Ada orang yang menjadi penyair sebab mencintai. Ada pula yang menjadi penyair sebab kehilangan. Al-Khansa termasuk kelompok kedua. Dunia Arab mengenalnya sebagai penyair ratapan terbesar sepanjang sejarah. Namanya disejajarkan dengan para penyair besar Arab klasik. Bahkan hingga hari ini, ketika orang berbicara tentang ritha’ (puisi ratapan atau elegi dalam tradisi Arab) nama Al-Khansa hampir selalu disebut pertama kali.
Namun, yang membuat Al-Khansa istimewa bukan hanya kemampuannya mengubah kesedihan menjadi puisi. Yang membuatnya berbeda adalah kenyataan bahwa hidupnya seolah terbagi menjadi dua babak. Babak pertama adalah kisah seorang perempuan yang tenggelam dalam kehilangan. Babak kedua adalah kisah seorang mukmin yang belajar menerima kehilangan.
Di antara dua babak itulah lahir salah satu kisah paling menyentuh dalam sejarah sastra Arab. Nama asli Al-Khansa adalah Tumadir binti ‘Amr. Ia hidup pada masa peralihan antara zaman Jahiliyah dan Islam. Sebagaimana masyarakat Arab pada masanya, kehidupan Al-Khansa tidak terpisahkan dari konflik antarsuku yang kerap berujung pada peperangan dan pertumpahan darah.
Luka terbesar dalam hidupnya bermula dari kematian dua saudara laki-lakinya, Mu’awiyah dan Sakhr. Mu’awiyah terbunuh lebih dahulu dalam konflik antarsuku. Kematian itu mengguncang keluarga mereka. Namun duka yang sesungguhnya datang kemudian. Sakhr, saudara yang paling dicintai Al-Khansa, berusaha menuntut balas atas kematian Mu’awiyah. Ia berhasil melakukannya, tetapi terluka parah dalam pertempuran. Luka itu tidak segera merenggut nyawanya. Selama berbulan-bulan ia bertahan dalam penderitaan hingga akhirnya meninggal dunia.
Bagi Al-Khansa, kematian Sakhr bukan sekadar kehilangan seorang saudara. Ia kehilangan pelindung. Ia kehilangan tempat bergantung. Ia kehilangan seseorang yang selama ini menjadi pusat dunia emosionalnya. Sejak saat itu, hidup Al-Khansa berubah menjadi ratapan yang panjang.
Kesedihan itu kemudian menjelma menjadi puisi. Di hampir setiap sudut diwan Al-Khansa, nama Sakhr muncul seperti gema yang tidak pernah berhenti. Matahari terbit mengingatkannya pada Sakhr. Matahari terbenam mengingatkannya pada Sakhr. Bahkan perjalanan waktu seolah tidak lagi berarti selain sebagai pengingat bahwa orang yang dicintainya telah tiada.
Dalam salah satu puisinya yang terkenal, ia menulis:
وَلَوْلَا كَثْرَةُ الْبَاكِينَ حَوْلِي
عَلَى إِخْوَانِهِمْ لَقَتَلْتُ نَفْسِي
Seandainya tidak banyak orang di sekelilingku yang juga menangisi saudara-saudaranya, niscaya aku telah membinasakan diriku sendiri.
Bait itu terasa sangat manusiawi. Tidak ada kepura-puraan. Tidak ada heroisme. Tidak ada upaya untuk tampak tegar. Yang ada hanyalah seorang perempuan yang terluka oleh kehilangan.
Barangkali sebab kejujuran itulah puisi-puisi Al-Khansa bertahan melampaui zamannya. Ia tidak sedang menulis tentang perang atau kebesaran suku. Ia sedang menulis tentang sesuatu yang jauh lebih dekat dengan pengalaman manusia: duka.
Berkat puisi-puisi itu, Al-Khansa kemudian dikenang sebagai maestro ritha’. Ia mengangkat puisi ratapan dari sekadar nyanyian duka yang dibacakan saat pemakaman menjadi karya sastra yang memiliki kedalaman psikologis dan keindahan bahasa yang luar biasa.
Bahkan para ahli sastra Arab mengakui keistimewaannya. Dalam berbagai riwayat, kepiawaian Al-Khansa mendapat pengakuan dari para penyair besar pada masanya. Ia menjadi salah satu sedikit penyair perempuan yang memperoleh tempat terhormat dalam sejarah sastra Arab klasik yang didominasi oleh laki-laki.
Namun, sejarah belum selesai menguji Al-Khansa. Jika kematian Sakhr melahirkan penyair besar, kehidupan sesudahnya melahirkan sesuatu yang lebih besar lagi. Ketika Islam datang, Al-Khansa termasuk di antara mereka yang menerima ajaran baru tersebut. Keislamannya tidak menghapus kenangan tentang Sakhr. Ia tetap menjadi penyair. Ia tetap mengenang mereka yang telah pergi. Namun perlahan cara pandangnya terhadap kehilangan mulai berubah.
Perubahan itu mencapai puncaknya dalam Perang Qadisiyah. Empat putra Al-Khansa ikut berperang dalam pasukan Muslim. Sebelum mereka berangkat ke medan laga, Al-Khansa memberikan nasihat yang mengobarkan keberanian dan keimanan. Ia mendorong mereka untuk berjuang dengan penuh keyakinan.
Kemudian datanglah kabar itu. Keempat putranya gugur. Bayangkan sejenak peristiwa tersebut. Perempuan yang dahulu hampir hancur sebab kehilangan seorang saudara kini harus menghadapi kehilangan yang jauh lebih besar. Bukan satu orang. Bukan dua orang. Empat anak sekaligus.
Di sinilah kisah Al-Khansa menjadi begitu luar biasa. Alih-alih tenggelam dalam ratapan yang sama seperti ketika kehilangan Sakhr, ia justru mengucapkan kalimat yang kemudian dikenang dalam berbagai sumber sejarah Islam, “Segala puji bagi Allah yang telah memuliakanku dengan kematian mereka, dan aku berharap Tuhanku mengumpulkanku bersama mereka di surga-Nya.“
Kalimat itu sering membuat orang bertanya-tanya. Apakah Al-Khansa tidak lagi berduka? Tentu saja ia berduka. Seorang ibu tidak mungkin kehilangan empat anak tanpa merasakan luka yang mendalam.
Namun, tampaknya ada sesuatu yang telah berubah dalam dirinya. Kehilangan itu tetap ada. Luka itu tetap ada. Air mata itu mungkin tetap ada, tetapi kini ia memandang kehilangan melalui cara yang berbeda.
Dalam diri Al-Khansa, elegi mengalami transformasi. Ratapan tidak lagi sekadar menjadi bahasa kesedihan. Ratapan berubah menjadi jalan menuju penerimaan. Duka tidak lagi berhenti pada tangisan, tetapi bergerak menuju makna.
Di sinilah sastra dan spiritualitas bertemu. Puisi lahir ketika manusia berusaha memahami kehilangan. Agama hadir ketika manusia berusaha memahami makna kehilangan itu. Keduanya berangkat dari luka yang sama. Keduanya mencoba menjawab pertanyaan yang sama.
Mengapa orang yang kita cintai harus pergi? Barangkali tidak ada jawaban yang benar-benar memuaskan untuk pertanyaan tersebut. Namun, Al-Khansa menunjukkan bahwa manusia dapat menempuh lebih dari satu jalan untuk menghadapinya.
Ketika muda, ia menjawab duka dengan puisi. Ketika dewasa, ia menjawab duka dengan iman. Dan mungkin di antara keduanya tidak ada pertentangan sama sekali. Sebab puisi dan doa sering kali lahir dari sumber yang sama, yakni kerinduan kepada sesuatu yang telah hilang. Sebab pada akhirnya, setiap elegi adalah nama lain dari cinta yang kehilangan tempat untuk pulang.





