Judul: Balada Si Roy
Sutradara: Fajar Nugros
Penulis Naskah: Salman Aristo
Genre: Drama, Isu Sosial
Pemain: Abidzar Al Ghifari, Febby Rastanty, Bio One, Yusuf Mahardika
Tahun Rilis: 2022
Durasi: 1 jam 49 menit (109 menit)
Di atas kertas, upaya Fajar Nugros menghidupkan kembali Serang era 80-an dengan sinematografi warna hangat (warm tone) dan diversifikasi latar non-Jakarta-sentris adalah pencapaian produksi yang patut disimpan sebagai catatan bagus. Namun setelah menontonnya, yang tersisa bukan rasa nostalgia yang hangat, melainkan keruwetan naratif yang sulit ditoleransi.
Film ini mengisahkan Roy (Abidzar Al Ghifari), seorang pemuda yang harus pindah ke Serang setelah kematian ayahnya. Di tempat baru, ia semula digambarkan sebagai representasi anak muda ideal yang saleh, intelek, dan penulis andal dengan jiwa aktivis laten yang menggunakan pena untuk mengkritik feodalisme lokal pimpinan Dullah (Bio One). Latar ceritanya mencoba memotret relasi kuasa yang represif, pembungkaman suara kritis, hingga bayang-bayang kelam era petrus (penembak misterius) di masa orde baru. Niatan Salman Aristo sebagai penulis naskah untuk mengangkat isu resistensi anak muda ini mungkin tulus. Tapi niatan baik tidak selalu menghasilkan representasi yang bertanggung jawab ketika dieksekusi dengan tergesa-gesa.
Pencarian jati diri pemuda di tengah represi politik orde baru bukan tema yang dangkal. Realitas sejarah mencatat bagaimana ruang gerak pemuda, ekspresi, dan pers dibatasi secara sistematis pada dekade 80-an dan 90-an. Realitas seperti ini menjadikan tema perlawanan lewat literasi yang dipilih Nugros bukan sekadar relevan, melainkan mendesak untuk generasi hari ini. Persoalannya bukan apa yang ingin dikatakan film ini mengenai idealismenya Roy. Persoalannya adalah bagaimana film ini mengatakannya secara sinematik.
Yang paling mengganggu bukan kontradiksi karakter Roy itu sendiri, karena manusia memang bisa berubah seiring perjalanan hidupnya. Yang mengganggu adalah pacing narasinya yang bergerak dalam tempo yang terlampau cepat secara kasar. Sepanjang film, penonton seolah dipaksa meloncat dari satu peristiwa ke peristiwa lain secara mekanis: Roy menulis kritik, ia diserang, ia jatuh cinta, layar berganti, dan tiba-tiba ia berubah dari anak intelek menjadi berandal, tukang mabuk, womanizer, hingga tukang balap jalanan dalam sekejap. Tidak ada jeda naratif yang logis untuk menunjukkan proses psikologis Roy dalam bertransformasi. Struktur narasi yang melompat-lompat ini secara tidak langsung menempatkan kehebohan demi kehebohan karakter labil Roy sebagai engine penggerak plot, sementara narasi utama tentang pencarian jati diri justru tertutupi.
Kelemahan naratif ini berimbas langsung pada pendangkalan karakter di sekitarnya, terutama karakter perempuan. Sosok Ani (Febby Rastanty) berakhir tragis dalam jebakan alur yang tergesa-gesa ini. Ia diletakkan hanya sebagai pelengkap yang kurang digali kedalamannya, tidak memiliki agensi untuk menentukan nasibnya sendiri atau melawan kehendak patriarkal orang tuanya saat tulisan Roy mulai mengusik kenyamanan kelas mereka. Hubungan mereka kandas secara instan, dan setelah fungsinya sebagai katalis patah hati selesai, eksistensinya dipinggirkan begitu saja. Di sini, narasi pencarian jati diri justru kalah oleh ego maskulin yang begitu diagungkan lewat rentetan drama cinta monyet yang mengganggu proses dewasanya karakter Roy.
Yang perlu digarisbawahi di sini adalah bahwa menampilkan karakter pria yang kontradiktif bukan hal yang salah secara prinsip. Film seperti Catatan Si Boy berhasil menampilkan sosok Boy yang kontradiktif namun ajek—tampan, saleh, sekaligus gemar dugem—secara organik. Bedanya, di film tersebut karakterisasi tokoh dibangun dengan konsisten. Di Balada Si Roy, karakter berubah begitu drastis tanpa landasan psikologis yang kuat, membuat lika-liku hidup Roy sama sekali tidak realistik dengan dunia nyata, meskipun film ini sudah mencoba memasukkan unsur realisme di dalamnya.
Perlu diakui bahwa di tengah keruwetan naratif ini, penampilan Bio One sebagai Dullah adalah anomali yang menyelamatkan film. Mengikuti jejak cemerlangnya dalam Srimulat: Hil yang Mustahal (2022), Bio One kembali membuktikan dirinya sebagai aktor karakter yang langka di Indonesia—mampu melebur seutuhnya ke dalam peran hingga lepas dari identitas aslinya. Namun, prestasi individu aktor dan kemegahan rekonstruksi visual tidak otomatis berarti keberhasilan sebuah representasi cerita. Film yang sungguh-sungguh ingin memotret pencarian jati diri dan aktivisme pemuda harus berani membiarkan narasinya berproses dengan matang, bukan sekadar menjadikannya dekorasi estetis demi merayakan romantisasi ego maskulinitas klise masa lalu.
Kisah Roy yang diangkat dari novel Gol A Gong yang hit pada dekade ’90-an silam ini pada akhirnya tidak membuat saya merasakan karakternya berbeda atau memiliki ciri khas dari ‘pemuda SMA’ lainnya yang sudah dikenal luas. Sama seperti Boy, Rangga, atau Dilan, Roy hanya menggambarkan bagaimana sosok pemuda yang pada kasus ini duduk di bangku SMA, dianggap edgy alias keren pada akhir dekade ’80-an.
“Untuk apa semua ini?” tanya Ani.
“Ego.” jawab Edi.
Percakapan antara Ani dan Edi (Yusuf Mahardika) dalam salah satu adegan dalam Balada Si Roy di atas adalah yang paling tepat menggambarkan apa yang saya rasa selama melihat film 109 menit ini. Di tengah megahnya rekonstruksi era 80-an, film ini justru mengonfirmasi kutipan dialognya sendiri, bahwa pada akhirnya, semua kehebohan ini terasa berjalan demi memuaskan ego maskulinitas klise yang enggan membiarkan nalar ceritanya berproses dengan matang.





