Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Di Bawah Langit Abu-abu

Ilustrator : Labib Fairuz
Oleh: Amalia Fajrin*
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Cerpen ini merupakan lanjutan dari cerpen yang berjudul “Semicolon”, dapat anda baca terlebih dahulu melalui https://lpmperspektif.com/2022/10/16/semicolon/.

“Selamat sore, saya Dr. Andy!” 

Ratna memandang kosong pria di hadapannya saat ini. Bibirnya tidak bergerak, terkunci rapat. Sepersekian detik suasana sunyi, hingga suara Kristin akhirnya memecah keheningan yang sengaja dibuat. 

“Sore, Dok” balas Kristin singkat, berusaha tersenyum walaupun mulutnya tertutup masker. 

“Bagaimana perkembanganmu Ratna? Obat sudah dihabiskan?” Dr. Andy menatap lurus gadis berambut hitam pekat ini, kedua jemarinya ia tautkan di atas meja yang dingin. 

“Obat?” Ratna berusaha mengingat bagaimana nasib obat itu. Terakhir ia biarkan obat sialan itu tergeletak berantakan di bawah tempat tidurnya. Ah, pantas fantasinya semakin liar saja hari ini, seingatnya sudah lima hari ia tidak mengonsumsi obat-obatan yang diresepkan Dr. Risa sejak dua minggu lalu. Bagaimana pula nasib ia nanti jika Kristin tahu kelakuan keponakannya yang tidak tahu diri itu?

“Sudah,” Ratna menghela nafasnya.

“Sudah habis” lanjutnya, ia menengok ke samping dan tersenyum, berusaha meyakinkan Kristin.

Angin menerbangkan beberapa helai rambut hitamnya, jari mungilnya bergerak untuk menyisipkan beberapa anak rambut yang menutupi penglihatannya. Ia mengeratkan kardigan rajut favoritnya. Kedua netranya menatap sekeliling. Sepi, pikirnya. Hampir dua minggu Ratna hidup di rumah sakit sejak percobaan bunuh diri digagalkan kembali. Raganya hidup, tetapi jiwanya mati dan di sinilah ia sekarang, di rooftop rumah sakit, seorang diri. Fisiknya masih lemah, namun ini tiga kali lebih baik dari hari pertama ia dirawat. 

Ratna beranjak dari kursi rodanya, tangannya merasakan dinginnya pembatas besi berkarat di depannya. Lampu kota terlihat gemerlap di bawah langit abu-abu. Cahayanya megah, berkilauan. Baru saat ini Ratna melihat ada warna lain selain hitam dan putih setelah ibunya pergi.  Kilatan terpercik di bola matanya. Seperti biasa, Ibu kota terlihat sibuk, tetapi melihatnya dari atas sembilan lantai, entah kenapa membuat perasaannya lebih baik untuk saat ini. Sepuluh menit pertama perasaan tenang itu seketika lenyap tergantikan dengan kalut merasuki dadanya. Gadis bodoh, pikirnya. Tidak, ia tidak bodoh. Andai saja hidup dapat sedikit lebih baik kepadanya. Andai saja semesta dapat bersikap ramah padanya. Andai saja dunia memperlakukannya dengan lembut. Andai saja ia memiliki kekuatan untuk menghilang —dalam artian benar-benar menghilang— pergi jauh sampai menemukan kehidupan yang dapat memperlakukan dirinya serta ibunya dengan lebih layak. 

Namun, demi apapun Ratna sendiri tidak tahu sudah berapa kali ia menyakiti dirinya sendiri. Percobaan untuk menghilangkan nyawa seolah tidak ada artinya saat ini. Ia juga tidak tahu mengapa ia melakukan itu. Itu di luar kendalinya. Ratna lelah dengan iblis yang merasuki kepalanya, yang selalu membuat skenario segila dan semengerikan itu. Orang-orang bilang ia sakit, tapi dirinya tidak merasakan rasa sakit. Jadi, untuk apa ia meminum obat itu? Apa yang harus disembuhkan?

“Tante mau kamu sembuh, Ratna” Kristin menautkan jemarinya dengan jemari keponakannya. Keduanya berjalan lurus melewati koridor panjang hingga di suatu persimpangan, suara bariton menggema memenuhi lorong. 

“Kristin!”

Lanjutan Cerpen Bersambung (https://lpmperspektif.com/2022/11/13/kue-manis-berkumis/)

(Visited 247 times, 1 visits today)
*) Penulis merupakan mahasiswi jurusan Psikologi 2021 FISIP Universitas Brawijaya. Saat ini sedang aktif di divisi sastra LPM Perspektif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts