Lompat ke konten

Bagian 4: Awal Menjadi Pocong Profesional

Ilustrator - Muthia Fakhira
Oleh: Dzanubi Atmaranti *

“Udah, gak usah cemberut gitu. Muka lu noh makin mirip guling yang gak pernah dicuci 10 tahun,” celetuk Wowok memecah keheningan malam. 

Aku tidak membalas. Bagaimana tidak cemberut? Lompatanku malam ini terasa dua kali lipat lebih berat. Sepanjang jalan setapak keluar dari area perumahan warga, aku hanya bisa meratapi nasib. 

Kain kafanku yang awalnya putih—tidak putih-putih amat karena sudah kena kencing kucing dan getah pisang—sekarang resmi ketambahan bercak tanah basah akibat ditarik-tarik Wowok tadi. 

“Kita mau ke mana sih, Wok? Capek tahu, lompat-lompat mulu. Kenapa hantu lain bisa terbang, sedangkan gue harus kayak karung beras gini sih?” protesku sambil terengah-engah. Apakah di kehidupanku dulu aku jarang cardio? 

Wowok yang berjalan santai di sebelahku, sambil sesekali menggaruk ketiaknya yang presisi hanya mendengus remeh. “Eh cong, lu tuh baru magang tiga bulan. Gausah banyak mau deh. Lagian, kita tuh sekarang mau ke tempat bersejarah. Pusatnya ilmu hitam dan putih berkumpul.” 

“Kuburan massal?” tebakku asal. 

“Bukan.” 

“Pohon beringin tua yang penghuninya galak itu? ” 

“Bukan, elah. Sotoy banget sih lu. Sarang Mbak Kun mah bau menyan, bikin pusing,” Wowok mengibaskan tangan besarnya. 

“Kita ke TPU seberang kecamatan. Di sana ada ‘Mbak’ yang lebih senior. Pengikutnya jutaan, kalah itu hantu beringin sebelah.” 

Aku mengernyitkan dahi kaku. “Demit juga punya followers?” 

“Lah, iya punya lah! Makanya lu harus lihat langsung cara kerja hantu profesional kelas atas,” Wowok menyeringai lebar, memperlihatkan taringnya yang tertutup sisa singkong rebus.

Perjalanan kami berlanjut menembus kabut malam. Aku terpaksa pasrah mengikuti langkah besar Genderuwo sialan ini. 

Dalam hati kecilku yang entah masih ada atau tidak, aku mulai bertanya-tanya, 

Ilmu gila apa lagi yang harus kupelajari malam ini setelah latihan ketawa cringe yang gagal total tadi?

(Visited 2 times, 2 visits today)
*) Penulis merupakan mahasiswi Sosiologi angkatan 2025, saat ini sebagai staff magang Divisi Sastra LPM Perspektif 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts

Apa yang kamu cari?