Ada sebuah kota yang sangat disenangi pecinta buku. Orang-orang mengenalnya sebagai Kota Sastra. Bukan tanpa alasan kota itu dikenal seperti itu. Sudah sejak dulu, penduduk di kota itu bekerja sebagai pengarang. Banyak sekali karya sastra yang luar biasa lahir dari Kota Sastra. Tidak hanya itu, Kota Sastra juga dikenal dengan wisata sastranya. Seperti perpustakaan, toko buku, hingga kafe buku yang menawarkan beragam keunikan untuk menarik wisatawan yang mencintai buku. Kota Sastra benar-benar surga bagi pecinta buku. Tidak heran kota itu selalu ramai sehingga seperti kota yang tidak pernah tidur. Tapi memang banyak yang tidak tidur. Ada yang bergadang untuk menyelesaikan naskah dan ada yang bergadang untuk menyelesaikan buku bacaan yang sedang seru.
Akhir-akhir ini, kedamaian di Kota Sastra sedang terganggu. Pasalnya, ada wabah virus yang menyerang kotak imajinasi. Akibatnya, para pengarang kehilangan imajinasi dan tidak bisa menyelesaikan naskah mereka. Kericuhan juga terjadi di perusahaan penerbitan. Mereka khawatir jika wabah virus terus melanda Kota Sastra, buku bisa menjadi langka. Tanpa buku, Kota Sastra akan menjadi kota mati.
Kabar mengenai wabah virus di Kota Sastra sudah terdengar sampai kota tetangga. Mereka cemas wabah virus akan menyerang kotak imajinasi milik mereka. Meski tidak menggunakannya untuk mengarang buku, imajinasi sangat berharga bagi mereka. Karena imajinasi, mereka bisa bertahan hidup. Untuk alasan itu, mereka mendesak pemerintah untuk menutup akses ke Kota Sastra. Akibatnya, banyak sekali wisatawan yang terperangkap di Kota Sastra. Mereka tidak bisa pulang ke kota asal karena dikhawatirkan bisa membawa virus dari Kota Sastra.
Makin hari kericuhan makin memanas. Para pengarang bersikeras ingin menyelesaikan naskah meski kotak imajinasi mereka tidak bekerja. Mereka sama sekali tidak tidur. Agar tidak lelah, mereka meminum bercangkir-cangkir kopi. Keadaan mereka sangat mengenaskan. Rambut berantakan dengan wajah pucat, bibir kering, dan mata yang cekung. Pasien di rumah sakit pun mulai membeludak. Dokter kebingungan karena tidak ada obat yang benar-benar bisa menyembuhkan asam lambung kecuali pikiran dan pola hidup yang sehat. Keadaan mengkhawatirkan itu terus berlangsung dalam waktu yang lama.
***
Sudah sebulan berlalu, pemerintah belum menemukan solusi untuk mengatasi wabah virus itu. Kota Sastra menjadi sangat suram. Surga pecinta buku itu menjelma menjadi neraka. Hingga suatu hari yang tidak terlalu cerah, sedikit berawan, muncul sebuah kabar.
“Kau sudah dengar? Katanya ada yang menemukan kertas imajinasi.”
“Di mana?”
“Kafe buku di pinggiran kota.”
Seketika kabar itu menjadi topik hangat di Kota Sastra. Menyebar dari mulut ke mulut. Meski para pengarang tidak yakin, namun tidak ada salahnya untuk mencoba.
Kertas imajinasi bukan nama yang asing bagi para pengarang. Sesuai dengan namanya, kertas itu bisa membuat imajinasi terus muncul tanpa batas sehingga pengarang tidak akan kehabisan ide cerita. Konon katanya, dulu ada seorang pengarang yang menemukan kertas imajinasi setelah pulang mengembara. Sayangnya, tidak ada yang percaya padanya meski sudah menunjukkan kertas itu pada semua orang. Karena tidak ada yang percaya, orang-orang menyebutnya pengarang gila. Namun siapa sangka, pengarang yang disebut gila itu menjadi sastrawan tersohor di Kota Sastra. Sejak itu, kehidupan pengarang itu tidak tenang. Dia diincar oleh orang-orang yang berusaha merebut kertas imajinasi. Pengarang itu benar-benar menjadi gila dan meninggal dunia. Keberadaan kertas imajinasi juga tidak tahu di mana. Ada yang pernah menggali kuburan pengarang itu, namun mereka tidak menemukan apa-apa. Sejak saat itu, kabar mengenai kertas imajinasi tidak lagi terdengar. Hingga kabar mengenai kertas imajinasi datang menggemparkan seisi kota.
Para pengarang yang sudah putus asa berbondong-bondong pergi ke kafe buku itu. Antrean panjang memenuhi kafe buku itu sehingga banyak pengarang yang tidak kebagian. Akhirnya, mereka mendirikan tenda agar bisa segera menyerbu begitu kafe buku itu buka.
Kafe buku itu memiliki aturan. Untuk menemukan kertas imajinasi yang terselip dalam buku, mereka harus menggunakan tiket untuk menyusuri rak buku. Syaratnya harus membeli makanan atau minuman dengan total belanja lima puluh ribu, mereka bisa mendapatkan satu tiket. Mereka diberi waktu lima menit untuk menyusuri rak buku. Jika ingin menyusuri lebih lama, mereka harus punya lebih dari satu tiket. Makin banyak belanja dengan kelipatan lima puluh ribu, makin banyak tiket yang mereka peroleh.
Aturan yang diterapkan kafe buku itu mencekik para pengarang yang terkendala finansial. Akibatnya, tindakan kriminal mulai merajalela. Perampokan dan pencurian harta orang kaya hingga melakukan pembobolan kafe buku. Namun, tidak berhasil dilakukan. Rak buku dilindungi dengan sandi pengaman. Karena amarah yang tidak tertahankan, mereka melempar kafe buku itu dengan batu hingga dinding kaca pecah berhamburan.
Tindakan kriminal terus terjadi setiap hari. Aparat keamanan tidak memiliki hari libur. Setiap saat telepon di kantor mereka terus berdering. Penjara menjadi penuh. Aparat keamanan mulai mengeluh dan mendesak pemerintah untuk segera menemukan solusi mengatasi tindakan kriminal yang merajalela.
Pemerintah mengadakan rapat besar. Hasil dari rapat itu menyatakan bahwa pemerintah akan membuka author loan. Para pengarang bisa meminjam uang untuk membeli tiket agar tidak melakukan tindakan kriminal dan Kota Sastra bisa segera membaik jika mereka lekas menemukan kertas imajinasi. Pemerintah tersenyum bangga dengan pemikiran yang mereka anggap hebat.
***
Dalam sebuah ruangan yang interiornya didominasi warna abu-abu, tampak seorang laki-laki berusia empat puluhan dan seorang pemuda berusia dua puluhan. Laki-laki itu memiliki postur tubuh yang bagus dengan kumis tipis di wajahnya, rambut gondrong sebahu, dan mengenakan kemeja yang bagian lengannya digulung. Tangan kanannya memegang pipa cerutu dan sesekali mengarahkan ke mulutnya untuk mengisapnya. Tangan kirinya memegang sebuah tablet. Terlihat seperti sedang melihat sesuatu. Bibir tebalnya menyunggingkan senyum yang penuh dengan rasa bangga. Laki-laki itu mengangkat wajahnya dan menatap pemuda di hadapannya. Seorang pemuda bertubuh jangkung dengan potongan rambut pendek yang rapi serta berpenampilan kasual dengan mengenakan kaos dan celana jeans. Pemuda itu menatap laki-laki itu dengan tenang.
“Bagus sekali. Makin menguntungkan. Terus tingkatkan.”
“Baik, Bos. Semua berkat ide brilian dari bos.”
Laki-laki yang dipanggil bos itu tersenyum makin lebar. Pemuda itu tersenyum tenang, lalu berkata, “Tapi, kertas imajinasi itu apakah sungguh ada?”
“Tentu saja. Aku berhasil merebutnya dari pengarang gila itu,” ujar laki-laki itu sembari meletakkan tabletnya di atas meja.
“Bagaimana wujud kertasnya, Bos?”
“Seperti kertas biasa, namun berwarna emas.”
“Apakah kertas itu benar-benar berfungsi?”
“Tentu saja. Kau pikir darimana aku mendapatkan ide brilian itu,” ujar laki-laki itu sembari mengisap pipa cerutunya lalu mengembuskan asapnya.
“Kembali bekerja dan terus sebarkan kabar itu. Aku ingin kafe bukuku makin ramai,” lanjutnya.
Pemuda itu tersenyum dan mengangguk lalu melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan laki-laki itu.
***
Kabar tidak terduga datang menggemparkan Kota Sastra. Mengundang amarah para pengarang. Berbondong-bondong mereka pergi ke kafe buku itu dan menghancurkannya untuk menyalurkan amarah mereka yang tidak terbendung. Untungnya, pemilik kafe buku itu belum sempat melarikan diri sehingga dengan mudah diringkus oleh aparat keamanan. Sebenarnya, dia juga tidak tahu apa yang sedang terjadi. Dia ditangkap dalam keadaan masih tidur.
Para pengarang menuntut ganti rugi atas penipuan yang dilakukan pemilik kafe buku itu. Seharusnya mereka tidak boleh percaya begitu saja. Kertas imajinasi itu benar-benar tidak ada. Pemilik kafe buku itu meraup keuntungan dari rasa putus asa para pengarang.
Kabar itu menjadi topik hangat yang dibicarakan hingga terdengar sampai kota tetangga. Sepertinya tidak ada hari yang damai di Kota Sastra. Meski begitu, kejadian yang belakangan terjadi di Kota Sastra membuat para pengarang memiliki pandangan baru. Mereka tidak lagi memaksakan diri untuk menyelesaikan naskah. Mereka menganggap wabah virus itu sebagai waktu untuk beristirahat. Para pengarang belajar berdamai dengan keadaan.
***
Seorang sipir membuka pintu penjara lalu memanggil seorang tahanan. Sipir itu memborgol tahanan itu dan menuntunnya menuju sebuah ruangan. Kemudian sampailah mereka di ruangan yang dituju. Di hadapannya duduk seorang pemuda. Tahanan itu duduk berhadapan dengan pemuda itu. Ada kaca yang memisahkan mereka berdua.
“Ternyata, kau tidak punya malu. Masih menemuiku setelah menyebarkan kabar bohong,” ujar tahanan itu.
Pemuda itu tidak mengeluarkan satu kata pun. Dia hanya memandang tahanan itu dan tersenyum tenang. Sangat tenang sehingga membuat siapa pun tidak bisa menerka apa yang pemuda itu pikirkan. Namun, senyum yang tenang itu menyulut api kemarahan tahanan itu. Dia memukul kaca pemisah dan mengeluarkan sumpah serapah. Dua sipir segera menangkap tahanan itu dan membawanya keluar dari sana. Pemuda itu melirik arloji di tangannya lalu melangkahkan kaki meninggalkan ruangan itu.
Pemuda itu tiba di sebuah tempat. Dia pernah berjanji pada seseorang di sana. Pemuda itu terus berjalan hingga dia berhenti pada sebuah batu. Pemuda itu mengeluarkan sebuah kertas. Dia menyulutkan api dari korek dan membakar kertas itu. Dia termenung mengamati kertas berwarna emas itu habis dilahap api. Kemudian pemuda itu mengusap perlahan batu di hadapannya.
“Ayah, aku berhasil menuntaskan wasiatmu.”
Setelah berkata seperti itu, dia beranjak meninggalkan batu itu. Semuanya sudah tuntas. Bahkan angin turut membantu menuntaskannya dengan menerbangkan sisa pembakaran kertas itu. Hari itu, ketenangan yang sesungguhnya menyelimuti pemuda itu.





