Lompat ke konten

Di Antara Cenil, Klepon, dan Rupiah yang Kian Rapuh 

Suasana Jualan Mbah Sri. Gambar: dokumentasi pribadi Dhara

Perspektif — Langit Malang terlihat indah berwarnakan jingga ketika sebuah mobil Grab berhenti di depan kawasan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. Dari dalam mobil itu, seorang perempuan tua turun perlahan sambil membawa beberapa baskom dan kantong plastik besar. Tubuhnya kecil, jalannya pelan, tetapi tangannya cekatan menata dagangan satu per satu. 

Perempuan itu hanya tersenyum kecil. Namanya Sri, tetapi hampir semua orang memanggilnya Mbah Sri. Usianya 76 tahun. Rambutnya sudah memutih seluruhnya. Namun setiap sore, hampir tanpa absen, ia tetap datang membawa cenil, klepon, sate usus, nasi kuning, nasi goreng, dan donat titipan tetangga. 

“Kalau di rumah terus saya bingung, Nak,” katanya pelan (18/05/2026). 

Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi di baliknya, ada kesepian panjang yang tidak pernah benar-benar selesai sejak suaminya meninggal pada 2018. 

Anak-anaknya sebenarnya melarang ia berjualan. Usianya dianggap terlalu tua untuk bekerja, memasak sendiri, lalu duduk berjam-jam menunggu pembeli. Namun Mbah Sri tetap keras kepala. 

“Kalau nggak jualan, saya kepikiran terus,” ucapnya. 

Maka setiap sore, perempuan yang sudah berjualan sejak tahun 1960 itu tetap berangkat. Tetap duduk di trotoar kampus. Tetap memanggil semua orang dengan sebutan “Nak.” 

Dari Dokar Kuda ke Mobil Grab 

Sebelum duduk di depan kampus, Mbah Sri menghabiskan puluhan tahun hidupnya di Pasar Besar Malang. Ia masih ingat bagaimana dulu dirinya pergi berdagang dengan dokar kuda. 

“Dulu naik dokar yang pake kuda itu,” katanya sambil tertawa kecil. “Barang bisa ditaruh sini-sini.” 

Ia tidak terlalu ingat ongkosnya. Mungkin lima rupiah. Mungkin sepuluh. Yang ia tahu, hidup terasa jauh lebih sederhana waktu itu. 

Di Pasar Besar, ia berjualan hampir enam dekade. Ia menyaksikan Malang berubah perlahan, kendaraan makin ramai, pasar makin sempit, dan harga-harga makin tinggi. Ia hidup melewati masa Presiden Soekarno, Orde Baru, krisis moneter, hingga pandemi Covid-19. 

Tetapi ingatan Mbah Sri tentang angka-angka sudah kabur. 

“Dulu mungkin satu rupiah,” katanya ketika ditanya harga cenil pada masa awal berjualan.

Ia tertawa sesudahnya, seolah sadar bahwa zaman sudah terlalu jauh untuk diingat secara utuh. Kini dokar kuda sudah hilang. Pasar pun tak lagi mudah dijangkau tubuh renta seperti dirinya. Karena itu ia memilih berjualan di kawasan kampus. 

Setiap pagi, tetangganya membantu memesankan Grab mobil. Ongkosnya sekitar Rp12.500. Kadang ia membayar lebih karena tidak punya uang kecil. 

“Kalau ada lima ratus ya sudah enggak usah kembali,” katanya ringan. 

Di tengah harga kebutuhan pokok yang terus naik, Mbah Sri justru tampak seperti orang yang tak terlalu memikirkan hitung-hitungan ekonomi modern. Ia tidak mencatat modal. Tidak menghitung laba harian. Tidak punya pembukuan. 

“Pokoknya buat beli tepung lagi, beli gula lagi, ya cukup,” katanya. 

Harga Naik, Dagangan Tetap Sama 

Sore itu, tangan Mbah Sri sibuk membungkus cenil dan klepon hijau dengan kertas minyak yang ia potong seukuran dengan porsi para pembeli. Uap hangat masih keluar dari kukusan. Aroma santan bercampur gula jawa memenuhi udara. 

“Iya, harga bahannya naik nak,” ujarnya. 

Tepung yang dulu jauh lebih murah kini melonjak berkali-kali lipat. Satu dus tepung 10 kilogram, katanya, naik hingga Rp52 ribu. Belum gula, santan, plastik, cabai, hingga gas. Tetapi anehnya, Mbah Sri tetap menjual dagangannya dengan harga yang hampir tak berubah. Cenil dan klepon masih Rp5 ribu hingga Rp10 ribu per porsi. Sate usus Rp7 ribu per tusuk besar. 

“Nggak dinaikin harganya nak, biar pelanggan tetap beli,” ceritanya mengenai harga yang tetap sama.  

Di tengah melemahnya nilai rupiah dan harga kebutuhan yang terus merangkak naik, Mbah Sri memilih menahan harga dengan caranya sendiri. Keuntungan baginya tidak perlu besar. “Ada untung,” katanya. “Tapi nggak banyak.” 

Sisa uang yang ada biasanya disimpan sedikit demi sedikit untuk berjaga-jaga jika sakit. Bukan untuk membeli barang mewah. Bukan untuk tabungan masa tua. Hanya untuk biaya berobat. 

“Ada sisa dua puluh lima ribu ya saya simpan,” ia mengucapkannya tanpa keluhan. 

Viral karena Disuapi Mbah Sri 

Beberapa tahun terakhir, Mbah Sri mulai dikenal mahasiswa karena video-video TikTok. Banyak mahasiswa diam-diam merekam dirinya yang ramah, cerewet, dan suka menyuapi pembeli. 

“Coba makan dulu, Nak.”

Kalimat itu hampir selalu keluar dari mulutnya setiap ada orang membeli cenil atau klepon. 

Gambar: dokumentasi pribadi Dhara 

Kadang ia menyendokkan langsung makanan ke tangan pembeli. Kadang memaksa mahasiswa mencicipi sate ususnya sebelum membayar. Di usianya yang senja, ia masih menghafal pelanggan tetap. 

“Ada yang biasanya beli nasi kuning empat bungkus,” katanya. “Kalau belum datang ya saya tunggu.” 

Di tengah dunia kampus yang bergerak cepat, Mbah Sri seperti potongan waktu yang tertinggal. Mahasiswa datang dan pergi setiap tahun, tetapi ia tetap ada di sana dengan baskom cenilnya. 

Video-video TikTok membuat dagangannya makin ramai. Mahasiswa dari fakultas lain mulai berdatangan hanya untuk mencoba cenil viral “Mbah Sri UB.” 

Namun popularitas itu tidak membuatnya berubah. Ia masih tetap sederhana. Masih lupa menghitung uang kembalian. Masih sering tertawa sendiri ketika bingung dengan nominal pembayaran.

Bertahan di Tengah Zaman yang Berubah 

Pandemi Covid-19 sempat membuat kawasan kampus sepi total. Mahasiswa pulang ke daerah masing-masing. Tidak ada pembeli. Tidak ada keramaian. Tetapi Mbah Sri tetap berjualan. 

Kala itu ia berpindah ke dekat McDonald’s Watugong. Berdiri di pinggir jalan, menunggu orang lewat membeli dagangannya.  

“Takut ya senang-senangnya kalau ada yang borong,” katanya. 

Mungkin itulah yang membuat Mbah Sri mampu bertahan selama lebih dari 60 tahun: ia tidak pernah benar-benar berhenti bergerak.  

Ketika dokar hilang, ia pindah naik mobil daring. Ketika pasar berubah, ia pindah ke kampus. Ketika pandemi datang, ia pindah ke pinggir jalan. Dan ketika harga-harga naik akibat rupiah yang melemah, ia memilih tetap mempertahankan harga dagangannya. 

Bukan karena hidupnya mudah, tetapi karena ia tahu banyak mahasiswa juga sedang berhemat. Di matanya, pelanggan bukan sekadar pembeli. Mereka adalah teman bicara. Pengusir sepi. Alasan untuk bangun setiap pagi.

“Kalau ada kegiatan itu enak,” katanya. “Kalau enggak ada kegiatan, hati nggak enak.” 

Rupiah yang Melemah, Cenil yang Tetap Bertahan 

Enam puluh tahun lalu, ketika Mbah Sri mulai menjajakan cenil di Pasar Besar Malang, rupiah masih terasa cukup untuk membeli banyak hal. Ia memang tak lagi benar-benar ingat angka pasti harga dagangannya saat itu. Tetapi ingatan tentang zaman yang lebih sederhana masih tertinggal di kepalanya. Harga bahan murah, ongkos perjalanan ringan, dan orang-orang datang ke pasar tanpa terlalu banyak menghitung uang di saku. 

Kini, setelah melewati pergantian presiden, krisis ekonomi, hingga pandemi, perempuan itu menyaksikan sendiri bagaimana nilai uang berubah perlahan. Tepung naik puluhan ribu rupiah per dus. Cabai, gula, santan, hingga plastik ikut melambung. Ongkos transportasi yang dulu cukup dibayar recehan kini menghabiskan lebih dari sepuluh ribu rupiah sekali jalan. Namun di tengah harga-harga yang terus bergerak naik, Mbah Sri justru memilih diam di tempat, mempertahankan harga cenil dan kleponnya agar tetap bisa dijangkau mahasiswa. 

Barangkali di situlah wajah paling nyata dari melemahnya rupiah terlihat, bukan pada grafik ekonomi atau angka statistik yang rumit, melainkan pada perempuan renta yang terus mengurangi untung demi menjaga pembeli tetap datang. Nilai uang berubah, tetapi tidak dengan kebutuhan hidup. Orang-orang kecil seperti Mbah Sri akhirnya menjadi pihak yang paling sering menahan beban agar kenaikan harga tidak sepenuhnya jatuh ke tangan pelanggan. 

Di trotoar kampus itu, Mbah Sri mungkin tidak memahami istilah inflasi, depresiasi mata uang, atau gejolak ekonomi global. Namun tubuhnya merasakan semuanya. Pada tepung yang semakin mahal, keuntungan yang semakin tipis, dan uang receh yang kini terasa cepat habis. Ia menghadapi perubahan ekonomi dengan cara paling sunyi, tetap bangun sebelum subuh, tetap memasak sendiri, lalu tetap berjualan sambil tersenyum kepada mahasiswa yang datang membeli. 

Sementara kota terus bergerak cepat dan rupiah perlahan kehilangan kekuatannya, Mbah Sri tetap duduk di tempat yang sama dengan baskom cenil di depannya. Seolah sedang menjaga sesuatu yang lebih tua dari sekadar resep makanan, yakni ketekunan generasi yang bertahan hidup bukan karena keadaan memudahkan mereka, melainkan karena mereka tidak punya pilihan selain terus berjalan. (jul)

(Visited 1 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts

Apa yang kamu cari?