Malang, PERSPEKTIF– Wacana pembangunan co-working space di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB) hingga kini belum menunjukkan kejelasan. Di saat yang sama, keresahan mahasiswa terkait minimnya fasilitas pembelajaran kerap bermunculan, mulai dari ruang belajar yang terbatas hingga kondisi fasilitas kelas yang dinilai belum memadai.
Bella (bukan nama sebenarnya), salah satu mahasiswa yang sering memanfaatkan ruang belajar yang tersedia di FISIP, menilai jika tidak senyaman co-working space lainnya.
“Secara tempat tidak senyaman co-working space lain, tapi kita mahasiswa tetap pakai seadanya karena sudah disediakan. Stop kontak itu juga dikit banget, dan ruangannya terbuka. Jadi apa yang lagi kita kerjain bisa dilihat sama orang-orang,” ujarnya (14/04).
Selain Bella, mahasiswa FISIP UB lainnya yaitu Ara (bukan nama aslinya), turut menyatakan keresahan terhadap wacana pengadaan co-working space ini.
“Kalau itu cuma dibuat banner aja, tidak ada progress-nya, maka kita sebagai mahasiswa menyarankan untuk secepatnya agar co-working space tersebut segera dibangun. Kita mahasiswa juga membayar UKT (uang kuliah tunggal), seharusnya dialokasikan untuk mahasiswa kembali,” pungkasnya (14/04).
Sementara itu, kedua mahasiswa tersebut menyoroti prioritas perbaikan fasilitas pembelajaran, seperti kursi yang sempit, AC yang tidak berfungsi, hingga proyektor bermasalah. Mereka berpendapat bahwa pembenahan fasilitas kelas dinilai lebih mendesak untuk didahulukan ketimbang pembangunan co-working space.
Menanggapi hal tersebut Wakil Dekan (WD) II Bidang Umum, Keuangan, dan Sumber Daya FISIP UB, Muhammad Lukman Hakim, mengungkapkan sejumlah rencana besar transformasi fasilitas. Ia menegaskan bahwa pihak fakultas saat ini tengah memprioritaskan untuk menghidupkan kembali budaya literasi dan diskusi mahasiswa.
“Tanggung jawab kita bersama adalah menjaga daya kritis mahasiswa. Kekuatan orang FISIP itu ada pada kemampuan membaca, diskusi, dan presentasi. Itulah yang ingin kami wadahi melalui fasilitas ini,” ucapnya (16/04).
Lukman menjelaskan jika tahun ini berencana merelokasi perpustakaan dari Gedung B lantai 6 ke Gedung Anjasmara. Ia juga menjelaskan jika akan membangun co-working space di area belakang asrama mahasiswa asing serta di lantai 1 Gedung A dan B.
“Kantin akan kita geser ke belakang karena kondisi saat ini sudah kurang nyaman akibat asap masakan. Kantin itu bukan sekadar tempat makan, tapi tempat pertemuan dan diskusi,” tambah Lukman.
Berkaitan fasilitas kelas, Lukman menyatakan jika setiap tahun pasti memantau dan memperbaiki sesuai dengan skala prioritas, dikarenakan anggaran FISIP yang berada di kategori menengah. Hingga kini, pihak fakultas tengah berusaha mengajukan dana CSR (Corporate Social Responsibility) untuk pembangunan fisik sehingga anggaran internal dapat dialokasikan lebih besar ke sektor akademik.
Dari sisi pemeliharaan, terdapat pihak Sarana dan Prasarana (Sarpras) yang melakukan pengecekan rutin terhadap fasilitas harian. Meski demikian, Lukman tetap mengimbau mahasiswa untuk aktif melaporkan kerusakan agar dapat segera ditindaklanjuti.
(Fz, Ka, Ar, nat)




