Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Hujan di Kota Tua

Ilustrasi Puisi. (PERSPEKTIF/Ibet)
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Oleh : Ana Widiawati*

Ilustrasi Puisi. (PERSPEKTIF/Ibet)

Ilustrasi Puisi. (PERSPEKTIF/Ibet)

 

Bersama gumpal-buyar kenangan, aroma basah jalanan, doa-doa tak terucapkan,

ini bukan menyoal hujan

yang tiap guyurnya membangkitkan makam-makam ingatan,

yang rerintiknya membawamu mengudara ke masa silam,

yang kedatangannya selalu melahirkan pemuja-pemuja musiman

 

Adalah tentang mata-mata yang sayu,

tangan-tangan tertangkup,

bibir-bibir mengggigil,

wajah-wajah berkerut,

kusut

 

Bahwa di kota tua ini,

di bawah teduh emperan toko usang,

hujan tak sepuitis kata-kata kiasan dalam persajakan

hujan tak seromatis percumbuan manusia dengan masa lalunya

 

Memaknai hujan dalam rerangkai bahasa pemuja

adalah pengkhianatan

sebab kota tua dan lekuk terjal kehidupan teramat menjerat

untuk diduakan

hujan pun tak nikmat

sementara ada perut-perut yang meminta diganjal,

ada tangis-tangis bocah yang menuntut diredakan,

ada asa-asa yang coba dihidupkan

meski esok tampak lebih muram

dari awan hitam

 

 

Malang, 9 Oktober 2016

 

*) Penulis merupakan Mahasiswi Hubungan Internasional FISIP UB 2014. Merupakan Pimpinan Divisi Penelitian dan Pengembangan (LITBANG) LPM PERSPEKTIF.

(Visited 295 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts