Kutalikan irama-irama takdirku yang sial itu menjadi melodi-melodi sumbang,
dan kupaksa ia bernyanyi di tenggorokanku sendiri.
Tak ada tepuk tangan,
hanya gema yang kembali sebagai ejekan.
Meski begitu, ibuku tak pernah berhenti memberiku makan.
Tangannya tetap hangat,
meski aku sering merasa dingin bahkan pada namaku sendiri.
Kutapaki makam orang-orang yang kusayang, terkutuklah kehadiran diriku.
Seolah setiap kehilangan adalah alamat
yang ditujukan pada langkah-langkahku.
Tanah basah itu lebih jujur daripada doa-doaku yang gemetar.
Meski begitu, ayahku tetap mengantarku menuju rumah.
Tak banyak kata keluar dari bibirnya,
namun jalan yang ia pilih selalu pulang.
Dan aku diam-diam belajar
bahwa tidak semua yang retak harus diumumkan kepada dunia.
Dan aku—
anak yang selalu kalah dalam doanya sendiri,
menyulam malam demi malam
agar tak runtuh di pangkuan waktu.
Kujahit cemas pada ujung-ujung sabar,
meski benangnya sering putus di tengah harap.
Meski begitu, dunia masih memberiku matahari,
meski hanya sedikit hangat yang jatuh ke tubuhku.
Sedikit, tapi cukup
untuk membuatku percaya
bahwa bahkan melodi paling sumbang pun
masih diberi kesempatan
untuk selesai.





