Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Penyihir, Topeng, dan Pohon Apel Merah

Oleh: Nazhiffa Safinnatunnajah*
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Bagian Keempat

Baca bagian ketiga disini: https://lpmperspektif.com/2021/07/18/manusia-salju-dan-petasan-kata/

“Cip, orang dewasa itu, apakah benar–benar dewa? Mereka mampu berpura–pura, melakukan banyak hal, tahan untuk tidak tersenyum atau tidak tertawa, seperti penyihir sakit. Cip, sebenarnya orang dewasa itu apa? Apakah menyenangkan menjadi dewasa?”

Cip tersenyum simpul mendengar perkataanku, lalu ia menatap langit malam yang gelap dipenuhi dengan bintang–bintang. “Arma, menjadi orang dewasa pun ternyata tak semenyenangkan yang ada di pikiranmu. Kau tahu tentang seorang penyihir, mengapa ia bisa berpura–pura tidak merasakan apa–apa? Ia sakit namun ia terlihat baik–baik saja. Kau tahu kenapa?”

Aku hanya menggeleng dan menatap Cip dengan penuh tanya. 

“Itu karena ia menggunakan topeng, Arma. Orang dewasa selalu memiliki topeng, topeng yang mereka gunakan untuk menutupi rasa lara, sedih, sakit, bahkan terkadang mereka tidak pernah terlihat bahagia. Topeng yang mereka gunakan kemana–mana itu supaya mereka terlihat tak memiliki perasaan.”

“Tetapi bukannya penyihir juga manusia? Yang pastinya memiliki perasaan, Cip.”

“Dalam hidup ini, ada banyak cara orang dewasa untuk menutupi segala hal yang mereka rasakan, salah satunya adalah mengaku bahwa mereka sudah dewasa namun bertingkah seperti bukan dewasa. Sebagian orang dewasa selalu takut dan selalu ingin kabur ketika ia dihadapi masalah atau kehilangan, maka dari itu mereka bertingkah seolah penyihir yang tak kenal rasa sakit dan tak berperasaan. Supaya mereka terlihat sebagai orang dewasa yang kuat dan tangguh. Padahal, orang dewasa pun berhak merasakan menjadi manusia seutuhnya, mereka pun berhak menangis kalau mereka ingin menangis, mereka berhak tertawa jikalau mereka ingin tertawa.”

Aku pun tertegun dan terdiam mendengar jawaban Cip barusan, aku seolah kehabisan kata, atau mungkin kehabisan pernyataan dan pertanyaan untuk menyanggah Cip. “Arma, jangan pernah takut menjadi dewasa, hadapi jika memang sudah waktunya. Sekarang kau hanya perlu menjadi seperti Budi dan Ani di dalam buku Ilmu Pengetahuan Sosialmu, menjadi seperti mereka yang penuh canda dan tawa, jangan terlalu memikirkan bagaimana menjadi dewasa nanti. Karena, ketika kau dewasa yang kau rindukan adalah, bagaimana cara agar kau kembali menjadi anak kecil kembali yang tak perlu merasakan luka, kehilangan yang amat dalam, perpisahan, dan juga rasa cinta terhadap sesuatu atau seseorang.”

Aku merasakan dadaku sesak seperti ada jarum yang menusuk, sesak akan perkataan Cip barusan, teramat dalam sampai–sampai netraku pun berkaca–kaca. Kuda putih itu sudah pergi. Cip sudah kembali ke tempat di mana ia seharusnya tinggal. 

Selamat tidur, selamat malam, Cip. Ternyata menjadi dewasa penuh dengan tantangan. Namun, aku akan siap, jika sudah waktunya.

Aku segera mengambil buku bersampul hijau favoritku, buku  “panduan” ku, buku Ilmu Pengetahuan Sosial. Aku melihat gambar keluarga Budi dengan seksama. Aku memperhatikan dengan jelas raut wajah Budi, adiknya Ani, dan kedua orang tua mereka yang penuh ceria dan canda tawa.

“Apa mereka pernah merasakan kehilangan? Apa mereka pernah merasakan menjadi manusia yang seutuhnya?”

***

Hari berlalu begitu cepat, sekarang sudah hari Senin dan aku harus kembali memulai aktivitasku yaitu bersekolah. Dari buku panduanku kulihat orangtua Budi dan Ani yang seolah hidup, berjalan kesana kemari menyiapkan segala sesuatu di pagi hari. Aku seolah melihat Ibu, memasak sarapan untukku. Aku melihat Ayah menyanyi lagu kesukaannya. Aku mencoba berjalan, menghampiri Ibuku. Namun aku terduduk kembali. Sebagaimana buku IPS itu, ia tak tergapai. Berapa kalipun aku mencoba mengangkat tangan.

Ayah tampak segar, memakai setelan kantor dan rambutnya tampak basah dan klimis. Ah, begitu khas dan tampan sekali. Kami telah berkumpul di meja makan. Namun, tidak ada sup ayam hari ini. Sepiring nasi goreng dengan telur mata sapi jadi ganti. Aku merasakan Ayah membelai puncak kepalaku dengan lembut, “Makanlah, makan yang banyak supaya anak Ayah semangat bersekolah.” ucapnya. Aku segera menyuap sesendok demi sesendok nasi goreng ke dalam mulutku. Lagi-lagi membayangkan apa yang mungkin terjadi di Planet Sup Ayam hari ini. Tanpa disuruh pun, aku pasti sudah lahap memakan sup ayam itu.

Seusai makan, aku dan Ayah  pun berangkat bersama. Sesampainya di sekolah, aku seperti biasa belajar dengan guru dan juga teman–temanku di kelas. Namun—saat pelajaran Bahasa Indonesia berlangsung pikiranku seperti kemana–mana dan tak fokus. Aku masih memikirkan pertemuanku dengan Cip semalam dan topik pembicaraan kami yang cukup dalam, terlebih untuk anak seusiaku.

Sepulang sekolah, aku hanya selonjoran di kamarku. Menatap langit–langit, aku tak tahu harus melakukan apa. Rasanya ingin bertemu dengan Cip kembali, menumpahkan banyak rasa atau sekadar diam saja, mendengarkan semua celoteh Cip yang menenangkan. Lama-lama, kukira Cip ini lebih mirip guru di SD-ku. Aku ingin kabur dan berkelana bersama dengan Cip, melihat makhluk-makhluk aneh lainnya yang mondar-mandir di jendela kamarku malam itu. Hah! suntuk sekali.

Aku pun memutuskan berjalan keluar rumah sebatas ingin berkeliling sekitaran rumahku. Sebentar berjalan, tak kusangka aku sampai di taman indah yang tak pernah kukenali atau kudatangi sebelumnya. 

“Hey!” aku terkejut saat ada seseorang memanggilku. Ia adalah seorang anak perempuan, rambutnya indah dan bergelombang, kulitnya bersih putih dan mulus. Ia terlihat bak putri cilik yang begitu cantik datang dari istana kerajaan. 

“Sedang apa di sini?” tanyanya. Aku tak berkutik dan hanya menatap perempuan ini. “Hey, aku sedang bertanya.” tegurnya kembali. Akupun menjawab, “Aku baru mengetahui ada taman ini, aku penasaran dan datang ke sini.”

Anak perempuan itu tersenyum singkat. “Benar, ini taman yang indah, dan tempat di mana aku melakukan hal yang aku sukai, yaitu melukis.”

“Kau suka melukis?”

Anak perempuan itu mengangguk dan menunjuk peralatan lukisnya yang sedang terpanjang di dekat pohol apel merah. Aku menatap tempat itu, sangat asri dan indah jika dihabiskan untuk membaca buku atau melukis seperti hobi anak perempuan ini.  “Mengapa memilih tempat ini menjadi tempatmu untuk melakukan hal yang kau senangi? Kau kan memiliki rumah yang pasti indah untuk melukis atau menggambar.”

“Terkadang rumah tak akan selalu nyaman untuk ditinggali oleh sebagian orang dan karena itu aku memilih taman ini, karena aku merasa di sini aku tak perlu merasa harus berpura–pura, aku seperti menjadi diriku sendiri di sini, tenang dan nyaman.”

“Berpura–pura maksudmu?”

“Nanti juga kau akan tahu. Mau ku lukis?” tanyanya. Aku kebingungan sejenak dan hanya mengangguk sebagai jawaban. Untuk ukuran seorang anak perempuan ia sangat pintar dalam melukis dan gambarnya sangat indah. Namun aku sangat gatal untuk menanyakan pertanyaan yang sedari tadi begitu mendesak untuk diutarakan. 

“Mengapa kau suka melukis di bawah pohon apel merah ini?”

“Tak memiliki alasan, hanya saja, aku merasa tenang di bawah sini. Dan, kadang pohon apel merah mengingatkanku akan sebuah cerita dari Pamanku tentang seorang putri cantik yang senang duduk di bawah pohon merah sampai ia bertemu pangeran yang akan membawanya berkelana dengan kuda, kemudian hidup bahagia bersama.” Aku mengernyit merasa aneh dan tidak mengerti apa yang menjadi jawaban dari perempuan ini. “Maksudmu?”

“Ya, aku berharap, aku bisa seperti putri di cerita pamanku. Ketika dewasa nanti, aku bisa kabur dari kehidupanku, berhenti berpura–pura, hidup bersama pangeran berkuda putih.”

“Tapi kan, itu hanya di dongeng?”

“Ya, aku tahu. Meskipun itu di dongeng, namun tak selamanya kenyataan berjalan dengan indah dan berjalan seperti yang kita mau ‘kan? Makanya aku ingin hidup seperti di tempat ini atau di negeri dongeng, di tempat di mana aku merasakan tak harus berpura–pura.”

Aku tertegun mendengar jawaban anak perempuan itu. Ia benar–benar menakjubkan!

Bersambung

(Visited 63 times, 1 visits today)
*) Penulis merupakan mahasiswa Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya Tahun 2020. Saat ini aktif sebagai anggota divisi Sastra LPM Perspektif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts