Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Perempuan Misterius Dahlia

Oleh: Fadya Choirunnisa*
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Bagian Kelima

Baca bagian keempat disini: https://lpmperspektif.com/2021/08/01/penyihir-topeng-dan-pohon-apel-merah/

Dongeng – kenyataan tidak selalu berakhir indah dan berjalan seperti yang kita mau, karena itu aku ingin hidup di tempat ini atau di negeri dongeng. Di tempat dimana aku tidak perlu berpura-pura, hidup bersama pangeran berkuda putih.

Sambil melukis anak perempuan itu menceritakan sebuah cerita mengenai dirinya. Aku mendengarkan dengan rasa penasaran. Kuperhatikan, ia mungkin lebih tua dua-tiga tahun dariku. Atau mungkin itu hanya perasaanku saja sebab kata-katanya begitu menenangkan, seperti kata-kata orang dewasa. Sembari melukis, ia mulai bercerita tentang tumpukan kardus dan koper berisikan baju. Tangannya yang lihai menyapukan kuas pada kanvas, sesekali menengokku sambil tersenyum.

 “Arma, akan kuceritakan sesuatu.” ujarnya sambil menyapu kuas pada palet cat, dilanjutkan dengan satu sapuan pada bagian atas kanvas.

“Sebuah rasa akan hal yang baru

Ada hal yang membuat aku sedih sekaligus bersemangat dalam waktu bersamaan

Tumpukan kardus; buku dan baju dalam koper

Barang-barang yang sudah dikemas, membuatku sedih ketika melihatnya dan gugup akan tantangan kedepannya

Tetapi juga bersemangat ketika mengingat tantangan baru apa yang nanti akan dihadapi nanti

Menebak-nebak hal baru yang menanti

Ketika kamu pergi, barang-barang itu akan kamu bawa

Berpindah pada tempat lain untuk menemukan kesempatan baru

Teman baru dan takdir baru pula

Karena itu membuat aku sedih sekaligus bersemangat dalam waktu bersamaan.”

Terdengar sangat aneh sekaligus misterius, namun aku sangat senang mendengar cerita itu. Seperti mendengarkan puisi pengantar tidur. Sejurus kemudian, dia mulai membersihkan kuasnya dari sisa cat dan merapikan peralatannya. Selesai sudah lukisan itu. Dia melukisku dengan begitu apik. Sosok Arma yang menaiki kuda putih dengan gagah berani, sungguh merona aku pertama kali dilukis oleh seseorang. Tetapi ada yang lebih penting dari lukisannya yang membuat aku kagum, yakni segala cerita tentang dirinya yang membuatku sangat penasaran. Segera saja aku membeberkan suatu rahasia dengan perasaan menggebu-gebu.

“Hei, maukah kamu bertemu dengan temanku, kuda putih lucu yang selalu membawaku pada petualangan mencari jawaban?”

Anak itu itu tersenyum dan menatapku. “Seperti dalam negeri dongeng? Kuda putih apa yang sudah membawamu pada petualangan yang begitu mengesankan?” aku sangat senang mendengar pertanyaannya. Terlihat dia penasaran dengan cerita mengenai Cip.

“Ikutlah denganku, akan kutunjukkan dimana dirinya.” segera kami beranjak dari taman menuju rumahku.

Kami meninggalkan pohon apel merah, dan berjalan dengan tenang manyusuri taman. Tak pernah kusangka berada di sebuah pertemanan yang baru saja terjalin ini begitu menyenangkan. Aku teringat akan temanku yang mengatakan bahwa tidak menyenangkan berteman dengan perempuan, mereka mudah menangis lalu mengadu pada ayahnya. Tetapi berbeda dengan anak ini, dia menceritakan hal-hal yang sangat menyenangkan, bahkan lebih seru daripada bermain bola. Meski dia perempuan, dia tidak mudah menangis. Tidak seperti yang dikatakan temanku itu. Kami berjalan di tengah alang-alang dengan teriknya matahari sore. Hembusan angin yang membuat diriku semakin bersemangat.

***

Kami pun sampai di rumahku. Ayah terlihat sedang memotong rumput halaman. Melihat kami datang, Ayah langsung menghampiri dan bertanya. “Arma, siapa yang kau bawa itu?” aku tersenyum saja, bercerita pada ayah bahwa kami bertemu di taman, di bawah Pohon Apel Merah.

“Teman baruku, aku ingin menunjukkan rumah kita padanya. Apakah boleh Ayah?”

Ayah terlihat sedikit bingung, lalu menyuruh kami masuk. Ayah menyuruhku untuk mengambil air dan semangkuk ubi rebus. Sembari bergegas ke dapur, aku melihat Ayah bertanya pada anak itu. “Tinggal dimana kamu, nak? Dan siapa namamu?” ucapnya dengan ramah.

“Perkenalkan Ayah, saya Dahlia. Saya tinggal di seberang perkebunan kelapa, dekat dengan taman desa. Maaf jika kedatangan saya terlalu tiba-tiba dan mengagetkan Ayah, tapi Arma sangat bersemangat untuk menceritakan seorang teman yang ada di rumahnya.”

Ketika aku kembali, aku melihat raut wajah Ayah yang bingung. Mengapa gadis itu memanggil dia dengan sebutan Ayah? Mengapa di waktu menjelang larut, ia mau diajak olehku untuk pergi ke rumah kami? Aku memahami keheranan Ayah. Aku melihat sosok Dahlia begitu misterius, tapi ia adalah temanku!

Ayah bertanya lagi pada Dahlia. “Apakah orang tuamu tidak mencari kalau kau tak segera pulang?” Dahlia hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum.

“Ini ubi rebus, kemarin ada tetangga yang memberikan hasil panen ubi mereka pada Ayah.” kataku menawarkan kepada Dahlia. Ia mengangguk dan mengambil sepotong ubi itu. Memakannya lalu tersenyum, setelah itu mengambil segelas air putih dan meminumnya. Ayah cukup heran dengan anak itu, lalu menoleh padaku.

“Arma, bagaimana kalau kamu mengajak Dahlia untuk ikut makan malam di rumah kita. Nanti setelah makan kita antar Dahlia kerumahnya.”

Aku menatap Dahlia, sedih jika harus berpisah sesegera mungkin. Bagaimanapun, aku sudah berjanji untuk mengenalkannya pada Cip. Tiba-tiba, aku teringat pada namanya yang terdengar familiar. Dahlia. Sebuah bunga. Ibu pernah menceritakan padaku tentang bunga dahlia, bunga kesukaannya.

“Kapan kamu mengajakku melihat temanmu itu?” tanya Dahlia memecah keheningan suara. Aku beranjak, menarik tangannya, dan mengajaknya menuju kamarku.

***

Kami duduk di depan jendela, menikmati matahari sore dengan langit biru yang tersembur cahaya oranye dari matahari. Aku menceritakan pertemuan pertamaku dengan Cip dan semua petualangan kami. Bagaimana Cip selalu menjawab pertanyaanku, dengan cerita-cerita sebagaimana Ibu selalu melakukannya untukku dulu. Dahlia hanya mendengarkan sambil mengamati langit.

“Arma, apakah aku bisa melihat Cip?” tanya Dahlia tiba-tiba. Aku yang mendengar pertanyaan itu menjadi bingung. Kenapa dia tidak bisa? Aku bisa, kok!

“Kenapa kau bertanya seperti itu? Biasanya kami bertemu di rumah, lalu dia akan mengajakku pergi mencari jawaban. Kau pasti suka dia.” jawabku tenang. Mendengar itu, Dahlia terdiam sejenak. Ia tersenyum sambil menatap langit yang berangsur gelap.

“Arma, bertemu dengan Cip terdengar seperti dongeng yang indah. Pasti akan sangat menyenangkan sekali. Tapi, apakah Cip merupakan hal yang benar ada? Atau Cip hanyalah sesuatu yang membawamu pada mimpi panjang?” tanyanya, memalingkan wajahnya menantang mataku.

“Dahlia adalah nama bunga, begitu juga namaku. Memiliki makna lambang ikatan selamanya, namun juga dapat dimaknai dengan pertemuan atau kesenangan mengetahui isi hati seseorang.” kata gadis itu lagi. Ia kemudian memalingkan wajahnya, membawaku pada gejolak aneh yang semerta-merta melemparku pada masa lalu. Seperti mendengar kalimat itu lagi, momen itu seperti kembang api.

Ibarat bertemu sesuatu yang baru tetapi aneh, aku mengingat kata-kata itu. Ikatan selamanya. Pertemuan yang menyenangkan. Walau mungkin, pertemuan itu sendiri tidak abadi. Benar begitu, kan? Karenanya ada yang dinamakan kehilangan.

Siapa sebenarnya temanku ini?

Bersambung

(Visited 47 times, 1 visits today)
*) Penulis merupakan mahasiswa Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya Tahun 2020. Saat ini aktif sebagai anggota Divisi Sastra LPM Perspektif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts