Lompat ke konten

Dinosaurus Kecil

Illustrator: Sari Rimayanti

Oleh: Amalia Permata Insani*

Dinar berjalan dari kampus ke arah kos-kosannya. Membawa sejumlah kekosongan dan kesedihan ketika apa yang ia usahakan ternyata tidak membuahkan hasil. Dinar ingin menangis saja rasaya. Berkas-berkas beasiswa itu ingin ia buang ke tempat sampah terdekat. Terdekat. Sekalian membuang dirinya yang merasa tak beda dengan berkas-berkas itu. Langkah Dinar masih tampak kuat, tampak tidak apa-apa. Karena Dinar tahu sebenarnya ia kuat, hanya saja kekecewaannya sangat tampak di raut wajahnya.

“Bukan yang pertama. Nggak pa-pa,” kata Dinar menyemangati dirinya sendiri dengan tidak semangat.

Apa telah ia usahakan banyak yang tidak berhasil, dan kadang kala berhenti ditengah-tengah. Seperti usahanya untuk mendalami hobinya. Ternyata, ia merasa tak sanggup dan tak pantas. Seperti usahanya mencari pekerjaan sampingan. Tapi ia kewalahan dengan bagaimana membagi waktu dengan perkuliahan. Seperti usahanya untuk menurunkan berat badan. Nyatanya malah berat badannya semakin naik. Seperti usahanya untuk mengikuti perlombaan-perlombaan. Namun ia selalu kalah. Seperti usahanya. Dinar tau ia tak berusaha.

Kos-kosan Dinar letaknya tak jauh dari kampus. Jadi ia selalu berjalan ketika pergi maupun pulang. Sesampainya di kos, Dinar meletakkan berkasnya ke lantai. Tas nya di kasur. Tanpa mengganti baju ia langsung menjatuhkan diri ke kasur. Tak bisa menangis, tapi kecewa. Dinar tau, ini salahnya.  Berkasnya tidak lengkap dan tanpa dicek kembali langsung ia kumpulkan. Dan pada saat dikumpulkan, petugas yang menjaga pendaftaran pun juga tidak membuka kembali untuk mengecek berkas. Lupa sudah Dinar. Seketika pengumuman namanya tidak ada dan berkasnya pun dikembalikan dengan alasan bahwa tidak lengkap. Dinar lupa.

“Anjing, ah, sumpah. Aku gatau lagi. Aku gatau mau ngapain. Aku gatau.”

Ia berpikir. Satu semester ini begitu-begitu saja. Apa yang ia usahakan juga berhenti. Namun ada yang berbeda dari semester-semester sebelumnya. Semester ini ada yang lucu. Ia selalu menemukan ­­figure-figure kecil berbentuk dinosaurus di atas rak sepatunya. Dinosaurus kecil entah punya siapa. Setaunya, tak ada yang menyembunyikan anak kecil di kos-kosannya. Apa anak dari ibu kos, kemungkinan paling baik dari siapa empu dari dinosaurus-dinosaurus kecil ini. Kuperhatikan figure-figure kecil ini. Setidaknya ada sekitar 10 dinosaurus yang ia temukan di rak sepatunya. Bentuknya semua berbeda, pastinya bahwa itu menunjukkan spesiesnya pun berbeda.

“Dinosaurus-dinosaurus kecil. Punya siapakah gerangan dirimu? Terimakasih, setidaknya ada yang menghiburku diam-diam,” tawa Dinar kecil.

Sesederhana melihat dinosaurus-dinosaurus kecil yang berjajar di jendela kos Dinar. Sesederhana itu Dinar merasa bahagia kembali. Ia letakkan dinosaurus yang barusan ia temukan ke jajaran dinosaurus yang lain, dinosaurus kesepuluhnya. Ingin ia bertanya ke ibu kos apakah ini dinosaurus punya anaknya yang paling kecil yang masih berusia lima tahun. Tapi selalu saja Dinar lupa. Dinar memang sedikit pelupa. Dinar kemudian beranjak mandi dan berganti baju agar terasa segar kembali.

***

UAS sudah mulai dekat. Segala tugas-tugas akhir semester mulai berdatangan. Projek-projek akhir mulai harus dipresentasikan. Kehectican hidup Dinar sekarang hanya seputar perkuliahan. Setelah tengah semester lalu ia berusaha macam-macam, ia lalu memutuskan untuk berhenti saja. Sambil perlahan-lahan menemukan bagaimana jalan yang akan dipilih Dinar. Dinar merasa lebih tenang, tidak selalu mencari-mencari. Suatu perasaan yang Dinar tidak sukai, mencari-mencari namun tidak pernah menemukan dalam satu waktu yang cepat dan singkat.

Kehectican ini sebernya membuat Dinar sedikir kewalahan, namun ia kembali pada prinsip yang pernah dipegangnya. Chill out, everything is gonna be okay. Kerjakan-kerjakan sampai selesai. Kerjakan dengan usaha terbaik. Tapi jangan lupa tetap bercanda, bahwa hidup tidak harus selalu seserius itu. Itulah yang Dinar pegang sekarang. Situasi mulai berjalan sesuai keinginan Dinar. Namun ada satu perubahan lagi yang ia temukan. Dinosaurus-dinosaurus kecil itu berhenti hanya sampai jumlah ke sepuluh. Dinosaurus yang dulu ia dapatkan setelah beasiswanya ditolak merupakan dinosaurus terakhir.

“Mungkin dinosaurus itu sudah habis. Apa kukembalikan saja ya?” batin Dinar.

Sebenarnya Dinar cukup kangen melihat dinosaurus-dinosaurus itu bertengger di rak sepatunya. Apalagi itu menjadi salah satu penyemangatnya di semester ini. Dinar pun berjalan dari kamar ke arah rumah ibu kos yag berada persis didepannya. Sambil membawa sepuluh dinosaurus kecil di dalam kresek putih, Dinar mengetok pintu. Tidak ada jawaban. Dinar pun mengetok lagi, sambal mengucapkan salam agar semakin terdengar. Masih belum ada jawaban. Dinar melihat dari celah jendela dan rumah itu sepi. Kemudian Pak Gesit, tukang kebun ibu kos muncul.

“Cari ibu, Mbak? Nggak ada di rumah mbak,” jelas Pak Gesit sambil membawa peralatan bersih-bersih untuk membersihkan kos.

“Ibu kos dimana pak? Saya cuma mau ngembaliin ini, mainannya Fian kayaknya Pak,” jelas Dinar sambil menyerahkan kresek putih yang Dinar bawa.

“Oh punya Nak Fian, nanti saya taruh dalam, Mbak,” kata Pak Gesit menerima kresek itu.

“Lho memang kemana pak? Kok akhir-akhir ini saya liat rumahnya sepi,” Tanya Dinar sedikit penasaran.

“Mbak nggak tau? Nak Fian kan baru sakit, bolak-balik rumah sakit terus dari kemarin liburan itu mbak,” jelas pak Gesit

“Sakit apa pak?” Tanya Dinar dengan perasaan yang tak enak.

“Itu mbak, tadinya step, terus mimisan banyak. Disuruh ronsen-ronsen gitu terus ketauan kalau ada pembengkakan di otaknya,” kata Pak Gesit dengan raut muka yang sedih.

Dinar terdiam. Dinosaurus kecil. Dinosaurus kecil yang bersama Dinar hampir satu semester ini. Ternyata ia sedang berjuang. Tanpa Dinar ketahui bahwa tak hanya ia yang bersedih. Fian lebih berjuang daripada dirinya. Dinosaurus kecil itu sedang berjuang. Dengan egois Dinar tidak berusaha ingin tau apa yang terjadi setelah begitu lama dinosaurus kesebelas tidak datang.

“Oh begitu pak. Kok tidak ada kabar juga ya di kos? Wah, saya jadi nggak enak sama Fian mainannya ada di saya. Makasih ya Pak Gesit. Titip salam buat Ibu kos sekeluarga, semoga Fian cepet sembuh. Saya balik dulu pak,” kata Dinar menahan tangis.

“Iya mbak, nanti saya sampaikan,” kata Pak Gesit.

Sesampainya di kamar air mata Dinar tumpah. Betapa egoisnya dia. Ia serasa mengambil kebahagiaan seseorang. Dinosaurus-dinosaurus kecil itu tidak hanya berarti mainan bagi Dinar saat ini. Dinosaurus itu sudah menjadi pisau dikepala Dinar. Kebahagiaan yang Fian berikan melalui dinosaurus-dinosaurus kecil itu malah mengambil kebahagiaan Fian sendiri. Dinar hanya bisa menangis semalaman.

 

***

 

Dinosaurus kecil. Sepuluh dinosaurus kecil. Tidak ada lagi dinosaurus kecil kesebelas. Fian ternyata lebih disayang oleh Tuhan Yang Maha Esa. Fian kembali kepangkuan-Nya seminggu setelah dinosaurus-dinosaurus itu Dinar kembalikan. Ibu kos menceritakan bahwa dinosaurus itu memang benar milik Fian. Kata Ibu kos, Fian bercerita kalau ia sering melihat Dinar terlihat sedih ketika pulang kampus. Makanya Fian menaruh dinosaurus-dinosaurus kecil itu di rak sepatu Dinar. Berharap akan Dinar temukan pada saat pulang kampus.

Tangis Dinar pecah ketika Ibu kos menceritakan kronologi dinosaurus kecil ini. Dinar bercerita bahwa semester ini merupakan semester yang bagi Dinar cukup berat, sehingga dinosaurus-dinosaurus milik Fian lah yang menyemangatinya. Tanpa tau sebenarnya itu milik siapa, ia kemudian menaruhnya di jendela kos. Namun pada suatu saat Dinar sadar bahwa dinosaurus kecil kesebelas tidak kunjung ada, sehingga ia datang ke rumah depan dan memberikannya ke Pak Gesit dengan mendengar cerita mengenai apa yang terjadi kepada Fian. Ibu kos pun tersenyum dan mengucapkan terimakasih sudah merasa semangat dengan perilaku Fian.

“Tidak bu, saya yang harusnya mengucapkan terimakasih. Berkat Fian setidaknya saya tidak merasa sendiri. Saya merasa bersalah tidak mengatakan terimakasih langsung ke Fian, bahwa yang ia lakukan membuat saya merasa bahagia, dan bahkan saya tidak bisa membalas apa-apa ke Fian,” jelas Dinar sesenggukan.

“Iya mbak, sekarang Fian sudah menemukan kebahagiaannya di atas sana,” kata Ibu kos sambil menangis memelukku.

 

***

 

Ternyata sesederhana itu makna hidup. Melalui dinosaurus-dinosaurus kecil yang bersamanya kurang lebih satu semester ini, Dinar merasakan bagaimana hidup itu berjalan. Sesederhana kebahagiaan yang Fian berikan melalui dinosaurus kecilnya. Dinar sadar bahwa ia sangatlah tidak tau diri. Ia tidak peduli. Ia tidak berusaha. Bagaimana dengan Fian yang sudah berjuang sekuat itu? Dinar hanya bisa merenungi segala kejadian ini dengan penuh pembelajaran.

Dinosarus kecil sudah pulang. Ia sudah selesai membagikan kebahagiaannya di dunia. Tugasnya sudah cukup. Dinosaurus kecil sudah menemukan kebahagiannya. Terimakasih sudah menjadi dinosaurus kecil yang kesebelas dan menjadi yang ke-tak-terhitung. Maaf aku sudah meminjam kebahagiaanmu, maaf. Maaf aku terlambat menyadari apa yang kamu alami, dinosaurus kecilku. Maaf kakak sudah egois. Semoga dinosaurus kecil bertemu dengan dinosaurus-dinosaurus yang lainnya. Yang sama-sama kuat. Sehingga dinosaurus kecil dikelilingi kebahagiaan.

Dengan penuh rasa terimakasih,

Adin Narendra.

(Visited 496 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts

Apa yang kamu cari?