“Aku sekarang tahu harus cari dari mana, Wok!”
Aku melompat begitu cepat sampai hampir menabrak pohon beringin di depan kami. Entah kenapa setelah sekian lama rasanya baru kali ini tubuh pocongku bergerak mengikuti keinginanku sendiri. Wowok malah menatapku datar.
“Bagus.”
“Bagus?”
“Iya.”
“Cuma bagus??”
“Kau mau aku kasih piagam?”
Aku berhenti.
“…boleh.”
“Bego.”
Aku kembali melompat. Untuk pertama kalinya semenjak menjadi pocong, aku tidak merasa keberatan dengan kain kafan yang membungkus tubuhku. Tidak peduli berapa kali aku harus jatuh, menabrak ranting, atau menyangkut di pagar orang. Kali ini aku punya sesuatu yang mungkin lebih penting dari sekadar tempat tinggal.
Aku punya petunjuk.
Satu kuburan.
Bunga.
Pohon kamboja.
Langit senja.
Dan seseorang berbaju hitam yang membelakangiku.
Masalahnya hanya satu, Aku tidak tahu tempat itu berada.
“Wok,” panggilku sambil melompat.
“Hm?”
“Kalau gambaran kuburan tadi bukan ingatan, gimana?”
Wowok berjalan santai di sampingku.
“Ya berarti mimpi.”
“Aku udah mati, Wok.”
“Terus?”
“Mana bisa hantu mimpi.”
Wowok berhenti, Ia menggaruk kepalanya“Bener juga.”
Kami diam beberapa detik.
“Berarti kau punya masalah lebih besar.”
“Apaan?”
“Kau pocong, tapi lebih banyak nanya daripada nakutin orang.”
Aku menghela napas, rasanya aku mulai menyesal berteman dengannya.Namun, sebelum aku sempat membalas, angin malam tiba-tiba berembus melewati kami.
Bau melati.
Aku berhenti, bukan sekadar wangi. Aroma itu terasa familiar, terlakau familiar. Sama seperti aroma yang muncul ketika aku melihat istriku malam itu.
Aku menoleh ke belakang, tidak ada apa-apa. Hanya jalan gelap, pepohonan, dan kabut yang bergerak perlahan.
“Wok.”
“Apa lagi?”
“Kau cium melati?”
Wowok mengendus udara.
“Hah? Kagak.”
Aku diam. Aroma itu masih ada, bahkan semakin kuat. Lalu sesuatu muncul dalam kepalaku, sebuah rumah, tirai putih, secangkir teh yang diletakkan di meja, suara perempuan tertawa, dan sebuah kalimat.
“Jangan lupa pulang.”
Aku tersentak, tubuhku hampir terjatuh.
“Cong?”
Aku menatap Wowok.
“Aku pernah dengar itu.”
“Apa?”
“Suara seseorang bilang jangan lupa pulang.”
Wowok tidak tertawa kali ini.
“Dari siapa?”
Aku menggeleng.
“Nggak tahu.”
Kami kembali berjalan. Kali ini lebih pelan.
Kami sampai di pemakaman ketika langit mulai berubah warna, Aku tidak tahu berapa jauh kami pergi. Yang kuingat hanya setiap kali aku hampir menyerah, aroma melati itu muncul lagi, seolah menarikku ke suatu tempat. Pemakaman ini lebih kecil dibanding tempat tinggalku. Tidak ada banyak penghuni. Tidak ada pohon besar. Hanya puluhan makam yang ditutupi rumput liar, beberapa batu nisan bahkan sudah miring. Aku berhenti di gerbang “Ini tempatnya.”
Wowok menoleh “Yakin?.”
Aku mengangguk “Ada pohon kamboja.”
Di sudut pemakaman memang berdiri pohon kamboja tua yang cabangnya menjulur rendah. Beberapa bunganya jatuh berserakan di atas tanah. Aku melompat masuk.
Satu makam.
Dua makam.
Tiga makam.
Tidak ada.
Aku terus mencari, sampai akhirnya aku melihatnya. Sebuah makam yang jauh lebih bersih daripada yang lain. Ada bunga melati segar di atasnya.
Aku berhenti, jantungku seharusnya sudah tidak berdetak. Namun, entah kenapa dadaku terasa sesak.
“Itu…”
Aku mendekat. Batu nisannya sudah tua. Cat huruf-hurufnya memudar. Aku membersihkan permukaannya dengan ujung kain kafan.
Satu kata terlihat.
LAKI-LAKI.
Aku mengernyit.
“Apaan ini?”
Aku membersihkannya lagi, tulisan berikutnya muncul.
LAHIR: —
Aku mengusap lebih keras. Tanggal lahirnya hilang. Bagian tanggal kematian juga nyaris tidak terbaca. Hanya satu bagian yang masih jelas.
MENINGGAL: 17…
Aku menunggu.
“17 apa?”
Wowok ikut mendekat.
“Cong…”
“Apa?”
Wowok menunjuk batu nisan itu.
“Kayaknya…”
“Apa?”
“Nama kau ada.”
Aku membeku. Di bagian paling bawah batu nisan itu terdapat beberapa huruf. Aku membersihkannya perlahan.
Satu huruf.
Kemudian satu lagi.
Dan satu lagi, namanya tidak lengkap.
Hanya tersisa:
…LATI
Aku menatapnya lama.
“Melati?”
Aku tidak tahu kenapa nama itu membuat kepalaku sakit, tiba-tiba semuanya datang. Suara tawa. Sebuah rumah. Sebuah kamar. Tangan perempuan menggenggam tanganku. Aroma melati. Dan suara yang sangat dekat. “Mas, kalau nanti aku mati duluan, jangan lupakan aku.”
Aku terdiam, aku pernah mengatakan sesuatu, aku yakin. Tapi tidak bisa mengingat apa.
“Wok…”
“Hm?”
“Aku kenal nama ini.”
Wowok menatap batu nisan itu “Melati?.”
Aku mengangguk “Entah kenapa… aku tahu.”
Angin mendadak bertiup kencang. Bunga-bunga melati di atas makam beterbangan. Dan di saat yang sama—
Terdengar suara langkah. Aku dan Wowok menoleh bersamaan. Di antara pepohonan, seseorang sedang berjalan menuju makam. Seorang perempuan,baju serba hitam, rambutnya panjang, langkahnya perlahan, Siluetnya sama persis seperti yang kulihat dalam penglihatanku tadi.
Aku membeku.
“Wok…”
“Aku lihat.”
Perempuan itu berhenti tepat di depan makam. Ia membawa sebuket bunga melati.
Aku ingin mendekat, namun tubuhku terasa berat. Sangat berat.
Perempuan itu berjongkok, meletakkan bunga di atas makam, lalu mengusap permukaan batu nisan dengan tangan gemetar.
“Mas…”
Aku tersentak. Suara itu, suara yang sama, suara perempuan yang kutemui malam itu. Istriku.
Perempuan itu menunduk “Aku datang lagi.”
Aku melompat satu langkah ke depan“Dek…”
Tidak ada suara yang keluar.
Aku mencoba lagi “Dek!.”
Tetap tidak terdengar, Perempuan itu hanya menunduk sambil menahan tangis.
“Aku masih belum bisa lupa.”
Aku menatapnya, tiba-tiba muncul perasaan aneh. Bukan bahagia,bukan sedih. Lebih seperti seseorang sedang menarik bagian tubuhku yang selama ini hilang. Perempuan itu menempelkan dahinya pada batu nisan.
“Semua orang bilang aku harus belajar menerima.”
Ia tertawa kecil. Pahit.
“Tapi mereka nggak pernah tahu…”
Tangannya menggenggam bunga melati “…kalau menerima bukan berarti berhenti mencintai.”
Aku menatapnya tanpa berkedip.Kalimat itu menancap begitu dalam. Untuk pertama kalinya aku merasa yakin, aku mengenalnya. Aku benar-benar mengenalnya, aku ingin memeluknya. Namun, aku kembali teringat kain kafan yang membungkus tubuhku, aku tidak bisa.
Perempuan itu kemudian mengekauarkan sesuatu dari saku bajunya. Sebuah amplop kecil. Ia meletakkannya di atas makam “Maaf, Mas.”
Aku memperhatikan amplop itu.
“Aku baru berani datang setelah tiga bulan.”
Tiga bulan. Tubuhku mendadak panas, karena tubuhku sudah dingin, Tiga bulan?. Bukankah sudah tiga bulan juga sejak aku menjadi pocong?. Aku menoleh ke Wowok, Wowok sedang menatapku. Wajahnya yang biasanya penuh ejekan kini berubah serius.
“Cong…”
Aku tidak menjawab, perempuan itu berdiri. Sebelum pergi, ia menatap batu nisan sekali lagi.Lalu berkata pelan, “Semoga kali ini aku bisa benar-benar melepaskanmu.”
Aku masih terdiam.
“Wok…”
“Hm?”
“Kenapa dia bilang tiga bulan?”
Wowok tidak menjawab.
Aku melompat mendekati makam, amplop itu masih ada. Aku berusaha mengambilnya, tanganku yang terikat tidak bisa digunakan. Aku mencoba mendorongnya dengan kepala.
Tidak berhasil.
“An!!…”
Wowok menghela napas “Gini aja.”
Ia mengambil amplop itu “Buka.”
Wowok diam sebentar.
“Kita nggak tahu itu buat siapa.”
“Buka!.”
“Kalau itu pesan pribadi?”
Aku menatapnya.
“Wok.”
“Apa?”
“Aku rasa pesan itu buat aku.”
Wowok akhirnya menyerah, Ia membuka amplop perlahan. Di dalamnya hanya ada selembar kertas tulisan tangan, yang sangat singkat. Wowok membacanya lalu ekspresinya berubah.
“Cong.”
“Apa?”
“Aku kayaknya nggak boleh bacain ini.”
“Kenapa?”
Wowok menyerahkan kertas itu kepadaku. Aku melihatnya, tentu saja aku tidak bisa memegangnya.Namun saat mataku jatuh pada kalimat pertama, sekauruh tubuhku membeku. Tulisan itu berbunyi:
Mas, kalau suatu hari kamu bangun dan nggak ingat siapa dirimu, jangan percaya siapa pun yang mengatakan bahwa kamu sudah mati.
Aku menatapnya, dunia terasa hening. Bahkan suara jangkrik menghilang. Aku membaca kalimat berikutnya.
Karena kematianmu bukan seperti yang mereka ceritakan.
Aku melompat mundur.
“Wok…”
Wowok tidak menjawab.
Kemudian aku melihat sesuatu di bagian paling bawah. Ada satu kalimat terakhir, kalimat yang ditulis jauh lebih kecil.
Dan kalau kamu masih bisa membaca ini, berarti rencanaku gagal.
Aku membeku.
“Rencana?”
Wowok menatapku.
“Cong…”
“Apa?”
“Kau mulai ingat sesuatu?”
Aku memejamkan mata. Seketika kepalaku dipenuhi suara, suara hujan, suara mobil, suara seseorang berteriak, suara perempuan menangis, dan suara seorang laki-laki, suaraku sendiri.
“Kalau aku mati…”
Aku membuka mata.
“…jangan biarkan mereka menemukan tubuhku.”
Aku terdiam.
Wowok menatapku dengan wajah pucat.
“Kau ngomong apa tadi?!”
Aku tidak menjawab karena aku sendiri tidak tahu. Yang lebih membuatku takut bukanlah kalimat itu, melainkan sebuah bayangan yang muncul di kepalaku. Bukan makam,bukan rumah, bukan istriku, melainkan sebuah ruangan gelap. Seseorang sedang berdiri di sana, menghadap kepadaku. dan di tangannya ada…
Seikat bunga melati, Aku mencoba mengingat wajahnya. Namun sebelum wajah itu terlihat jelas, penglihatanku terputus. Aku jatuh tersungkur.
Wowok langsung mendekat “Cong!”
Aku menatap tanah, napas terasa sesak, padahal ku sudah tak bernapas. Lalu perlahan aku melihat sesuatu yang sebelumnya tidak ada.
Di samping batu nisanku…
terdapat bekas jejak kaki, dua pasang. Satu milik perempuan tadi.
Dan satu lagi—
jejaknya masih baru. Seolah seseorang baru saja berdiri di belakang makamku. Seseorang yang masih ada di sana. Aku menoleh perlahan, tidak ada siapa-siapa. Hanya pohon kamboja yang bergoyang ditiup angin. Namun dari balik kegelapan pepohonan, terdengar sebuah suara yang sangat pelan. Hampir seperti bisikan.
“Jangan ingat semuanya!.”
Aku membeku. Wowok pun mendengarnya. Ia berdiri perlahan dan menatap ke arah kegelapan.
“Cong…”
“Apa?”
“Kita pulang!.”
Aku menatapnya.
“Kenapa?”
Wowok tidak menjawab, Matanya masih terpaku pada tempat suara itu berasal. Karena untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya Wowok terlihat benar-benar ketakutan.
Di balik pohon kamboja, sesuatu bergerak. Dan sebelum kami sempat melihat siapa yang berada di sana—
Seikat bunga melati jatuh ke tanah.
Persis di depan kakiku.





