Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Rajutan Luka

Oleh: Putri Gemilang Hutajulu*
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Berlenggak-lenggok dengan amat gemulai seorang anak hawa, dibawah matahari ia dibakar. Separuh nafasnya sudah menguap entah kemana, bermandikan keringat seluruh tubuhnya dari ujung rambut sampai telapak kaki. Tatatapannya sangat tajam namun kosong dengan wajah yang perlahan memerah ketika rasanya kecamuk di dadanya tak kunjung memudar. Lalu, pada satu hentakan kakinya ditusuk oleh kerikil yang amat tajam ujungnya, ia tertunduk lalu merebah pada lapangan tak berumput di seberang rel kereta api itu.

Namanya Shafa. Anak gadis berusia sembilan belas tahun, berparas amat ayu namun sekarang tampak sangat sayu. Penampilannya sederhana tetapi orang-orang selalu memujinya berlebihan seolah-olah dirinya adalah yang tercantik sejagad raya, sebumi pertiwi. Nyatanya, meski beribu mata memandang kagum pada parasnya, ia tetaplah remaja yang rapuh hatinya dan tak pernah lelah untuk menjahit lukanya yang kian nelangsa kelihatannya.

“Kenapa baring disitu? Lihat bajumu kotor, debu semua! Ngapain pula kau disitu?” Teriakan khas dengan suara yang membentak galak terngiang di kepala Shafa. Tangannya pelan mengusap pipinya yang semakin basah oleh air mata sembari tatapannya lurus menatap langit yang perlahan menjingga dan burung-burung berlomba-lomba ditelan lembayung.

Shafa tak menyahut, memilih diam seribu bahasa. Tanganya meremat gulungan-gulungan kertas kecil yang ia masukkan ke dalam botol dan dijaganya betul-betul. Rasanya begitu kosong, baik hati maupun pikirannya. Linglung, ia bingung harus berbuat apa dan memilih gelap menelannya sore itu. Hancur lebur sudah jiwanya ketika bentakan demi bentakan bersahut-sahutan kembali didengar oleh inderanya. Ia kembali melayu, seperti bunga matahari yang ia dapat lihat dari tempatnya berbaring saat ini, yang ia letakkan di bingkai jendela kamarnya– kering kerontang, tak berwarna, tertunduk pilu. Akankan bunga matahari yang ia jaga itu senantiasa tetap rapuh seperti puan Shafa? Begitu sekiranya pertanyaannya dalam hati.

“Shafa, masuk! Pembangkang sekali!”

Sekali lagi, Shafa acuh memilih menutup matanya sembari menarik nafasnya pelan, menghirup sarayu yang menusuk-nusuk kalbunya tanpa henti, membuainya ke dalam mimpi yang syahdu.

***

“Kau tahu tidak?”

Suara itu menggema di telinga Shafa saat ia sedang membereskan rangkaian kanvas dan alat lukisnya. Segera ia menoleh dengan cepat, menatap wajah teman karibnya yang sedang duduk dengan posisi bersila di dekat pilar-pilar gereja tua yang mereka datangi sore ini.

“Tahu apa, Rin?” sahut Shafa sembari memposisikan dirinya untuk duduk disebelah Arin, temannya. “Kau ini lagaknya mau mengajak aku ngobrol serius he?” lanjut Shafa kemudian menatap lurus ke depan sementara Arin hanya diam sembari menunduk.

“Aku lemas. Sebenarnya banyak sekali, Shaf. Banyak sekali rasanya yang aku pikirkan tapi enggak tahu mau pilih yang mana dulu untuk diselesaikan,” ujar Arin dengan suara nada tampak layu sekali, “Kau sendiri sama saja. Kabur dari rumah lagi, he? Kenapa? Ibumu marah-marah enggak jelas lagi, kah?” lanjutnya bertanya.

Shafa mengendikkan bahunya. Perihal menikmati matahari tenggelam menuju malam sembari mengobrol ringan dengan teman karibnya ini memang sudah menjadi kebiasaan bahkan rutinitas. Alih-alih menangis, ia memilih memendam segalanya dan berbincang kecil di gereja tua yang sudah tidak beroperasi lagi di kotanya bersama Arin. Kebiasaan menatap siluet pohon yang menggelap, sesekali mengambil foto latar senja supaya punya foto yang aesthetic dan instagramable menjadi solusi untuk menghilangkan sumpeknya Shafa di rumah.

Arin tidak heran apabila temannya ini tidak menjawab pertanyaannya. Entah Shafa terlalu tertutup atau mungkin ia malas mengungkit-ungkit masalahnya, Arin menolak untuk mencari tahu lebih lanjut. Setidaknya, Shafa masih bisa tersenyum atau tidak menangis saat bersamanya sudah lebih dari cukup.

“Arin, punya rumah ga?” tanya Shafa tiba-tiba.

“Punyalah. Enggak lihatkah itu rumahku yang warna cokelat dekat rel kereta. Ada lapangan yang ga berumput. Biasa jemput disitu juga kau. Kenapa pula tanya-tanya gitu.” jawab Arin heran. Pasalnya baru kali ini temannya itu bertanya hal yang terbilang sangat tiba-tiba dan kelihatan janggal sekali.

“Kalau aku enggak punya rumah, Rin. Kalau aku sedih, kalau aku susah, kalau aku ingin dipeluk, kalau aku mau ngadu tentang sekolah, kalau aku mau cerita tentang laki-laki yang aku sukai, enggak ada  yang mau mendengar,” ujar Shafa.

Arin merasa dadanya dihantam palu besar. Serasa sesak seolah hadirnya disini sama sekali dianggap patung tak bertelinga oleh Shafa. Tak pernah bosan Arin bertanya terkait keadaan Shafa namun Shafa tetap merasa sendiri di dunia ini. Temannya itu, terlalu gelap.

“Aku berandai-andai ingin pulang ke rumah Tuhan, tapi saat aku terluka saja, Tuhan membiarkan. Aku diberi keluarga yang miskin, diberi keluarga yang apa-apa penuh emosi. Aku capek sekali. Aku sakit enggak ada yang tanya, aku menangis enggak ada yang bujuk. Kalaupun aku hilang, mungkin enggak akan ada yang mencariku, Rin,” Shafa berbicara dengan jeda lima detik untuk menarik nafas, “Kenapa dunia sama sekali tidak adil ke aku, Rin? Aku rasanya sangat amat membenci hidupku. Keras sekali–atau aku yang lembek?”

Shafa menoleh kepada Arin yang menangis diam-diam kemudian merapikan barang-barangnya. “Shaf, aku pulang duluan. Kau pulang hati-hati nanti, ya.” lalu dengan cepat Arin berlari meninggalkan Shafa sendirian.

“Dan ya, memang aku enggak pantas punya teman.”

***

“Kabur-kaburan terus, seperti bocah saja. Padahal sudah dewasa! Gak makan pula. Nanti sakit, siapa yang repot?” amukan itu ia dapatkan saat baru saja kembali ke rumah. Shafa mengepalkan kedua tangannya, menahan air matanya yang berlinang. “Mamak marah-marah terus! Enggak lihat Shafa rasanya capek sekali? Mau berdiri pun rasanya sangat lunglai. Mamak marah-marah saja bisanya. Enggak bisa ngertiin Shafa. Paksa Shafa ini itu, enggak pernah sayang sama aku kah?”

Shafa berlari ke kamarnya dengan cepat, sementara ibunya mematung di tempat. Kakinya masih sangat kotor atas lumpur dan tanah bekas membajak sawah tadi. Hatinya bergetar dan rasanya sakit. Mungkin kata-katanya terlalu kasar dan ia sadar. Menarik secarik kertas dibawah meja yang berhiaskan makanan yang mulai mendingin, ibunya menuliskan serangkaian maaf dan sebuah puisi singkat untuk putrinya karena ia mengetahui dengan jelas bahwa putrinya adalah si penggila sastra.

Setelahnya ia mengetuk kamar putrinya dan masuk pelan-pelan ke dalam. Setangkup roti yang masih hangat dengan nasi juga lauk kesukaan Shafa menjadi pendamping ibunya yang saat ini gemetar menatap Shafa diam disudut jendela.

“Ma, kenapa ikan enggak tinggal di langit? Kenapa harus di air?” tanya Shafa dengan mata yang membengkak. Meski dilanda kebingungan, ibunya duduk di tempat tidur agak jauh dari Shafa sembari menekan dadanya yang mulai terasa sesak. Ketika dingin melanda, maka asma ibu akan kambuh. Namun, Shafa sama sekali tidak sadar bahkan tidak tahu.

Mengacuhkan keadaannya, Ibu menjawab dengan tuturnya yang ia usahakan lembut, tanpa terbawa logat kasar yang ia punya. “Karena Tuhan menciptakannya insang untuk bertahan hidup. Kalau saja ia tinggal di langit dan bisa terbang, Tentunya ikannya bakal susah nafas. Itu bukan tempatnya kan? Semuanya sudah diposisikan Pencipta sesuai porsinya, sesuai bisanya, sesuai alurnya dan kita ga bisa bertanya,” jawabnya.

“Lalu kenapa Shafa disini? Aku sesak disini, bukan tempatku berada disini.” keluh Shafa berurai air mata. Ibunya merasa kerongkongannya tercekik. Puteri nya sangat tajam dalam berbicara dan untuk kesekian kalinya, ia mampu mengatakan bahwa si putri nan dahayunya ini belum dewasa.

“Karena takdir,” Ibu mendekatkan makanannya ke dekat kaki Shafa sambil berjalan payah, “Nak, Mama sayang Shafa, sudah usahakan apa aja buat Shafa. Logat Mama keras, Shafa sakit hati, Mama minta maaf. Nak, Jalan Tuhan enggak pernah salah. Shafa dititipkan buat mama karena Dia tahu Mama bisa menjaga Shafa. Kalau misal Mama enggak sayang Shafa, Shafa gak bakal sesehat sampai sebesar ini,” ujar ibunya sambil menepuk pelan puncak kepala Shafa dan memeluknya.

“Shafa ingat ini. Harus belajar bersyukur, harus belajar memilah kata, harus belajar menerima. Dunia ga berporos di kamu saja, Nak. Milyaran manusia di bumi ini dan Tuhan harus menjaga umatnya satu per satu. Mereka juga punya luka, punya masalah, punya mimpi, punya hati yang patah. Mama sendiri punya,” Shafa diam tak berkutik, ibunya melanjutkan, “Shafa—dunia baik jika kamu melihatnya dengan mata yang baik pula. Buka mata, peka. Belajar dari luka, bukan berlayar dengan luka, Nak. Besok sarapan sama-sama sebelum Mama ke sawah ya?”

***

Siapa sangka, Shafa tinggal sebatang kara sekarang. Beberapa minggu setelah Ia mendengar nasihat Ibunya, menjadi pribadi yang lebih baik dan memahami bahwa hidup tidak sejahat itu, Tuhan memanggil manusia baik seperti ibunya. Asmanya semakin parah dan hingga akhir ajalnya, Shafa tak pernah mengetahui penyebab asma yang merenggut nyawa ibunya.

Di lapangan tak berumput ketika malam sudah merasuk memeluknya erat, di dekat rel kereta api dengan kaki lelah habis menari mendayu seiring peluh dan jari kaki yang luka dimakan batu kerikil, Shafa tenang seolah ibunya mendekapnya erat dengan perantara langit. Disebelahnya masih digenggamnya erat botol berisi gulungan kertas yang ia punya. Gulungan kertas berisi ucapan dan puisi-puisi sederhana milik ibunya yang galak untuk Shafa saat dulu ia selalu kabur dari rumah.

Sesayang itu dan Shafa terlalu bodoh untuk tetap bersemayam dalam lukanya yang ia paksa melebar, bukan ia obati. Sekarang, ia tinggal dengan Arin. Hubungannya berjalan baik setelah Shafa sadar bahwa ia terlalu kasar kepada Arin dan telah menyakiti hatinya. Beberapa hari ini juga, Arin membantunya untuk mencari pekerjaan.

Arin menepuk pundak Shafa mengajaknya untuk masuk. Shafa tersenyum dan berkata, “Arin mau dengar satu hal tidak? Aku tadi dipeluk Ibu, loh. Walaupun di kepalaku masih sering terdengar suara marah-marahnya, itu jadi yang paling aku kangenin.

Arin tersenyum, “Beliau sudah tenang. Makanya kau jangan bandal lagi. Sekarang bacakan satu puisi Mamamu ke aku, cepat! Aku penasaran!” timpal Arin.

Berinjit di garis waktu, memangku luka mengatur laku.

Digigit rumpang, dijahit benang senang.

Maka jadilah daku tegar dari manis pahit kisah,

Mati bersama puisi, hidup di dalam diksi.”                        

(Visited 52 times, 1 visits today)
*) Penulis merupakan mahasiswi Ilmu Komunikasi 2020 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya. Saat ini aktif sebagai anggota Divisi Sastra LPM Perspektif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts