Oleh: Elvada Putri
Catatan: Artikel ini adalah bentuk satir yang bertujuan untuk mengkritik fenomena pragmatisme
dan degradasi moral di masyarakat. Jangan ditelan mentah-mentah sebagai ajakan untuk tidak
berbuat baik!
Mari kita berhenti bersikap naif. Di tengah hiruk-pikuk negara yang sedang asyik “mengocok
ulang” nasibnya ini, masih saja ada orang yang sibuk menabung “pahala” untuk akhirat.
Tidakkah mereka sadar bahwa nilai tukar pahala sedang anjlok drastis dibandingkan nilai tukar
rupiah saat ini?
Judul di atas mungkin terdengar seperti murtadnya sebuah nilai luhur, namun mari kita lihat
realitanya: buat apa susah-susah mengejar surga yang “nanti”, kalau kita bisa menciptakan
surga buatan di sini, sekarang juga, di tanah air yang katanya zamrud khatulistiwa ini?
Dulu, orang berbuat baik secara sembunyi-sembunyi agar tangan kiri tak tahu apa yang
dilakukan tangan kanan. Sekarang? Jika tangan kanan memberi sedekah tapi tangan kiri tidak
memegang kamera untuk konten TikTok ataupun reels, maka kebaikan itu dianggap tidak sah
secara hukum media sosial. Kebaikan telah bergeser dari urusan transendental menjadi urusan
algoritma.
Kita berada di fase di mana manusia tidak lagi peduli apakah namanya tercatat di Lauhul
Mahfudz, selama namanya tercatat di daftar Guest List pesta eksklusif elektoral atau jajaran
komisaris hasil “titipan”. Kebaikan yang tulus itu melelahkan, ia menuntut pengorbanan.
Sedangkan surga duniawi hanya menuntut satu hal: ketidakpedulian yang estetis.
Lihatlah sekeliling kita. Indonesia sedang menyuguhkan teater komedi yang gelap. Di saat
hukum bisa dinegosiasikan lewat secangkir kopi atau hubungan kekerabatan, berbuat baik
menjadi tindakan yang sangat berisiko. Menjadi jujur di negeri ini sering kali berujung pada
kursi pesakitan, sementara menjadi “licin” justru membawamu ke kursi empuk kekuasaan.
Maka, terciptalah sebuah dogma baru: “Asal saya nyaman, masa bodoh dengan aturan.” Inilah
surga duniawi yang sesungguhnya. Kenapa harus takut dengan api neraka, kalau kita sudah
terbiasa dengan panasnya polusi dan kemacetan yang disebabkan oleh egoisme kolektif?
Kenapa harus bermimpi minum air dari sungai surga, kalau kita bisa membeli air kemasan
premium sambil menonton orang-orang berebut bansos di televisi?
Jika khutbah di rumah ibadah masih menyerukan kesederhanaan, dunia nyata kita justru
mengagungkan flexing. Kita sedang membangun menara Babel modern kita sendiri. Kita tidak
lagi membutuhkan jembatan Sirathal Mustaqim untuk menyeberang ke kebahagiaan. Kita
hanya butuh koneksi politik dan saldo rekening yang cukup untuk membeli imunitas hukum.
Secara ironis, kebaikan yang sejati justru membuatmu “terasing” di dunia saat ini. Jika kamu
tidak ikut menipu, tidak ikut memotong jalan, atau tidak ikut menjilat, kamu tidak akan dibawa ke
“surga” duniawi yang penuh kemewahan itu. Kamu akan tertinggal di gerbang kemiskinan
sambil memeluk prinsip-prinsip usangmu.
Mungkin kita harus jujur pada diri sendiri. Banyak dari kita sudah tidak lagi percaya pada
konsep “balasan di sana”. Kita lebih percaya pada “setoran di sini”. Kita sedang sibuk memoles
dunia agar tampak seperti surga, meskipun di bawahnya pondasi moral kita sedang keropos
dan hancur lebur.
Jadi, benar adanya. Berbuat baik (yang tulus) tidak akan membawamu ke “surga dunia” saat ini.
Ia justru akan membuatmu terlihat aneh dan miskin. Karena di dunia yang sedang kacau balau
ini, menjadi jahat dengan cara yang sopan adalah tiket VIP menuju kebahagiaan yang semu.
Pertanyaannya, setelah semua surga dunia ini berhasil kita bangun di atas penderitaan dan
ketidakadilan, apakah kita siap saat tirai pertunjukan ini ditutup? Ah, lupakan saja. Itu urusan
nanti. Sekarang, mari kita lanjut berpesta di atas kekacauan ini.





