Aku hanya bisa berdiam diri kebingungan, sedangkan Wowok sudah panik dan ketakutan. Tiba-tiba awan yang semula cerah berangsur-angsur menjadi mendung hingga gelap, semilir angin dingin lama-kelamaan makin berhembus kencang. Daun-daun kering dan bunga kantil yang berguguran ikut terbang tertiup angin. Aku masih bergeming, kulihat ke kiri dan ke kanan ternyata Wowok sudah pergi entah ke mana.
“Kita bertemu lagi, Damar.”
Seorang laki-laki tua berdiri dihadapanku, ia mengenakan blankon coklat, baju lurik, celana batik coklat, dan tongkat kayu di tangan kanannya. Ia menyapa dengan seringai aneh di wajahnya.
“Siapa anda?” tanyaku bingung.
“Kau pasti tidak mengingat saya Damar. Tiga bulan terakhir saya berusaha menemukanmu dan akhirnya hari ini kita bertemu di sini.”
“Siapa yang kau maksud dengan Damar?”
“Kau, mayat yang disembunyikan oleh istrimu sendiri.”
Kepalaku pusing hebat seakan dunia disekitarku berputar. Muncul kilasan ingatan yang tidak jelas dan terlalu acak. Suara-suara yang bercampur memenuhi kepalaku. Aku mencoba untuk tenang dan fokus untuk menangkap ingatan-ingatan yang merangsek masuk dalam kepalaku.
“Mas, jangan tinggalin aku mas. Kenapa mas tega, siapa yang menemani aku merawat anak-anak mas. Aku tidak sanggup hidup sendirian mas.”
“Harusnya mas ikhlasin aku aja mas, gak perlu jadi kayak gini.”
“Dasar anak gak berguna, mati aja sana.”
“Buat apa jadi orang tua kalau gak becus ngurus anak. Istrinya juga bego disuruh cerai malah gak mau.”
“Tuh lakinya emang aib keluarga.”
Aku lemas hingga terduduk di tanah, kain yang membungkus tubuhku makin terlihat lusuh. Siapa aku sebenarnya? Seorang suami dan seorang ayah yang meninggalkan istri dan anaknya? Mengapa aku meninggalkan mereka?
“Sudah mulai mengingat kenapa kau ada di sini?” Lelaki tua itu kembali bertanya dan menyadarkan lamunanku.
“Siapa anda sebenarnya? Apakah aku seorang suami dan ayah? Kenapa aku bisa ada di sini sebenarnya? Kehidupan apa yang kujalani sebelumnya?” Rentetan pertanyaan secara tak sadar kuajukan kepada seseorang yang tak kukenal ini.
“Kau ada di sini sekarang karena kau yang memilih untuk ada di sini, Damar. Kau memilih untuk meninggalkan istri dan anakmu yang sebenarnya sangat-sangat menyayangimu. Namun, sepertinya kau menyesali pilihanmu, Damar. Pilihan yang kau anggap bisa menyelesaikan masalah justru meninggalkan beban untuk istrimu. Perkenalkan, saya Ki Sarno orang yang dimintai tolong oleh istrimu untuk menyampaikan pesan-pesan yang belum tersampaikan.”
Bukannya mendapatkan titik terang, aku menjadi semakin bingung. Aku memilih untuk ada di sini sekarang? Apa maksudnya?
“Istrimu tidak pernah mau untuk mengorbankanmu, Damar. Tapi kau terlalu keras kepala. Hingga kini dia belum bisa mengikhlaskan kepergianmu,” ucap Ki Sarno. “Takdir seharusnya adalah kematian istrimu,” lanjutnya.
“Jadi seharusnya aku belum mati Ki?” tanyaku masih kebingungan.
“Ya, jika kau memilih mengikhlaskan istrimu saat itu.” jawab Ki Sarno dengan tegas.


