial.





