Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Dongeng Negeri Pelangi

Oleh: Choridatul Fitria*
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Dengan berjinjit kecil, seorang gadis kecil nampak sedang menopangkan dagu pada jendela kayu yang sudah usang. Matanya menatap lurus butiran air yang menetes deras dari atas langit. Diluar hujan sedang turun disertai badai angin. Namun, hal itu tidak membuatnya takut sama sekali. Hanya ada satu hal dalam pikirannya saat ini. Ia berharap hujan akan segera reda, sehingga ia dapat mengunjungi rumah kakek tua yang berada diujung desa untuk mendengarkan kisah tentang negri pelangi.

“Alcie, tutup jendelanya dan cepat masuk kamar! Badainya sedang besar, terlalu lama berada disana akan membuatmu sakit”

“Kapan badai ini akan berakhir, Bu? Alcie ingin mengunjungi rumah kakek Amos”

“Untuk apa? Bukankah baru kemarin kamu mengunjungi kakek Amos bersama teman-temanmu?”

“Alcie ingin mendengar kisah negeri pelangi dari kakek Amos”

“Lagi? Sudah berapa kali ibu bilang kalau negri Pelangi itu tidak ada? Kakek Amos hanya membual Alcie”

“Sudah berapa kali Alcie bilang, negeri pelangi itu benar-benar ada, Bu? Kakek Amos tidak membual!”

“Terserah kau saja, sekarang masuk kedalam kamarmu!”

“Kalau benar kakek Amos hanya membual, lalu kemana kakek Amos selama menghilang dari negri ini, Bu? Bukankah masuk akal jika selama ini kakek Amos sedang berpetualang menemukan negri Pelangi?”

“Jika memang benar kakek Amos telah berpetualang dan menemukan negri Pelangi yang subur dan penuh kehangatan sinar matahari dengan sumber makanan melimpah, lalu mengapa kakek Amos kembali menempuh perjalanan sulit untuk pulang ke negeri awan yang selalu dililit paceklik dan hanya dipenuhi hujan badai tiap harinya?”

“Istri kakek Amos meninggal, itulah alasan kakek Amos kembali! Kakek Amos tidak ingin menikmati keindahan negri Pelangi tanpa keberadaan sang istri disampingnya”

“Masuk Alcie! sebelum ibu mengurungmu dikamar selama waktu matahari bersinar sehingga kamu tidak bisa lagi bermain bersama teman-teman atau bertemu dengan kakek Amos”

Dengan amarah tertahan, tangan gadis kecil itu mulai bergerak menutup pintu jendela. Melangkah gontai menuju sebuah ruangan kecil yang dipenuhi dengan jerami. Melawan perkataan ibunya hanya akan membuatnya lelah dan semakin kesal. 

Lama memandangi kobaran api yang ada disudut ruangnnya, fantasi dalam kepala gadis mungil itu mulai bekerja. Ia membayangkan bagaimana jika ia menjadi sebenarani kakek Amos. Merasakan debaran jantungnya bekerja dua kali lipat menempuh perjalanan sulit menuju negri pelangi. Merasakan hembusan napas bahagia sekaligus lega ketika langkahnya berhenti didepan gerbang masuk negri Pelangi yang ditumbuhi bermacam-macam bunga indah seperti dalam cerita kakek Amos. Perlahan kedua sudut bibirnya mulai terangkat. Menampilkan senyuman polos anak kecil dengan sebuah angan besar dikepalanya. Mengapa hanya dengan membayangkannya sudah membuatnya begitu bersemangat seperti ini?

***

Berbeda dengan siang hari tadi, saat ini langit tampak sedikit bersahabat. Meskipun cahaya matahari tidak bisa sepenuhnya menembus awan hitam pekat yang selalu menyelimuti seluruh negri awan. Tak mau melewatkan kesempatan, dengan tergesa-gesa Alcie keluar dari kamar kecilnya yang dipenuhi tumpukan jerami kering, berlari dengan penuh semangat kerarah ujung desa untuk menemui kakek Amos. Kali ini ia datang dengan niat yang berbeda, bukan untuk mendengar kisah perjalanan kakek Amos menemukan negeri pelangi seperti yang biasa ia lakukan bersama teman-temannya selama ini. 

Ia datang untuk meminta tolong kepada kakek Amos, memohon agar kakek Amos memberikan peta perjalanan petualangannya mencari negri pelangi. Saat ini, ia tidak ingin lagi hanya menjadi pendengar atas kesuksesan kakek Amos menemukan negeri pelangi. Ia tidak ingin lagi tinggal di negeri awan yang selalu diselimuti hujan badai serta musim paceklik di sepanjang tahunnya. Ia ingin membuktikan pada ibunya bahwa negeri pelangi bukanlah bualan kakek Amos semata. Ia ingin turut menjadi saksi bahwa dengan menempuh sedikit perjalan penuh resiko, manusia dengan takdir buruk karena dilahirkan di negeri awan yang penuh badai dapat menemukan sebuah tempat yang lebih layak disebut negeri untuk ditinggali.

Memikirkan hal itu, membuat tekad Alcie semakin bulat. Tanpa banyak mempertimbangkan banyak hal, ia telah bertekad untuk mengikuti jejak kakek Amos. Menemukan negeri pelangi dan kembali ke negeri awan untuk menjemput sang ibu agar turut serta bersamanya — keluar dari gelapnya negeri awan untuk merasakan hangat dan indahnya negeri pelangi.

***

Disinilah Alcie saat ini, berdiri ditengah gerbang besar yang membatasi negeri badai dengan hutan lebat yang tidak ada siapapun tau bahwa terdapat makhluk mengerikan seperti apa yang ada didalamnya. Alcie memicingkan matanya ketika angin besar dengan sengaja menerpa wajah mungilnya seakan menyambut perjalanan berat yang akan dilalui gadis kecil itu. Beberapa kali ia meremas setelan baju lusuh yang dikenakannya, menghembus napas berat sambil berupaya meneguhkan hatinya untuk tetap maju melanjutkan perjalanan. Menyingkirkan rasa takut yang selama ini telah bersarang dalam diri penduduk negeri awan hingga membuat mereka harus terperangkap dalam negri yang penuh kegelapan dan kesengsaraan.

Alcie tak ingin lagi memiliki nasib seperti para penduduk negeri badai yang malang lainnya. Ia juga ingin merasakan hangatnya sinar matahari serta menikmati harum dan indahnya bunga berwarna warni yang tumbuh di negri pelangi seperti apa yang dirasakan kakek Amos dan istrinya. Dengan menggenggam erat sebuah peta besar yang digambar diatas lembaran kulit rusa pemberian kakek Amos ditangan kirinya, ia mulai melangkahkan kakinya. Dengan mantap, kaki mungil Alcie perlahan mulai menyibak tumbuhan liar yang tingginya bahkan melebihi tinggi badannya. 

Meskipun memikirkan resiko terburuk bahwa dia akan mati ditengah perjalanan karena diserang binatang buas atau tidak sengaja memakan tumbuhan beracun sebelum berhasil menemukan gerbang masuk negeri pelangi ia tak lagi gentar. Satu hal yang terlintas dalam kepala mungilnya saat ini hanyalah keinginan untuk bisa lepas dari kegelapan negeri badai dan membuktikan kepada ibunya serta seluruh penduduk negeri badai bahwa keberadaan negeri pelangi adalah nyata. Kehidupan yang dipenuhi kehangatan cahaya matahari serta diwarnai dengan indah dan harumnya berbagai macam bunga bukanlah cerita dongeng belaka.

(Visited 85 times, 2 visits today)
*) Penulis merupakan mahasiswi jurusan Ilmu Komunikasi 2020, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Brawijaya. Saat ini sedang aktif di Divisi Markom LPM Perspektif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts