Lompat ke konten

Padati Gedung Rektorat, Mahasiswa Universitas Brawijaya Tolak Tegas SPPG Masuk Kampus

Massa Aksi Tolak SPPG Masuk Kampus (PERSPEKTIF/Kalila)

Malang, PERSPEKTIF  —  Puluhan mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) menggelar aksi di depan Gedung Rektorat pada Selasa (09/06) siang guna menolak masuknya Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) ke ranah UB. Massa menilai kebijakan tersebut berpotensi mengalihkan peran kampus yang seharusnya sebagai laboratorium pendidikan menjadi wadah untuk melanggengkan proyek pemerintah. Dengan demikian, mereka menuntut rektorat membatalkan wacana tersebut melalui audiensi terbuka. 

Rafi Azzamy, salah satu inisiator menjelaskan bahwa aksi ini dilakukan karena adanya keresahan akademik. Dengan terwujudnya wacana SPPG, UB justru berpotensi mengarahkan hasil risetnya untuk kepentingan pemerintah, bukan kepentingan publik. Selain itu, ia menjelaskan bahwa ini juga berkaitan dengan pelanggaran Tri Dharma perguruan tinggi

“Kami itu disini cuma ingin tuntutan kami diakomodir yaitu UB membuka transparansi naskah akademiknya,” ujar Rafi (09/06). 

Aksi dimulai dengan orasi oleh para sukarelawan. Azhar Zidane, selaku presiden Eksekutif Mahasiswa (EM) UB, dalam orasinya mengatakan bahwa aksi ini adalah bentuk rasa kasih sayang mahasiswa kepada kampus dengan menegur pihak rektorat ketika dirasa kebijakan kampus mulai melenceng dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. 

“Tentunya karena kita melihat ini adalah sebuah hal yang menjadi keresahan kolektif keseluruhan orang bahwa MBG ini perlu dievaluasi total. Akhirnya kita bersama-sama untuk melakukan aksi secara kolektif, terdiri dari teman-teman dari beberapa lembaga yang sedang mengkaji terkait bagaimana kajian akademik dari bahayanya SPPG masuk kampus. Jadi kita tak hanya sebatas aksi saja, namun secara konkretnya kita sedang merumuskan bagaimana wacana SPPG masuk kampus ini menjadi kajian yang akademik nantinya,” ungkap Zidane (09/06).

Hingga aksi berakhir, tidak ada satu pun perwakilan rektorat yang menemui mahasiswa. Kekecewaan ini disampaikan oleh Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UB, Marshal Leon.

“Aksi kami hari ini tidak berjalan sebagaimana mestinya. Kami awalnya menunggu kehadiran pihak rektorat, terutama Wakil Rektor IV yang kemarin menyatakan bahwa masuknya SPPG ke kampus masih dalam tahapan kajian. Kami ingin rektor turun langsung untuk memberikan pernyataan yang tegas dan lugas mengenai posisi UB hari ini, apakah menolak atau menerima. Namun kenyataannya, hari ini tidak ada satu pun perwakilan dari pihak rektorat yang hadir. Sehingga langkah selanjutnya, kami dari teman-teman pergerakan akan menginisiasi kembali aksi lanjutan di hari-hari yang akan datang,” tegas Leon (09/06).

Melalui wawancara dengan Iqbal Rahman, selaku koordinator lapangan (korlap), menyatakan bahwa pemilihan tanggal aksi pada 9 Juni tersebut adalah keputusan kolektif dan mengingat kembali bahwa para mahasiswa UB akan menjalani libur semester.

“Ada sekitar 25 orang yang mengikuti aksi kali ini, dan itu sudah sesuai harapan mengingat hari ini adalah minggu pertama Ujian Akhir Semester (UAS),” jawab Iqbal (09/06).

Sebelum membubarkan diri, massa aksi melanjutkan agenda dengan prosesi pembacaan surat permohonan maaf dan pernyataan sikap bersama.

Uya (bukan nama sebenarnya), salah satu massa aksi berharap rektorat turun dan melakukan diskusi dengan para mahasiswa terkait marwahnya dengan menolak SPPG. Uya pun menyatakan akan mengikuti aksi berikutnya jika tidak ada respon dari pihak rektorat (09/06).

(fdn, kc, kz, nat)

(Visited 55 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts

Apa yang kamu cari?