Lompat ke konten

Minat Mahasiswa Bergeser, Organisasi Mahasiswa Sulit Regenerasi

Gedung B FISIP UB (PERSPEKTIF/Nabila)

Malang, PERSPEKTIF — Minat mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya (FISIP UB) untuk bergabung dengan organisasi kemahasiswaan, baik Lembaga Kedaulatan Mahasiswa (LKM) maupun Lembaga Semi Otonom (LSO), kian menyusut. Menurunnya animo ini berdampak langsung pada terhambatnya proses regenerasi di berbagai organisasi kemahasiswaan. 

Ketua Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (HIMANIKA) FISIP UB, Zidane Noorsy, membenarkan fenomena tersebut. Menurutnya, pergeseran minat ini banyak dipengaruhi oleh maraknya tawaran kegiatan di luar organisasi kampus yang berorientasi langsung pada persiapan jenjang karir dan finansial, seperti program magang. 

“Mungkin kenapa (minat berorganisasi, red.) bisa rendah karena memang banyak kegiatan-kegiatan lain yang ditawarkan di luar organisasi. Jadi ada kegiatan yang (mengubah, red.) tujuan dari mahasiswa itu (menjadi, red.) uang ataupun karir,” ujar Zidane (28/05). Ia menambahkan, bahwa pergeseran ini berdampak pada terhambatnya regenerasi organisasi. 

Lebih lanjut, Zidane memaparkan konsekuensi fenomena ini bagi HIMANIKA. Bila pendaftar terus menyusut, fungsi-fungsi dasar dari himpunan mahasiswa—mulai dari advokasi, penyaluran aspirasi, hingga pengembangan potensi mahasiswa—terancam tidak bisa dijalankan. 

Pandangan serupa turut disuarakan oleh Wakil Ketua Umum Homeband FISIP UB, Cleo Lintang. Ia menilai perubahan prioritas mahasiswa menjadi biang keladi di balik surutnya mencari penerus kepengurusan. Banyak mahasiswa menganggap bahwa keterlibatan dalam organisasi kampus kerap menyita waktu yang seharusnya bisa difokuskan untuk mengejar nilai akademik.

“Banyak tuh yang bilang, mending aku fokus akademik aja, aku nggak usah organisasi karena buang-buang waktu gitu, jadi mending jadi kupu-kupu (kuliah-pulang, red.) gitu,” tuturnya (21/05).

Cleo mengungkapkan bahwa menjaga kesinambungan menjadi prioritas yang tak bisa dikesampingkan. Sebab menurunnya minat mahasiswa untuk mengikuti kegiatan organisasi kesenian seperti Homeband, menurut Cleo, berpotensi mengancam ruang belajar non-akademik di lingkungan kampus.

Untuk menyiasati fenomena ini, baik HIMANIKA maupun Homeband berupaya merancang inovasi program kerja yang mampu menarik kembali atensi mahasiswa. HIMANIKA, misalnya, mencoba menghadirkan booklet promosi serta penawaran keuntungan bergabung dalam divisi tertentu. Sementara itu, Homeband tetap konsisten mempertahankan wadah eksplorasi dan acara musik yang atraktif untuk mencegah kebosanan di luar rutinitas akademik.

Meski demikian, dari sudut pandang mahasiswa yang memilih untuk tidak bergabung dengan LKM maupun LSO, keputusan tersebut didasari oleh berbagai pertimbangan. Riki (bukan nama sebenarnya), salah seorang mahasiswa yang tidak berorganisasi, menjelaskan bahwa sejak awal perkuliahan ia memang memprioritaskan nilai akademik dan menghindari risiko kewalahan dalam perkuliahan. Ia juga menganggap bahwa kegiatan yang ditawarkan oleh LKM/LSO tidak terlalu berperan dalam fokusnya.

 “Tidak terlalu signifikan (berorganisasi, red). Karena LSO atau LKM biasanya fokus di relasi, untuk saat ini fokusku bukan di situ. Prefer magang, (mengikuti organisasi mahasiswa, red.) tidak relevan jika fokus mahasiswa di bidang akademik,” tuturnya (23/05). Ia juga menambahkan bahwa penurunan ini adalah hal yang wajar, sebab perubahan zaman.

Hal senada disampaikan oleh Kamila (bukan nama sebenarnya). Baginya, tingginya beban akademik dan tuntutan moral dari keluarga membuatnya harus menyingkirkan opsi berorganisasi agar tidak terdistraksi. Lebih jauh, ia merasa tawaran dari organisasi internal kampus belum mampu memberikan dampak karier yang jelas jika dibandingkan dengan program magang profesional.

“Sesuai dengan konteks LKM dan LSO, pasti tawarannya berbeda dan membentuk jaringan di luar zona nyaman. Tapi aku ngerasa, (berorganisasi, red.) nggak ada impact apa-apa, jika dibandingkan dengan magang. LKM dan LSO belum bisa menjamin apakah aku bisa mendapatkan keuntungan tersebut, contohnya orang-orang di LSO belum tentu melakukan pekerjaannya masing-masing,” pungkas Kamila.

Fenomena surutnya partisipasi dalam lembaga kemahasiswaan ini menjadi tantangan tersendiri bagi ekosistem mahasiswa di FISIP UB. Pada akhirnya, organisasi kemahasiswaan dituntut untuk terus beradaptasi dengan kebutuhan mahasiswa yang kian hari kian pragmatis. (kwm/nm/hr)

(Visited 2 times, 2 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts

Apa yang kamu cari?