
Pameran zine “Antar Kota Antar Zinemaker” di Ruangriang Fest, Gondanglegi, Kabupaten Malang, Minggu (08/03). (PERSPEKTIF/Haidar)
Kertas-kertas itu dijejer rapi, dikelompokkan berdasar tempat kelahirannya. Setidaknya ada seratusan zine yang dipamerkan saat itu (08/03), pada acara bertajuk Antar Kota Antar Zinemaker, yang digelar di Ruangriang Fest, Gondanglegi, Kabupaten Malang. Pada momen itu, saya berkesempatan untuk melihat secara langsung bagaimana zine “bekerja”, sebagai alat transmisi pengetahuan yang murah dan bisa diakses siapa saja.
Malang, PERSPEKTIF—Adalah kertas, alat cetak, dan tulisan. Diterbitkan tak berkala, disebarluaskan antar tangan, dibaca tanpa perantara. Begitulah kiranya zine bekerja secara sederhana.
Saya memungut satu eksemplar bersampul hitam putih dari atas meja, sebelum akhirnya memutuskan menemui sosok pria berkaus hitam yang sedang menata meja dan kursi. Bau khas tinta fotokopian menguar seketika, menelusupkan aromanya ke rongga hidung saya. Jejak guntingan yang sedikit miring itu seolah bercerita tentang malam-malam panjang di sebuah kamar, tempat seorang zinemaker melipat, menstaples, menyatukan, lantas menggandakan kegelisahannya dalam bundelan setebal belasan halaman.

ZIne berjudul Kegagalan Punk oleh PAM (1998) di Pameran zine “Antar Kota Antar Zinemaker” pada Minggu (08/03). (PERSPEKTIF/Haidar)
Nama zine sebenarnya adalah singkatan dari fanzine, yang dalam definisinya merujuk pada terbitan non-komersil yang dipublikasikan, baik secara cetak atau daring, dengan semangat do-it-yourself (DIY) dari kelompok kultural tertentu, dengan peminat tertentu pula. Dari semangat DIY semacam itulah zine hidup, dihidupi, dan menghidupi.
Jika kita merunut jauh ke belakang, embrio zine sebenarnya sudah menggeliat sejak dekade 1930-an. Saat itu, para penggemar fiksi ilmiah (sci-fi) di Amerika Serikat yang merasa tidak terwadahi oleh media arus utama mulai menerbitkan terbitan independen mereka sendiri. Salah satu yang paling awal tercatat adalah The Comet pada 1930. Namun, zine baru benar-benar menemukan taring dan wataknya pada era 1970-an, beriringan dengan ledakan kultur punk.
Di Inggris dan Amerika, zine seperti Sniffin’ Glue dan Punk menjadi corong utama skena musik bawah tanah. Potongan lirik, kritik sosial, dan ulasan gig lokal dicetak kasar, digandakan, dan disebar dari tangan ke tangan. Ia menjadi media perlawanan bagi mereka yang suaranya dibungkam oleh industri besar.

Pengunjung yang membaca di Pameran zine “Antar Kota Antar Zinemaker” pada Minggu (08/03). (PERSPEKTIF/Haidar)
“Jadi menurutku, zine ini adalah sebuah produk kebudayaannya setiap manusia gitu,” tutur Aza (bukan nama sebenarnya) sambil membenahi posisi duduknya di atas kaleng cat bekas.
Aza adalah sosok di balik akun @arsipzine di Instagram, yang melakukan kerja-kerja pengarsipan atas zine bikinan zinemaker Indonesia yang tercecer. “Mengarsipkan zine dari halaman depan,” begitu slogan yang terpampang pada akun Instagram yang dikelolanya secara suka-rela.
Saya menemuinya saat ia tengah menata zine yang hendak ia pamerkan pada Minggu (08/03). Kebetulan kami bertemu pada acara “Antar Zinemaker, Antar Kota” yang digelarnya secara nekat, bleng-blengan.
Pameran ini tidak mengambil tempat di galeri megah nan eksklusif, melainkan menyatu dengan keriuhan lapak thrift shop, lapak penjual kopi, pedagang sarung, hingga penjaja kaus dan ragam aksesoris lainnya. Membawa zine keluar dari zona nyamannya adalah sebuah laku yang disengaja oleh Aza. Ia sengaja melakukan aktivasi ruang publik untuk mengenalkan zine, atau biasa disebut “menjemur zine”, pada acara yang bisa menjangkau banyak orang, utamanya di Kabupaten Malang bagian selatan.
Selama ini, hampir seluruh panggung kebudayaan alternatif—mulai dari pameran seni, diskusi, hingga pemutaran film—selalu menumpuk di sekitaran Lowokwaru atau Klojen. Ruang publik di Kabupaten Malang bagian selatan acap kali luput, diletakkan sebagai wilayah domestik yang sepi dari riuh sirkulasi gagasan. Menjemur zine di Gondanglegi adalah laku sengaja untuk memutus rantai ketergantungan itu. Sebagai warga Kabupaten Malang yang saban hari harus menempuh jarak satu jam perjalanan ke utara demi mencicipi keriuhan diskusi di kota, saya paham betul keresahan yang dilemparkan Aza sebelum wawancara dimulai.
Bagaimana Zine Muncul di Malang?

Papan foto bertajuk “Diy or Die” di Pameran zine “Antar Kota Antar Zinemaker” pada Minggu (08/03). (PERSPEKTIF/Haidar)
Jika kita menarik mundur garis waktu, budaya zine tidak lahir dalam semalam. Eksistensi zine di Indonesia tak lepas dari kemunculan skena underground yang bercokolan sejak medio 80-an hingga era 90-an. Bersamaan dengan masuknya kaset-kaset musik punk, hardcore, dan metal dari luar negeri, budaya literasi alternatif ini turut terbawa oleh pemuda-pemuda yang memiliki akses ke informasi global, atau melalui jaringan sahabat pena internasional (penpal). Di era sebelum internet memonopoli arus informasi, zine adalah “internet”-nya anak-anak underground. Melalui zine, mereka mengetahui band apa yang sedang rilis, gig apa yang akan digelar, hingga wacana sosial politik apa yang sedang hangat diperbincangkan di skena belahan bumi lain.
Berawal dari kota-kota besar macam Jakarta dan Bandung, gelombang itu beresonansi sampai ke kota-kota lain, dan Malang adalah salah satunya. Kehadiran Mindblast Zine pada kisaran 90-an di Malang menjadi salah satu tonggak bagaimana anak muda di kota ini mulai merekam pergerakan skenanya sendiri, mencatat sejarahnya sendiri, tanpa harus menunggu disorot oleh media besar.

Zine “Mindblast” Vol. 1 (1996). (ArsipZine)
Aza bercerita bahwa kemunculan zine di kota ini memang berakar dari skena musik. Sembari mengamati lalu lalang pengunjung ia bercerita.
“Setahu aku di Malang itu (keberadaan zine. Red.) mulai eranya band-band dan personalnya seperti No Mans Land, Mas Didit ’96, lalu ada golongan Mind Blast, Escort, Kemerdekaan,” ungkap Aza yang juga sempat terlibat dalam Pena Hitam Zine Library.
Pada masa itu, zine berfungsi sebagai medium komunikasi kultural antar-kampung atau tongkrongan. Anak-anak dari wilayah Dinoyo, Tlogomas, hingga Turen saling terhubung dan merespons satu sama lain melalui lembaran fotokopi ini.
Membuat zine di tahun 1996 adalah sebuah pencapaian yang terasa tidak masuk akal bagi sebagian orang. Aza mencontohkan kondisi di desanya, Turen, pada masa itu. Kala itu akses terhadap teknologi sangat terbatas, bahkan televisi hitam-putih pun masih menjadi barang mewah yang hanya dimiliki oleh kepala desa. Bisa menciptakan publikasi cetak independen di tengah keterbatasan itu adalah sebuah bentuk privilese dan kemajuan berpikir pada zamannya.
Malang menyerap pengaruh besar dari episentrum skena underground nasional, yakni Bandung. Mas Samack, salah satu pelaku sejarah skena Malang, mulai terpapar budaya ini saat ia pindah sekolah menengah ke Bandung, berkenalan dengan skena di sana, dan akhirnya membawa ketertarikan pada budaya menulis mandiri itu kembali ke komunitas asalnya.
Secara nasional, berdasarkan penuturan Aza, istilah “zine” sendiri awalnya diperkenalkan untuk publikasi di skena music underground, atau pada masa itu disebut sebagai musik ekstrem.
“Makanya kenapa identiknya zine itu sama musik. Musik lebih condongnya musik-musik ekstrem. Kalau dulu namanya musik ekstrem belum (memakai istilah, red.) underground,” jelasnya.
Salah satu pionirnya adalah Revogram yang diinisiasi oleh Extreme Noise Grinding (ENG) yang berisikan para metalheads dari Ujungberung, Bandung. Dari sana, format publikasi ini dibawa pulang oleh orang-orang daerah yang sedang singgah di Bandung, lalu disebarkan ke komunitas lokal masing-masing. Di era pra-internet, mereka berkomunikasi menggunakan surat-menyurat (korespondensi/penpal), bahkan saling membagikan trik di dalam zine tentang bagaimana cara mengakali sistem pos agar mendapat ongkos kirim gratis atau murah.
Selain Revogram, dua zine musik tertua yang tercatat adalah Human Waste (Yogyakarta, 1994) dan Brainwashed (Jakarta, 1995). Meski demikian, karena zine hidup dari keterbatasan dan beredar secara terbatas dari tangan ke tangan, rasanya kita pantas menduga bahwa masih ada karya-karya pelopor lain yang jauh lebih tua, namun terlanjur lenyap ditelan zaman sebelum sempat diarsipkan.
Desentralisasi Pengetahuan Melalui Kultur Zine

Sejumlah zine di Pameran zine “Antar Kota Antar Zinemaker” pada Minggu (08/03). (PERSPEKTIF/Haidar)
Sebab zine dimaksudkan untuk bisa diproduksi siapa saja, maka bentuk fisik yang bersahaja itu bukan perkara estetika belaka. Kesederhanaannya berakar dari tujuan para pembuatnya untuk mentransmisikan ide-ide mereka secara cepat, dan tentu saja, murah.
Bagi Aza, ruh utama dari sebuah zine, selain semangat DIY-nya, adalah publikasi dan sirkulasinya.
“Bedanya zine dengan catatan harian itu, ya harus terpublikasi dengan caranya yang macam-macam. Kalau kita cuma bikin zine tok, itu masih belum sah karena belum diedarkan,” paparnya.
Berbeda dengan buku arus utama yang distribusinya sangat bergantung pada ekosistem logistik raksasa, mesin cetak massal, dan armada pengiriman, zine menawarkan jalur alternatif yang sangat mandiri. Distribusi zine bersifat organik; pembuatnya (zinemaker) bisa langsung menjadi distributor utamanya. Mereka bisa menitipkannya di lapak-lapak distro saat acara musik (gigs) berlangsung, atau sekadar mengirimkan file mentahnya melalui internet untuk kemudian dicetak on-demand di kota tujuan saat ada acara kolektif.
Bentuk fisiknya pun menolak tunduk pada standarisasi. “Zine itu enggak melulu harus kolase tulisan digunting terus ditempel, atau pakai tinta Riso (Risograph, red.), atau harus standar pengetikan tertentu. Tulisan tangan itu bisa kita sebut zine juga. Selama berawal dari diri kita, lalu didistribusikan,” tegas Aza.
Di era digital, zine bahkan terus berkamuflase; ada yang dirilis dalam format digital penuh, hingga menjadi produk turunan meta yang mencakup inovasi seperti teknologi blockchain.
Yang paling menarik adalah bagaimana jangkauan zine ternyata mampu menembus batas-batas geografis. Narasi skena underground tidak melulu berpusat di Pulau Jawa atau Jakarta. Aza dengan bangga menyebut bahwa ia memiliki koleksi zine dari Tual di Maluku, yang dibuat oleh pemuda lokal sepulangnya ia berkuliah dari Jawa. Ia juga sedang gencar mengumpulkan arsip dari skena Palembang, Pontianak, Sampit dan daerah luar Jawa, berangkat dari rasa penasarannya atas wilayah lain di luar “hegemoni” Jawa,
“Kota-kota kecil itu menarik. Aku pengin tahu, di tempat-tempat kecil yang nggak ada pabrik gedenya, yang makannya masih nyantai, mereka itu bikin apa sih?”
Jejaring yang luas dan organik ini membuat Aza menyimpulkan zine sebagai sebentuk teknologi kemanusiaan. “Aku ngerasa, kalau blockchain itu dilakuin secara manual, secara kemanusiaan, ya zine ini adalah blockchain-nya manusia. Ia terdesentralisasi, saling terhubung tanpa ada pusatnya,” paparnya
Bukan hanya wilayahnya yang beragam, isinya pun penuh kejutan. Zine menjadi medium yang sangat lentur untuk berbagai ide. Pada 2016, komunitas Cassette Store Day di Yogyakarta merilis sebuah zine yang secara rinci membedah tutorial cara menggelar tur musik hingga ke luar negeri. Sebuah informasi yang mungkin bernilai mahal jika dibuat dalam bentuk buku komersial, namun di dalam kultur zine, pengetahuan itu dibagikan secara cuma-cuma dan diizinkan untuk bebas-digandakan.
Di sisi lain, zine juga bisa menjadi wadah bagi kegilaan dan kebebasan berekspresi. Salah satu koleksi paling membekas bagi Aza adalah sebuah komik zine rilisan 2021 berjudul Aku Muak Mengenakan Celana Dalam.
“Itu konyol banget. Kok bisa ada orang sekonyol ini, bikin komik, pakai duitnya sendiri ke fotokopian, lalu jalan kaki bagi-bagiin gratis ke orang-orang? Kalau ditolak di jalan, ya dia nggak peduli. Ya itulah perjalanannya sebagai personal, sebagai seniman,” ujarnya takjub.
Aza bahkan bergurau bahwa ia masih sangat penasaran dan berharap suatu hari bisa menemukan zine buatan dukun yang berisi tutorial menyantet atau menolak santet.
Zine Sebagai Senjata

Kutipan Duncombe yang tertempel di tengah meja di Pameran zine “Antar Kota Antar Zinemaker” pada Minggu (08/03). (PERSPEKTIF/Haidar)
Manusia hidup membawa bermacam-macam ekspresi, dan zine memang ada untuk menyalurkan ragam ekspresi itu. Termasuk juga ekspresi untuk melawan. Di Indonesia, fungsi zine sebagai medium perlawanan sudah menyala terang sejak kemunculannya. Ketika rezim Orde Baru berkuasa dengan tangan besi, komunitas seni Taring Padi di Yogyakarta, misalnya, menerbitkan Terompet Rakyat pada tahun 1998. Publikasi ini menjadi ruang perlawanan dan kritik sosial-politik yang tajam terhadap kezaliman rezim saat itu. Di tempat lain, tepatnya di Bandung, kolektif anarkis juga turut menyebarkan gagasan anti-kapitalis melalui zine bertajuk Kontaminasi Kapitalis.
Lebih dari isu politik kenegaraan, zine adalah ruang aman bagi suara-suara minoritas dan kelompok terpinggirkan yang tidak mendapat tempat di media arus utama. Pada skala global, era 90-an melahirkan zine Riot Grrrl yang mengusung nilai-nilai feminisme punk anti-patriarki, serta publikasi Queercore yang melawan homofobia.
Semangat aktivisme tersebut terus diwariskan hingga hari ini. Zine kerap dimanfaatkan oleh banyak orang untuk mengangkat wacana mengenai isu agraria, pelanggaran HAM, lingkungan hidup, hingga isu-isu feminis keseharian. Aza menyebut bahwa zine di Malang pernah menjadi medium bagi kawan-kawan perempuan yang muak dengan budaya seksis dan catcalling di gigs melalui terbitan bertajuk 101 Pelecehan Seksual Skena Hardcore Punk dan Upaya Penanganannya. Kini, tidak hanya anak punk atau metal, banyak kolektif atau individu dari kultur suporter sepak bola hingga seniman graffiti pun kian ramai memproduksi zine untuk merespons keresahan di skenanya.

Sampul zine berjudul 101 Pelecehan Seksual Skena Hardcore Punk dan Upaya Penanganannya (RIOTKLAB)
Pilihan untuk bersuara lantang ini tentu tidak lepas dari bayang-bayang represi. Semakin berani isu yang diangkat, semakin besar pula risiko pembungkaman.
Aza menceritakan sebuah peristiwa pahit yang menimpa skena zine di Pontianak pada akhir Juli tahun lalu. “Teman-teman yang bikin Pontianak Zine Fest 2025 itu kena pengawasan aparat. Gara-gara diawasi polisi, mereka sampai harus menutup akun. Bingung jadinya kita mau follow gimana. Kalau akunku ini sebentar lagi juga hilang, ya enggak masalah. Wong itu cuma akun. Ada banyak cara lain kan? Ya cara lainnya aktivasi kayak gini-gini (acara luring, red.),” ujarnya getir.
Ia menyayangkan mengapa ekspresi mandiri yang sekadar difotokopi ini harus dianggap berbahaya oleh negara.
Sayangnya, meski membawa nilai literasi yang tinggi, penghargaan terhadap zine di negeri ini masih sangat minim. Aza membandingkan perlakuan universitas di Indonesia dengan kampus-kampus di Amerika Serikat, seperti Barnard University, yang memiliki ruang khusus Barnard Zine Library dan rutin membeli zine sebagai bagian dari koleksi perpustakaan mereka.
“Kalau di Indonesia, zine masih dianggap sepele. Kadang cuma dianggap fotokopian yang berakhir jadi bungkus lombok di pasar,” keluhnya.
Namun, di tengah segala ancaman dan sikap apatis tersebut, mesin fotokopi akan terus menyala. Semangat untuk berbagi tanpa pamrih adalah bahan bakar utamanya. Menurut Aza, para zinemaker ini bertahan dengan alasan yang sangat sederhana. Sama halnya seperti pedagang pasar yang setiap pagi secara rutin menjajakan dagangannya, para pembuat zine ini menemukan panggilan jiwanya di sana.
“Seminimalnya ya berbagi pengetahuan agar tongkrongan kita lebih menghargai manusia,” pungkasnya.
Kerja-Kerja Merawat Keabadian
Menjadi seorang pengarsip mulanya tak pernah muncul dalam benak Aza. Titik tolaknya justru bermula dari sebuah ketidaksengajaan di tahun 2018, saat ia masih berprofesi sebagai pengemudi ojek daring. Saat itu, ia mendapat penumpang seorang mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) yang memintanya diantar ke acara Malang Zine Fair.
“Waktu itu malam-malam, aku dapat customer mahasiswi UM, anak Lamongan. ‘Mau ke mana, Mbak?’ Dia jawab: ‘Mau lihat Malang Zine Fair’. Aku sebagai Gojek nanya, apa itu zine? Aku bukan anak skena yang nongkrong,” kenangnya sambil tertawa.
Dari sanalah rasa penasarannya terpantik. Namun, pemicu utamanya untuk mulai mengumpulkan dan mengarsipkan zine secara serius terjadi pada tahun 2021. Aza dititipi satu kardus penuh berisi zine oleh seorang kawan dari Ampelgading, Kabupaten Malang, bernama Mas Dikin saat Malang Zine Fair 2021. Nahas, setelah dititipkan kembali, koleksi fisik tersebut raib. Lebih parah lagi, komputer miliknya yang menyimpan data dokumentasi zine tersebut rusak, membuat semua arsipnya lenyap tak bersisa.
“Dari situ aku merasakan secuil penderitaan yang dialami Pram (Pramoedya Ananta Toer, red.) saat buku dan arsip-arsipnya dibakar oleh tentara. Kok gini ya cara memperlakukan hal yang seharusnya terhormat?” sesalnya.
Kejadian traumatis itu memicu sebuah tekad. Mulai saat itu, ia mendedikasikan dirinya untuk mendokumentasikan zine. Kerja kerasnya tidak main-main. Hingga saat ini, @arsipzine menyimpan sekitar 250 koleksi zine fisik dari berbagai wilayah di Indonesia, belum termasuk puluhan giga data digital yang tersimpan rapi di dalam hard disk-nya. Data digital itu melimpah, cukup untuk dijadikan bahan konten media sosial selama berbulan-bulan ke depan. Di awal pembentukan akunnya, ia juga sempat membagikan zine-zine awal miliknya yang dicetak secara swadaya menggunakan printer rumahan pada masa pandemi COVID-19, saat ekonomi sedang sulit.
Menurutnya, kerja-kerja pengarsipan zine adalah proyek krusial. “Ini kerja-kerja merawat keabadian, Mas. Artinya, kalau kita libur aja sehari, kita bisa kelewatan momen itu untuk selamanya,” katanya.
Lebih jauh, pada awal 2024, Aza mengikuti program perpustakaan dan pengarsipan di Indonesian Visual Art Archive (IVAA) di Yogyakarta. Di sana, ia belajar tentang sistem katalogisasi dan pemilihan subjek, meskipun ia menyadari banyak lembaga masih kebingungan tentang bagaimana cara paling tepat memperlakukan zine sebagai sebuah dokumen arsip.
Nasib Baik Bernama Perjumpaan
Sebelum saya berpamitan pulang, Aza secara tak sengaja dan tak dinyana memperlihatkan secara langsung kepada saya bagaimana ekosistem zine ini bernapas dan beroperasi. Di tengah keramaian Ruangriang Fest, seorang pengunjung tiba-tiba menghampiri lapak pameran. Setelah mengamati beberapa koleksi dengan saksama, ia menyapa Aza dan memperkenalkan diri. Pria itu ternyata adalah personel salah satu band lokal asal Sumberpucung, sebuah kecamatan yang berjarak sekitar 45 menit perjalanan darat dari Gondanglegi.

Aza yang sedang berbincang dan bertukar zine dengan pengunjung di Pameran zine “Antar Kota Antar Zinemaker” pada Minggu (08/03). (PERSPEKTIF/Haidar)
Tanpa ragu, pria itu merogoh tasnya dan mengeluarkan eksemplar kertas fotokopian. Itu adalah zine buatan bandnya sendiri. Tanpa banyak basa-basi, tradisi kultural yang telah mengakar sejak era 90-an itu pun terjadi tepat di depan mata saya: mereka berdua melakukan barter.
Menariknya, pria dari Sumberpucung itu mengaku sama sekali tidak merencanakan perjumpaan ini. Niat awalnya datang ke Ruangriang Fest hanyalah untuk mengantar sang adik memburu pakaian bekas di area thrift shop yang kebetulan posisinya terletak 1 lantai di atas area pameran. Namun, matanya tak sengaja menangkap jejeran kertas hitam putih yang terasa familiar.
Zine, pada akhirnya, terbukti memiliki daya magisnya sendiri. Ia selalu menemukan celah untuk mempertemukan ide-ide yang berserakan, merajut jejaring pertemanan baru, bahkan di tempat dan waktu yang paling tidak disangka-sangka sekalipun.
Pada perjalanan pulang, di kepala saya berputar satu lagu dari Senartogok. Judulnya adalah Perpustakaan Jalanan.
Menyulap sempitnya ruang publik/Milisi mungil berbagi hal menarik/Singgah sejenak jika kau tertarik/Sekedar berteduh selagi hujan rintik.Rasanya tidak ada yang lebih pas dari itu untuk menggambarkan apa yang saya saksikan seharian di Gondanglegi. Orang-orang seperti Aza, membuktikan bahwa sirkulasi ide selalu punya jalannya sendiri untuk merdeka. Dan selama masih ada manusia yang bersedia singgah untuk membaca, geliat zine ini tak akan pernah berhenti kehabisan napasnya. (hr, nat)





