Lompat ke konten

Nobar Rumah Ketigaku: Melihat Kompleksitas Hidup Perempuan Migran dan Solidaritas Buruh

Acara nonton bareng (Nobar) dan Diskusi Film Rumah Ketigaku yang Digelar Beranda Migran di Kantor PKBI DIY (PERSPEKTIF/Arum)

Yogyakarta, PERSPEKTIF – Sejumlah purna pekerja migran mengisi area kosong untuk menyaksikan film Rumah Ketigaku di Kantor Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) pada Sabtu (11/04). Film pendek berdurasi 21 menit ini memotret perjuangan perempuan pekerja migran dalam mencari keadilan dengan berbekal semangat solidaritas penghuni Bethune House.

Perempuan pekerja migran menghadapi masalah yang berlapis, itulah yang hendak disuarakan oleh Francis Catedral, sang sutradara. Mulai dari beban finansial dari keluarga di tempat asal, beban kerja di rumah host family, hingga ketiadaan jaminan sosial. 

Film tersebut mengisahkan Yuli, seorang pekerja migran yang menjadi tokoh utama film, telah bekerja bagi sebuah keluarga di Hongkong selama enam tahun. Suatu hari Yuli mendapat diagnosis batu ginjal dan semenjak saat itu memperoleh perlakuan semena-mena dari keluarga tempatnya bekerja. Kendati membawa pulang surat sakit dari Queen Elizabeth Hospital, keluarga ‘majikan’ tetap menyuruhnya bekerja. Ia menjadi kerap dimarahi setelah keluarga tahu akan penyakitnya. Hingga akhirnya kontrak Yuli diterminasi dengan alasan menderita penyakit. 

Yuli menggiring ketidakadilan yang menimpanya bersama komunitas migran bernama Bethune House. Pada film ini, suara Yuli kembali memenuhi sidang untuk keempat kalinya meski hakim lagi-lagi tidak memberikan hasil yang diharapkan.

Bagi Catedral, yang kerap disapa Cal, mengangkat kisah individu pekerja migran adalah bagian dari misinya supaya audiens dapat memahami kesulitan berlapis yang dialami pekerja migran. 

Rumah Ketigaku menjadi buah refleksi Cal atas perjalanan keluarganya sebagai pekerja migran dan pengalaman tinggal di Hongkong selama tujuh tahun. Cal banyak menyaksikan realita kehidupan pekerja migran Filipina maupun Indonesia di Hongkong sehingga film ini turut menjadi medium untuk mengapresiasi kegigihan mereka. 

“Banyak orang tidak tau apa artinya menjadi pekerja migran. Terlepas dari realita dan kesedihan dalam film, saya ingin menunjukkan kekuatan komunitas dan organisasi dalam mendukung teman-teman di Hongkong berjuang untuk hak-haknya,” ungkap Cal (11/04).

Selain itu, Cal menyatakan bahwa ia menyadari meski terdapat perbedaan bahasa antar pekerja migran, ‘shared difficulties’ menjadi ‘shared language’ mereka. 

Hal ini dikonfirmasi oleh Nur, salah satu purna migran yang hadir di lokasi.

“Ketika kami bertemu, kami kerap menceritakan pengalaman masa lalu. Pengalaman itu tidak harus sesuatu yang besar atau katastropik. Beberapa scene dari film sejujurnya men-trigger trauma saya,” papar Nur (11/04). 

Elis, teman Nur yang hadir, turut menyambut baik dokumenter tersebut karena mampu memperlihatkan masalah pekerja migran secara mendalam. 

“Bisa ditayangkan di kampus-kampus supaya lebih aware tentang kondisi migran. Kalau baca biasanya masalah berkaitan dengan hukum, tapi belum masuk ke masalah keseharian yang sifatnya kompleks,” ujar Elis. 

Cal mengaku bahwa film ini secara sengaja belum memperlihatkan sisi politik mengenai keterlibatan negara asal maupun host country. Bagian tersebut akan dimuat dalam film versi panjang yang diperkirakan rilis pada akhir tahun. 

(zn, nat)

(Visited 48 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts

Apa yang kamu cari?