Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Membaca Jatisaba di antara Kenangan dan Tujuan

https://www.goodreads.com/book/show/11153609-jatisaba
Oleh: Riqko Nur Ardi Windayanto*
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Judul : Jatisaba
Penulis : Ramayda Akmal
Penerbit : Grasindo
Jumlah halaman (isi) : 241 halaman
Tahun terbit : 2017
ISBN : 978-602-375-871-5

Kenikmatan dari perpisahan justru terletak pada ketidakrelaan kita untuk pergi. Sampai kapan pun, bagian yang akan mudah diingat adalah tangisan kecilmu itu dan rasa tidak ikhlas meninggalkan segala yang kita cintai
(Ramayda Akmal dalam Jatisaba)

Cukup banyak resensi yang mempersoalkan bagaimana Jatisaba karya Ramayda Akmal, novel unggulan pada Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2010 ini, menceritakan dengan apik persoalan perdagangan manusia (human trafficking). Memang, tidak dapat dipungkiri bahwa masalah tersebut adalah inti dari novel ini. Sebagai gambaran umum, novel ini menceritakan kisah Mainah atau Mae yang kembali ke desa masa lalunya, yaitu Jatisaba. Ia datang bukan hanya untuk mengenang apa yang telah ia tinggalkan, tetapi datang untuk sebuah tujuan. Ia kembali untuk mengajak para warga bekerja di luar negeri dengan dalih TKI (Tenaga Kerja Indonesia) ilegal. Di desa tersebut, ia menjumpai kenangan masa lalu—dengan tetangga-tetangga, teman-teman, rumah, aktivitas, dan segala yang ia cintai. Akan tetapi, sekali lagi, segalanya telah berubah. Ia telah bekerja sebagai calo TKI ilegal yang mau-tidak-mau, ia harus “mengorbankan” orang-orang yang ia cintai untuk diserahkan kepada bosnya, Mayor Tua, dalam waktu sesegera mungkin.

Sayangnya, keharusan untuk menyelesaikan pekerjaan dalam waktu singkat itu tidak mudah. Situasi di Jatisaba sedang dilanda huru-hara lantaran politik lokal, yaitu ajang pilkades yang menimbulkan berbagai persaingan. Tiga orang calon kepala desa (cakades): Jompro, Mardi, dan Joko saling beradu. Seperti kecenderungan wajah politik Indonesia, mereka bukan beradu gagasan, tetapi bermain harta, simpati, dan kampanye gelap. Dalam hal ini, secara tidak langsung, terjadi persaingan antara Mae dengan para cakades, terutama Jompro yang sejak awal mengetahui niat kedatangan Mae. Mereka saling bersaing untuk memperebutkan warga Jatisaba. Pasalnya, Mae menginginkan mereka ikut serta dengannya. Akan tetapi, mengikuti Mae berarti meninggalkan Jatisaba. Dengan meninggalkan desa, suara warga yang dibutuhkan di ajang politik akan berkurang. Tentu, hal ini menjadi momok bagi ketiga calon tersebut. Di situlah petulangan-petualangan berikutnya berlangsung yang pada dasarnya, tujuan Mae dan tujuan para cakades itu berlangsung secara simultan.

Saya tidak bermaksud memberikan gambaran detail dari novel Jatisaba. Sebab, resensi yang menyajikan sinopsis sama halnya dengan merampas imajinasi dan hasrat Anda sebagai (calon) pembaca dari novel ini. Saya hanya ingin mengemukakan bahwa di bawah persoalan perdagangan manusia, ada masalah politik psikologis yang lebih fundamental dari novel ini, yaitu kontestasi antara kenangan dan tujuan. Kutipan pada awal tulisan ini, misalnya, terjadi ketika Mae akan segera pergi dari Jatisaba setelah merekrut beberapa orang untuk ikut dengannya. Artinya, tujuannya akan selangkah tercapai. Akan tetapi, bukannya bahagia, ia justru bersedih. Kesedihan yang datang karena keberhasilan adalah awal kepergiannya untuk segera meninggalkan Jatisaba dan segala hal yang dicintainya di desa tersebut. Ia akan meninggalkan Gao, yaitu kekasih masa lalunya; Kusi dan Musri, teman masa kecilnya; ritual-ritual masyarakat desa Jatisaba, seperi obong bata (membakar bata), Nini Cowong (ritual memanggil hujan), nawu (mencari ikan); rumah masa lalu; dan semuanya.

Dilihat dari stuktur naratifnya, novel Jatisaba menggunakan sudut pandang orang pertama pelaku utama atau ke-aku-an sehingga menjadikan Mae sebagai tokoh sentral. Artinya, menarik karena Ramayda Akmal, dosen FIB UGM yang kini menempuh studi di Jerman ini, menggunakan sudut pandang pelaku atau secara disfemistik, sudut pandang penjahat. Bagaimana pun, Mae adalah penjahat karena bertindak sebagai agen perdagangan manusia. Pandangan itu saya kira sudah umum di keyakinan publik bahwa seorang agen human trafficking adalah penjahat, baik di mata hukum maupun di mata kemanusiaan kita yang paling sederhana. Akan tetapi, tidak serta merta kejahatan itu menjadi pemain tunggal dalam diri manusia. Jika tidak ada kebaikan yang sempurna, maka tidak ada kejahatan yang paripurna. Tampaknya, Ramayda Akmal sebagai pengarang ingin mengatakan secara fantastik bahwa tidak selalu orang yang dipandang jahat itu selalu jahat tanpa menyisakan kebaikan dalam dirinya. Untuk mengatakan itu, di sinilah kenangan dan tujuan yang berkonflik itu hadir.

Jika tujuan merekrut warga desa adalah representasi kejahatan, maka kenangan hadir sebagai simbol bahwa masih ada kebaikan pada diri Mae. Kenangan akan masa lalu membuat Mae merefleksikan kembali apa yang selama ini telah ia lakukan. Ia telah memanfaatkan kebodohan dan keluguan warga kampung tentang mimpi-mimpi indah bekerja di luar negeri. Padahal, semua itu hanyalah utopia konyol yang tidak akan pernah terwujud. Atau, kalau pun mimpi itu terlaksana, mereka akan rentan mendapati berbagai masalah seputar TKI ilegal, seperti hamil di luar nikah, penyiksaan, perbudakan, hingga berujung kematian. Hal semacam inilah yang justru membuat Mae bersedih dan merasa bersalah—memikirkan nasib orang-orang Jatisaba yang telanjur percaya berkat kelihaiannya dalam berbohong dan menyampaikan cerita-cerita manis yang penuh dusta—seperti madu, tetapi racun. Bahkan, ia masih mempertanyakan mengapa tindakan jahatnya ini harus dilakukan kepada orang-orang yang sangat ia kasihi, orang-orang Jatisaba yang dulu hidup bersamanya dan kini menjadi puing-puing ingatan.

Posisi Mae di antara tujuan dan kenangan itu membuatnya menjadi subjek yang dapat merepresentasikan cinta dan benci sekaligus. Ia bisa dipandang sebagai representasi cinta karena kasih sayangnya yang tidak pernah luntur meskipun telah melintasi waktu—antara masa lalu dan masa kini. Akan tetapi, sangat mungkin jika ia dipandang sebagai representasi benci karena melakukan tindakan yang bertentangan dengan kemanusiaan, yaitu menjadi agen perdagangan manusia. Implikasinya, ia bisa saja dibenci. Dengan menghadirkan kontestasi antara kenangan dan tujuan, pengarang telah menawarkan wacana bahwa kebaikan dan keburukan selalu ada dan bernegosiasi di dalam diri manusia, yang tidak dapat disangkal keberadaannya. Karena keduanya selalu ada, yang baik bisa berlaku jahat; yang jahat bisa berlaku baik. Dalam hal ini, seorang pelaku perdagangan manusia yang selama ini dipandang jahat sejatinya memiliki sisi kebaikan meskipun di antara keduanya tidak memiliki garis pemisah yang legitim dan abu-abu.

Saya kira persoalan kenangan dan tujuan yang bermuara pada kebaikan dan kejahatan itulah yang menjadi poin penting dan fundamental dari novel ini. Dalam pandangan personal saya, Jatisaba buah ketekunaan Ramayda Akmal adalah kisah tentang kegetiran yang mendalam. Tidak mampu membayangkan jika dalam posisi Mae, saya harus menghanyutkan orang-orang yang saya cintai ke kolam berisikan buaya dengan mendustai mereka bahwa kolam itu berisi air yang tenang. Apa pun itu, kegetiran ini menjadi ruang yang kritis dan reflektif untuk memikirkan kembali penilaian normatif kita mengenai kebaikan dan kejahatan. Terakhir, saya tidak akan merekomendasikan novel ini untuk dibaca. Bukan karena novel ini tidak bagus, tetapi “kebagusan” novel ini adalah penilaian personal saya. Saya akan merasa berdosa jika penilaian personal itu harus saya paksakan untuk memengaruhi jalan pikiran orang lain, termasuk Anda yang membaca resensi ini. Akan tetapi, saya akan berterima kasih jika Anda berkenan membaca Jatisaba dengan tulus, dengan sebuah keyakinan bahwa akan ada mutiara terpendam yang berhasil Anda temukan di dalamnya.

(Visited 126 times, 1 visits today)
*) Penulis adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, 2019. Tulisan-tulisannya dimuat pada sejumlah media massa dan jurnal akademik. Saat ini, berkegiatan dalam penelitian (sastra, bahasa, dan kebudayaan), baik sebagai peneliti mandiri maupun asisten peneliti di FIB UGM.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

TAM

Iklan

E-Paper

Popular Posts