Malang, PERSPEKTIF — Deru bus yang datang silih berganti memecah suasana Terminal Arjosari siang itu. Di tengah lalu lalang penumpang dan kru bus yang tak benar-benar sunyi, seorang pria berompi tampak sibuk menuangkan kopi sambil melayani pelanggan dengan aroma yang bercampur asap kendaraan dan klakson yang bersahutan. Bagi banyak orang, terminal hanyalah tempat singgah sebelum melanjutkan perjalanan. Namun bagi Slamet (bukan nama sebenarnya), tempat itu telah lama menjadi ruang hidup yang memberinya penghidupan sekaligus rasa nyaman.
Tiga Dekade Menjadi Bagian Terminal
Slamet, telah menghabiskan sebagian besar hidupnya di Terminal Arjosari sejak 1990. Saat itu ia bergabung dengan paguyuban pedagang asongan yang berjualan di area terminal. Sejak masih sekolah, ia sudah terbiasa membantu mencari penghasilan di sana. Rutinitas itu terus berlanjut hingga ia lulus Sekolah Teknik Menengah (STM).
Setelah menyelesaikan pendidikan, Slamet sempat mencoba berbagai pekerjaan. Ia pernah bekerja di pabrik karpet di Jakarta, menjadi pekerja kontraktor, hingga bekerja di bengkel. Namun tidak satu pun pekerjaan itu bertahan lama.
Menurutnya, pekerjaan dengan jam dan aturan yang ketat membuatnya tidak nyaman. Ia telah terbiasa bekerja secara mandiri sejak muda. Karena itu, setelah beberapa kali berpindah pekerjaan, ia memutuskan kembali ke terminal dan menjadikannya tempat mencari nafkah hingga sekarang.
“Dulu habis lulus STM saya coba kerja di beberapa tempat. Tapi nggak nyaman karena ada ikatan. Akhirnya balik lagi ke terminal,” ujar Slamet (28/5).
Beradaptasi dengan Perubahan
Meski telah puluhan tahun bertahan di Terminal Arjosari, perubahan tetap menjadi hal yang tak bisa dihindari, termasuk dagangan Slamet yang berubah. Dahulu ia berjualan apel, kemudian membuka kotak rokok kecil, kini beralih menjual kopi. Perubahan itu bukan semata pilihan pribadi, melainkan bentuk penyesuaian terhadap aturan terminal yang terus berkembang. Lapak sederhana yang dahulu mudah ditemui kini tidak lagi diperbolehkan berdiri bebas. Pedagang harus menyesuaikan jenis usaha maupun cara berjualan agar tetap bisa bertahan.
Meski demikian, Slamet mengaku tidak mengalami banyak kendala selama berjualan. Hubungannya dengan pihak pengelola terminal maupun petugas sejauh ini masih terjaga dengan baik. Hal ini dikarenakan para pedagang yang tergabung dalam paguyuban memiliki tanggung jawab untuk ikut menjaga kebersihan dan keamanan lingkungan terminal sebagai bagian dari kerja sama yang telah terjalin selama bertahun-tahun.
Rompi yang dikenakannya setiap hari menjadi salah satu penanda identitas kelompok kerja di terminal. Menurutnya, rompi tersebut dibuat secara mandiri berdasarkan arahan pengelola agar setiap kelompok, mulai dari pedagang asongan, ojek, hingga pekerja lainnya, dapat dikenali dengan mudah.
Kebebasan yang Membuatnya Bertahan
Di tengah aktivitas terminal yang nyaris tak pernah berhenti, Slamet menjalani hari dari pagi hingga petang dengan pelanggan tetap yang sebagian besar merupakan kru bus yang setiap hari singgah di terminal arjosari.
Hubungan yang terjalin selama bertahun-tahun membuat suasana kerja terasa akrab. Ia tidak perlu mencari pelanggan dari nol setiap hari karena banyak di antara mereka telah menjadi langganan tetap.
Bagi Slamet, alasan utama bertahan bukan hanya soal penghasilan. Dengan modal sekitar Rp1 juta hingga Rp1,5 juta, ia bisa memperoleh keuntungan harian sekitar Rp100 ribu hingga Rp150 ribu. Penghasilan itu dinilainya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Yang lebih penting menurutnya adalah terminal memberinya kebebasan mengatur ritme hidupnya sendiri.
“Ramai ya senang. Dari dulu kerjanya nggak terikat. Mau kerja ya kerja, mau libur ya libur,” ungkapnya.
Perasaan itu pula yang membuatnya sulit meninggalkan terminal. Setelah bertahun-tahun bekerja tanpa aturan yang mengikat, ia merasa lebih nyaman menjalani pekerjaan yang memberinya ruang untuk menentukan waktunya sendiri.
Harapan di Tengah Pergantian Kebijakan
Meski mengaku nyaman bekerja di Terminal Arjosari, bukan berarti Slamet tidak memiliki kekhawatiran. Pergantian pengelola atau kebijakan baru terkadang memunculkan kecemasan di kalangan pedagang mengenai keberlangsungan tempat mereka mencari nafkah.
Namun harapannya sederhana. Ia hanya ingin para pedagang tetap diberikan ruang untuk bekerja dan mempertahankan mata pencaharian mereka.
“Harapannya pedagang tetap diperbolehkan bekerja. Kita juga masih bisa membantu menjaga kebersihan dan keamanan terminal,” ujarnya.
Ruang Hidup yang Sulit Ditinggalkan
Menjelang sore, deretan bus masih terus datang dan pergi meninggalkan Terminal Arjosari. Suara mesin kendaraan sesekali memecah suasana. Sebagian penumpang bergegas menuju tujuan masing-masing, sementara sebagian lainnya baru saja tiba setelah perjalanan panjang.
Di tengah arus manusia yang tak pernah benar-benar usai itu, Slamet tetap berdiri di balik dagangannya, menuangkan kopi dan sesekali menyapa pelanggan yang sudah dikenalnya bertahun-tahun.
Lebih dari tiga dekade telah ia habiskan di tempat itu. Dari pedagang asongan apel, penjual rokok, hingga kini menjadi penjual kopi, perjalanan hidupnya tumbuh bersama perubahan Terminal Arjosari.
Bagi sebagian orang, terminal hanyalah tempat persinggahan. Namun bagi Slamet, Terminal Arjosari adalah ruang hidup yang telah lama memberinya pekerjaan, kebebasan, dan alasan untuk terus pulang ke tempat yang sama setiap hari. (jul/rd/ka/jaz/sh/nat)





