Kau lenyap,
seperti tanggal yang tak pernah tercatat pada kalender manapun — ditelan ritme palsu yang disebut kehidupan.
Aku terus berjalan,
dengan sepatu yang tak pas dan bayangan yang meleset dari tubuhku sendiri, berharap — entah mengapa —
bahwa kelak kita tak lagi menjadi dua kata dalam kalimat yang sama.
Di persimpangan yang membatalkan diri,
di tanjakan yang hanya membawa ke arah dalam,
aku menyimpanmu —
di lipatan kantong yang tak dijahit sempurna
di mana harapan menunggu mati,
dan sukma terkubur dalam tidur yang tak bisa dibangunkan.
Kadang,
aku berdoa kepada rotasi bumi,
agar kau masih eksis sebagai koordinat,
bukan hanya gema dalam arsip kenangan.
Dalam senyap yang berkarat,
aku menjinakkan rindu yang terus datang tanpa paspor,
menyamar sebagai ingatan —
namun tak pernah betul-betul tinggal.
Mungkin nanti,
pada sebuah sore yang tidak tercantum di garis waktu,
kita akan kembali bertabrakan,
seperti kesalahan yang diulang karena tak ada yang sempat membetulkan.





