Lompat ke konten

Benturan Timur dan Barat dalam Novel Salah Asuhan Karya Abdoel Moeis

Sumber: Jaklitera
Oleh: Tazkia Alya Rahma*

Novel Salah Asuhan karya Abdoel Moeis merupakan salah satu karya sastra Indonesia yang hingga kini tetap relevan untuk dibaca dan dikaji. Diterbitkan pada masa kolonial, novel ini tidak hanya mengisahkan perjalanan hidup tokoh Hanafi, tetapi juga menggambarkan benturan antara budaya Timur dan Barat yang terjadi dalam masyarakat Indonesia pada awal abad ke-20. Melalui konflik yang dialami para tokohnya, terutama Hanafi, Abdoel Moeis menunjukkan bagaimana pertemuan dua kebudayaan yang berbeda dapat menimbulkan krisis identitas, konflik sosial, bahkan kehancuran kehidupan seseorang. Oleh karena itu, Salah Asuhan dapat dipahami sebagai kritik terhadap sikap yang memandang budaya Barat lebih unggul daripada budaya sendiri.

Benturan Timur dan Barat dalam novel ini terlihat sejak awal melalui karakter Hanafi. Sebagai seorang pribumi yang memperoleh pendidikan Barat, Hanafi tumbuh dengan pola pikir yang berbeda dari lingkungan masyarakat Minangkabau tempat ia berasal. Pendidikan yang diterimanya membuat ia mengagumi budaya Eropa dan memandang rendah tradisi yang dianut keluarganya. Baginya, budaya Barat identik dengan kemajuan, kebebasan, dan modernitas, sedangkan budaya Timur dianggap kuno dan menghambat perkembangan individu. Cara pandang inilah yang kemudian menjadi sumber berbagai konflik dalam hidupnya.

Salah satu bentuk benturan budaya yang paling menonjol terlihat dalam persoalan pernikahan. Dalam budaya Timur yang digambarkan dalam novel, pernikahan tidak hanya menyangkut hubungan dua individu, tetapi juga berkaitan dengan keluarga, adat, dan tanggung jawab sosial. Karena itu, ibu Hanafi menginginkan anaknya menikah dengan Rapiah, perempuan yang dianggap sesuai dengan nilai-nilai budaya setempat. Namun, Hanafi menolak pandangan tersebut. Ia lebih tertarik kepada Corrie, seorang perempuan berdarah campuran Eropa yang dianggap mewakili kehidupan modern yang selama ini ia impikan. Pilihan Hanafi menunjukkan keinginannya untuk melepaskan diri dari identitas Timur dan mendekatkan diri pada budaya Barat.

Meskipun demikian, Abdoel Moeis tidak menggambarkan budaya Barat sebagai sesuatu yang sepenuhnya buruk ataupun budaya Timur sebagai sesuatu yang sepenuhnya benar. Sebaliknya, novel ini memperlihatkan bahwa masalah muncul ketika seseorang kehilangan keseimbangan dalam memandang kedua budaya tersebut. Hanafi tidak sekadar mengagumi Barat, tetapi berusaha menolak seluruh identitas yang melekat pada dirinya sebagai pribumi. Ia merasa malu terhadap asal-usulnya dan berusaha menjadi orang Eropa dalam cara berpikir maupun perilaku. Namun, usaha tersebut tidak pernah berhasil sepenuhnya karena masyarakat kolonial tetap memandangnya sebagai orang pribumi. Dengan kata lain, Hanafi berada di antara dua dunia yang tidak benar-benar dapat ia miliki.

Konflik identitas yang dialami Hanafi menunjukkan bahwa benturan budaya tidak hanya terjadi pada tingkat sosial, tetapi juga pada tingkat psikologis. Ia merasa asing terhadap budaya Timur, tetapi juga tidak diterima sepenuhnya dalam lingkungan Barat. Akibatnya, Hanafi mengalami kegelisahan yang terus-menerus. Keadaan ini menggambarkan bagaimana kolonialisme tidak hanya menguasai wilayah dan sumber daya, tetapi juga memengaruhi cara berpikir masyarakat yang dijajah. Dalam diri Hanafi, kolonialisme berhasil menanamkan keyakinan bahwa menjadi seperti orang Barat adalah tanda kemajuan, sementara menjadi pribumi dianggap sebagai sesuatu yang rendah.

Benturan Timur dan Barat juga tercermin melalui perbandingan tokoh Rapiah dan Corrie. Rapiah digambarkan sebagai perempuan Timur yang setia, sabar, dan menjunjung tinggi nilai keluarga. Sebaliknya, Corrie lebih mencerminkan nilai-nilai Barat yang mengutamakan kebebasan individu. Kedua tokoh ini bukan sekadar karakter dalam cerita, melainkan simbol dari dua kebudayaan yang sedang berhadapan. Menariknya, novel tidak menunjukkan bahwa salah satu budaya sepenuhnya unggul dari yang lain. Kehidupan Hanafi justru menjadi kacau karena ketidakmampuannya memahami dan menghargai kedua budaya tersebut secara proporsional.

Selain itu, novel ini juga mengkritik sikap inferior yang berkembang di kalangan masyarakat terjajah. Pada masa kolonial, banyak pribumi yang menganggap budaya Eropa lebih tinggi dibandingkan budaya lokal. Pandangan seperti ini tercermin dalam perilaku Hanafi yang selalu berusaha memperoleh pengakuan dari kelompok Eropa. Namun, pengakuan yang diharapkannya tidak pernah benar-benar ia dapatkan. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa meniru budaya lain secara berlebihan tidak akan menghapus identitas seseorang. Sebaliknya, sikap tersebut justru dapat membuat seseorang kehilangan pijakan dalam kehidupannya sendiri.

Jika dikaitkan dengan kondisi saat ini, pesan yang terkandung dalam Salah Asuhan masih sangat relevan. Di era globalisasi, arus budaya asing semakin mudah masuk melalui media sosial, film, musik, dan berbagai bentuk teknologi komunikasi. Banyak orang mengadopsi gaya hidup, bahasa, maupun nilai-nilai dari luar negeri. Hal tersebut pada dasarnya bukan sesuatu yang salah karena pertukaran budaya merupakan bagian dari perkembangan masyarakat modern. Namun, novel Salah Asuhan mengingatkan bahwa keterbukaan terhadap budaya luar harus disertai dengan kemampuan untuk memahami dan menghargai identitas budaya sendiri. Modernitas tidak harus berarti meninggalkan akar budaya yang telah membentuk jati diri seseorang.

Pada akhirnya, Salah Asuhan menunjukkan bahwa benturan Timur dan Barat bukan sekadar persoalan perbedaan budaya, melainkan juga persoalan identitas dan cara pandang terhadap diri sendiri. Melalui kisah tragis Hanafi, Abdoel Moeis menyampaikan kritik terhadap sikap yang memuja Barat secara berlebihan sekaligus mengabaikan nilai-nilai budaya sendiri. Novel ini mengajarkan bahwa kemajuan tidak diperoleh dengan menolak identitas asal, tetapi dengan kemampuan untuk mengambil hal-hal baik dari budaya lain tanpa kehilangan jati diri. Dengan demikian, Salah Asuhan bukan hanya menjadi cerminan masyarakat kolonial pada masanya, tetapi juga menjadi pelajaran penting bagi masyarakat Indonesia dalam menghadapi tantangan globalisasi pada masa kini.

(Visited 32 times, 2 visits today)
*) Tazkia Alya Rahma merupakan seorang mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang sedang menempuh pendidikan di prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts

Apa yang kamu cari?