Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Kue Manis Berkumis

Illustrator : Putri Gemilang H.
Oleh: Putri Gemilang Hutajulu*
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Cerpen ini merupakan lanjutan dari cerpen yang berjudul “Di Bawah Langit Abu-Abu”, dapat anda baca terlebih dahulu melalui https://lpmperspektif.com/2022/10/30/di-bawah-langit-abu-abu/

“Kristin!”

Ratna enggan menoleh. Kelewat kenal dengan suara bariton yang selama hidupnya tidak pernah absen didengarkannya ketika ibu melakukan kesalahan. Biasanya, setelah hening, suara bariton itu akan diiringi tangisan, teriakan putus asa, dan suara memelas ibu memohon untuk tidak disiksa. Tante Kristin melonggarkan tautan jemarinya pada jemari Ratna dan Ratna tidak cukup bodoh untuk mengerti bahwa isyarat tersebut bermakna Ratna harus segera berjalan sendiri, meninggalkan wanita tersebut berbicara dengan ayah. Benar, itu ayah. 

“Ada apa?” tante Kristin menyahut ayah, sedikit mendorong pundak Ratna agar dirinya segera pergi. Tetapi, tidak tahu kenapa, Ratna tidak mampu bergerak sesenti pun. Kepalanya semakin penuh, dadanya tiba-tiba semakin sesak, dan wajah ibu yang tersiksa terlihat begitu menyeramkan pun menyakitkan di kepalanya. Kepala ibu tampak berdarah-darah dan wajahnya kusam penuh bekas air mata. Dari arah samping, sebuah vas bunga dilempar seseorang ke kepala Ibu mengakibatkan pecahan kaca tersebut menusuk kulit muka ibu dengan tragisnya. ‘Ratna, ini ibu.., berhenti, nak’ tangisan dan teriakan dengan kalimat itu menggema berulang-ulang. 

Sepersekian detik berikutnya, Ratna kambuh. Dirinya tersungkur di lantai dan berteriak kesakitan. Tangannya menutup erat kedua telinganya. Beberapa detik kemudian, entah siapa yang menggerakkan kepalan tangannya untuk memukuli dirinya sendiri. Gemetar hebat melanda Ratna setelah dirinya merasakan jarum suntik menyelinap masuk ke kulitnya hingga semua gelap.

***

Suasana pagi yang hangat menyapa Ratna ketika dirinya membuka mata. Rumahnya tampak begitu ramai dan aroma masakan ibu menyeruak ke dinding-dinding penciumannya. Ratna beranjak keluar dari kamar dan melihat ada kue berukuran sedang diatas meja di depan televisi. Ratna berlari kecil, lalu duduk diam menatap kue dengan penuh liur bak singa menatap daging. Tidak tahan lagi, ratna menyolek sedikit krim dari pinggiran kue. Ratna berbinar kegirangan, ‘ini kue buatan ibu, pantas enak sekali!’ pikirnya. 

Tak merasa cukup, dirinya menyolek krim kue tersebut hingga sebelah kiri kuenya telanjang, tidak ada krim lagi. Ratna terkejut atas perbuatannya sendiri kemudian mengambil pisau kue berusaha menutupi perbuatan tidak senonohnya menelanjangi kue dengan krim lain yang menjadi topping kue. Ketergesa-gesaannya kemudian terbungkam oleh tawa kecil ibu dan langkah kakinya yang terdengar mendekat. Dari sisi lainnya, terdengar suara langkah kaki yang lebih berat bersamaan dengan sosok besar menjulurkan tangannya mendekat dan menarik dirinya hingga terangkat. 

Ratna berteriak dan menggeliat minta dilepaskan. Tetapi, sosok itu malah tertawa dengan suara beratnya yang khas. Tawa ibu juga ikut menyelinap di dalamnya bersamaan dengan suara piring yang berdenting sedang disusun di atas meja, di sebelah kue. 

“Siapa yang enggak sabar makan kue sampai kuenya botak?” Ratna menoleh kaget, itu ayah. Ratna menggeleng, mengisyaratkan bahwa bukan dirinya. Ayah menatapnya sambil tersenyum jahil dan masih menggendong Ratna, “lalu siapa dong pencuri kecilnya?”

“Pokoknya bukan Ratna tahu…, Ratna saja baru bangun tidur, hoam” Ratna menepuk-nepuk bibirnya, menguap pura-pura. Kedua orang dewasa tersebut tergelak lucu. Ayah menurunkan Ratna dan mendudukkan dirinya di tengah, tepat di depan kue. “Ya sudah, tiup lilin yuk? Ratna kan ulang tahun hari ini” Ujar ibu yang telah menancapkan lilin diatas kue yang sudah lebih dulu di eksekusi Ratna tadi. 

Pipi Ratna memerah, matanya berbinar, “Umur Ratna berapa, yah, bu?” tanyanya. Ayah menepuk sayang puncak kepala Ratna, “Tujuh tahun, sayang. Selamat ulang tahun ya? Jangan sedih, tahun depan kita tangkap pencuri krim kue ulang tahun Ratna, oke?” ujar ayah. 

Ratna melotot dan tersenyum malu, “Ish, dibilangin bukan aku ayah!” Ayah tertawa kecil, “Loh, ayah enggak ada bilang itu kamu kan?” pertanyaan tersebut menjadi percakapan terakhir tentang pencuri krim kue dan digantikan dengan gelak tawa jahil dan rengekan Ratna di ulang tahunnya kali ini. 

***

“Hati-hati ya sayang! Kalau ada motor lewat, menepi ya?” 

Ratna menggandeng beberapa paper bag berisi potongan kue ulang tahun dan beberapa makanan berat hasil masakan ibu yang ingin dibagikan ke tetangga sebagai bentuk ucapan syukur. Ratna sudah sangat dikenal di kompleks perumahannya ini jadi ibu merasa aman Ratna membagikan makanannya sendiri, terlebih agar Ratna juga mudah bersosialisasi dengan orang lain. 

Segalanya lancar, Ratna membagikan makanannya hingga tersisa rumah terakhir yang dihuni oleh seorang pria dewasa sendirian. Ratna mengetuk-ngetuk pintu rumah tersebut hingga memunculkan kepala sang pemilik rumah yang menyembul. “Oh, Ratna? Ada apa?” sapanya hangat.

“Ratna ulang tahun, om!” kata Ratna semangat sambil menjulurkan paper bagnya. Pria dewasa tersebut tersenyum senang, “Terimakasih ya, anak baik. Selamat ulang tahun!”

Ratna tidak menjawab. Dirinya hanya fokus melihat kue yang ada di genggaman pria tersebut. Ratna tidak pernah melihat bentuk kue yang seperti itu  – ditengahnya ada buah-buah, krim yang beruap, dan juga dilapisi roti. “Om, kuenya namanya apa?”

Pria dewasa tersebut sadar Ratna memperhatikan kuenya kemudian tersenyum, “Om juga lupa namanya apa,” Pria tersebut menggigit kuenya, “Ratna mau coba?” pertanyaan tersebut dijawab anggukan semangat oleh Ratna dan ditanggapi dengan dekapan yang diperoleh Ratna dan dirinya yang telah digendong masuk ke dalam rumah pria itu. 

Hal yang Ratna pahami dari kue tanpa nama itu adalah rasanya manis, berbau asap seperti rokok ayah, dan berkumis, membuat ibu menangis.

***

Sepi. 

Ratna menatap sekelilingnya untuk mengetahui dirinya sedang berada dimana. Tubuhnya terasa kaku dan lehernya terasa pegal hingga dirinya merintih. Rintihannya rupanya memancing beberapa orang mendekati kasurnya. Itu tante Kristin dan Dr. Andy. Ratna kemudian sadar bahwa dirinya masih di poli jiwa.

Bersambung…

(Visited 56 times, 3 visits today)
*) Penulis merupakan mahasiswi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Brawijaya angkatan 2020. Saat ini sedang aktif sebagai staff di divisi sastra LPM Perspektif

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts