Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Nyatanya, Semua Semu

Ilustrasi Puisi (PERSPEKTIF, Shadinta)
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Ilustrasi Puisi (PERSPEKTIF, Shadinta)

Oleh : Aulia Novirta*

Degupku serasa terasing.
Menelan kehampaan dalam bising.
Terlempar dalam rasa yang usang dengan segala ketidakpastian.
Menyimpan bayangmu yang penuh ketidakpedulian.

Kamu selalu mengajariku mengais sisa harapan.
Mengisahkan asa yang sebenarnya hanya angan.
Kala setiap bait tersekat dalam benakku.
Dan aku tak mengenal kata lain selain, kamu.

Langit pernah mencoba menenggelamkan bayangmu dalam gelap malam.
Tapi temaram mengajakku kembali mengaharapmu.
Hingga batas terberat melupakan ialah mengingat semakin dalam.

Apa yang tidak ada terkadang menjadi sebuah keadaan.
Ia menjawab segala tanya yang sejak awal tak ingin ku permasalahkan.
Karna suatu hari aku percaya, kelak saat mimpi memberiku kepastian akan hadirmu.
Semogaku itu ialah kenyataan.
Nyatanya, angin pun mengisahkan mimpiku dalam keresahan.

Lalu dalam asa kamu seret aku sesuka hati,
Menuju kisah yang seharusnya tak ku singgahi.
Tanpa pernah kusadari aku sedang kamu permainkan.
Layaknya temaram yang terkesan indah,
namun kemudian malam tak sungkan untuk menelan.

Anganku selalu berusaha menyentuhmu,
seakan kelak kamu akan ku raih.
Namun, “seakan” memang akan selalu menjadi seakan.

Ketahuilah, bahwa lelah tatapku selalu terbayar oleh senyummu.
sedang derai air mataku hanya sebatas gurauan bagimu.

Jurang antara cinta dan benci nyatanya semu.
Seperti rasaku yang selalu berujung pada cacianmu.

 

*Penulis merupakan mahasiswi Ilmu Politik 2015, dan sedang aktif sebagai anggota divisi sastra LPM Perspektif.

(Visited 328 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts