Dalam kembara sesaat menembus lorong lampau
pada hamparan luas menjulur akar di kaki beringin
ia menjahit sendiri serpihan-serpihan nestapa
lubang kesakitan terpatri di tubuh zaman
tercipta dari proyek konstruksi sosial
Ia menambal tiap rongga rumpang dengan tenang
sepotong jarum kerap menusuk jemari
ia menggema, deru perempuan lainnya terdengar
dan gerakan jari-jari mereka bekerja senada
berhasil menutup tiap sobekan luka
Hingga termanifestasi di ruang bernama pendidikan
kesetaraan dan pikiran melalang buana
jiwa Kartini muda bersenandung dalam jasmani
perempuan-perempuan hari ini, nanti, dan abadi
selamanya, merawat peradaban bereksistensi
Semarang, 2025
(Visited 30 times, 1 visits today)




