Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Ketika Benderang Melangkah Pulang

Ilustrator: M. Rayyan Farhansyah
Oleh: Reyhan Fernanda Fajarihza*
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.

Sepenggalan sajak seorang legenda itu selalu menyisakan tanya di kepalaku. Seberapa sederhana kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu itu? Entahlah. Barangkali kata ‘sederhana’ sama fungsinya seperti kertas kado. Entah untuk memperindah, memperjelas, atau menyembunyikan—kita tak pernah mengerti hadiah apa yang benar-benar ada di dalamnya.

Yang jelas, kata-kata yang mungkin sederhana itu, adalah kutipan favorit seseorang yang sederhana pula.

Ialah Arunika Sekar. Layaknya kidung yang dilantunkan kala fajar menjelang, namanya juga terbilang sederhana. Lebih lagi kepribadiannya. Dari sekian banyak wanita yang pernah singgah, kebohongan terbesarku adalah menyebut seluruhnya sebagai sosok yang istimewa. Tetapi, ia berbeda (demi Tuhan, aku tak sedang berbicara layaknya buaya). Alih-alih istimewa, aku justru menyebutnya sederhana. Apa adanya. Bersahaja.

Pernah suatu ketika, selepas jam kerja, aku dan Arunika terjebak hujan di kedai kopi di sudut Jalan Veteran. Kami berbincang berdua saja, dari sore hingga menjelang larut malam. Di kala banyak orang meromantisasi hujan, seseorang, dan perbincangan sebagai komposisi tepat untuk menciptakan kenangan tak terlupakan, ia tak memberikan label apa-apa. Menurutnya, hujan tak lebih dari sebuah presipitasi berwujud cairan. Obrolan juga merupakan bentuk interaksi sosial yang lumrah dari dua atau lebih insan. Dan kenangan adalah bagian yang akan selalu ada pada setiap kepala dan pikiran. Seperti seharusnya.

Aku mengenal Arunika sejak berada di bangku kuliah. Sejak itu pula aku melihat sosoknya bersinar; tidak selalu terang, tetapi selalu ada. Ia tak berlelah-lelah belajar sekadar demi tercapainya derajat yang mulia, apalagi demi prestise di kalangan tetangga. Ia tak berorganisasi dengan mengglorifikasi rasa malu perihal mahasiswa yang tak berkegiatan apa-apa. Bukan itu semua. Ketika kutanya apa alasan mengapa ia melakukan berbagai hal, ia selalu menjawab hanya untuk dirinya sendiri, dan untuk keluarga di rumahnya. Sesederhana itu.

 Kalau boleh kuibaratkan, Arunika adalah burung yang bebas berterbangan. Ia tak keberatan pergi beramai-ramai ataupun sendiri saja. Kalau tidak sedang bersamaku, kurasa dia lebih sering pergi sendirian. Ke mana saja: bioskop, kafe, atau pusat perbelanjaan. Orang mungkin akan menganggapku pasangan yang sembrono karena tak mendampingi sang wanita pujaan. Tetapi, asal mereka tahu, ada ruang yang diperlukan seseorang untuk sendirian, barang sejenak. Meskipun demikian, Arunika tak repot-repot menyebut dirinya seorang introver kala tak ada seseorang yang menemaninya saat menikmati caffe latte kesukaannya. Atau menganggap dirinya patut dikasihani karena seorang diri menonton film superhero favoritnya. Atau wajib dikawal saat membeli barang-barang yang diperlukannya.

“Menurutku, kehadiran bisa jadi sesuatu yang semu. Seseorang bisa jadi selalu bertemu orang yang sama setiap hari, tapi hanya sebatas itu, tak ada jejak yang terpatri. Di sisi lain, ada orang-orang yang mungkin terpisah jarak, tapi tetap bisa merasakan kehadiran satu sama lain. Bagiku, daripada mempermasalahkan kehadiran, lebih baik mengutamakan kepastian. Kepastian bahwa kehadiran itu dapat dipastikan,” kata Arunika pada suatu malam, kepadaku.

Dari sekian banyak perbincangan kami berdua, Arunika lebih banyak bercerita, dan aku lebih banyak mendengarkan. Aku kerap kali mengutuk diriku sendiri karena payah dalam memberikan tanggapan, lebih lagi memberikan penyelesaian atas masalah yang ia sampaikan. Tetapi, Arunika tak pernah mempermasalahkan. Katanya, ia bersyukur karena ada telinga yang tak pernah tertutup dari berbagai macam celotehannya. Katanya, ia senang karena bisa didengarkan tanpa dihakimi. Katanya, ia bahagia karena bisa menjadi diri sendiri tanpa takut untuk dibenci. Sesederhana itu.

Arunika mengajarkanku bahwa tidak masalah untuk merasa tidak baik-baik saja. Alasannya sederhana. Katanya, hanya karena aku seorang laki-laki, bukan berarti aku tak berhak untuk meneteskan air mata. Katanya, hanya karena aku orang dewasa, bukan berarti aku tak boleh merasa lebih sentimental terhadap hal-hal kecil. Arunika bilang, beberapa hal mungkin memang tak bisa dipahami, tapi sudah selayaknya diterima.

Beberapa waktu berlalu, aku masih belajar menyerap kata-katanya itu ke dalam pusat pikiranku. Bahkan ketika aku menatap Arunika, seperti saat ini. Seperti yang sudah-sudah, aku sedang merasa tidak baik-baik saja. Hal-hal kecil perlahan melintas di kepala, mendorong tetesan air keluar dari bola mata. Kali ini aku yang banyak berbicara, dan Arunika hanya diam mendengarkan. Sesekali kuusap batu nisan bertuliskan namanya itu. Dingin. Tak ada hangatnya keceriaan seperti saat kuusap rambut pendeknya.

(Visited 51 times, 1 visits today)
*) Penulis merupakan mahasiswa Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya Tahun 2018. Saat ini aktif sebagai Pimpinan Umum LPM Perspektif.

1 tanggapan pada “Ketika Benderang Melangkah Pulang”

  1. Pingback: Ketika Benderang Melangkah Pulang – Reyhan F. Fajarihza

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts