Lompat ke konten

HARGA PLASTIK NAIK, UMKM DIPAKSA BERTAHAN ATAU TUMBANG?

Ilustrator: Ryenk Retno
Ilustrator: Ryenk Retno
Oleh: Maulidya Hafidha*

Saat ini masyarakat harus menghadapi kenyataan bahwa harga plastik di pasaran mengalami lonjakan harga yang sangat signifikan. Kenaikan ini bukan sekadar masalah biasa, tetapi sudah mulai berdampak langsung pada aktivitas ekonomi terutama bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang sangat bergantung pada kemasan plastik.

Banyak pedagang mengeluhkan kondisi ini karena mau tidak mau mereka harus menyesuaikan harga jual produk. Di satu sisi, biaya produksi meningkat tetapi di sisi lain daya beli masyarakat tidak ikut naik. Hal ini berakibat pada pelaku usaha yang berada di posisi cukup sulit antara harus mempertahankan harga dan mengurangi keuntungan, atau menaikkan harga dengan risiko kehilangan pelanggan.

Konflik Global Jadi Pemicu Lonjakan Harga Plastik

Melansir dari IDN Financials, lonjakan harga plastik ini dipicu oleh konflik antara Iran dan Amerika Serikat yang berdampak pada terganggunya impor bahan baku plastik. Situasi global tersebut secara tidak langsung menekan ketersediaan bahan baku di dalam negeri. Kondisi ini menunjukkan ketergantungan terhadap rantai pasok global (global supply chain) membuat ekonomi domestik rentan terhadap gejolak internasional.

Mengutip dari IDN Times, Reynaldi Sarijowan selaku Sekertaris Jendral Dewan Pengurus Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI), mengatakan bahwa harga plastik mengalami kenaikan secara bertahap setiap minggu. Kenaikannya berkisar antara Rp500 hingga Rp700 per minggu, bahkan untuk beberapa jenis plastik bisa melonjak hingga 50 persen sampai 100 persen.

“Setiap pekannya sejak pekan kedua puasa itu bervariasi, ada yang 500 perak, ada yang 700 perak dan melihat situasi hari ini memang hampir seluruh jenis plastik yang PE dan PP ini mengalami lonjakan mencapai 50 persen, bahkan ada yang 100 persen,” kata Reynaldi kepada IDN Times.

Jenis plastik berbahan PE dan PP menjadi yang paling terdampak. Padahal, kedua jenis ini merupakan bahan utama untuk berbagai kebutuhan sehari-hari, mulai dari kantong plastik, botol, wadah makanan seperti thinwall, hingga peralatan rumah tangga dan karung plastik. Di pasaran, harga plastik kresek yang sebelumnya sekitar Rp10.000 per pak kini naik menjadi Rp15.000, sementara jenis lain ikut meningkat dari Rp20.000 menjadi Rp25.000 per pak.

Kenaikan ini tidak hanya terlihat dalam angka, tetapi juga dirasakan langsung oleh pedagang di lapangan. Mengutip dari detikJatim di Surabaya, tepatnya di wilayah Siwalankerto, para pedagang plastik mengaku lonjakan harga mulai terjadi sejak pekan kedua maret dan hingga kini semakin tidak terkendali.

Salah satu pedagang bernama Citra, menyebut bahwa hampir seluruh jenis plastik mengalami kenaikan signifikan. “Mulai naik itu Maret minggu kedua. Semua turunan plastik naik harganya, kisaran 30 sampai 70 persen,” ujarnya kepada detikJatim..

Kenaikan ini juga tidak lepas dari masalah pasokan nafta, bahan baku utama dalam produksi plastik. Budi Santoso selaku Menteri Perdagangan, menyampaikan bahwa Indonesia masih bergantung pada impor nafta dari Timur Tengah. Ketika terjadi konflik di kawasan tersebut, distribusi pun ikut terganggu dan berdampak langsung pada harga di dalam negeri.

“Beberapa hari ini kan memang banyak atau keluhan masyarakat harga plastik naik. Jadi ini bagian dari dampak dari perang. Kita itu, bahan baku plastik itu salah satunya adalah nafta. Nafta itu kita impor dari Timur Tengah,” ujar Budi di kantor KSP kepada IDN Times, Jakarta, Rabu (1/4/2026).

Situasi ini bahkan diperparah dengan ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku lainnya. Jika jalur distribusi strategis seperti Selat Hormuz terganggu atau ditutup, maka pasokan energi dan bahan baku akan semakin tersendat. Dampaknya bukan hanya pada industri besar, tetapi juga merembet hingga ke pelaku usaha kecil yang berada di hilir.

UMKM Sulit Lepas dari Ketergantungan Plastik

Di sisi lain, tingginya ketergantungan masyarakat terhadap plastik juga menjadi faktor yang memperumit keadaan. Banyak UMKM, terutama di sektor makanan, minuman, dan kerajinan, masih sangat bergantung pada kemasan plastik karena praktis, murah, dan mudah didapat. Hampir semua produk membutuhkan kemasan, sehingga ketika harga plastik naik, biaya produksi ikut terdorong naik.

Bagi pelaku UMKM dengan margin keuntungan yang relatif kecil, sekitar 10 hingga 15 persen, kondisi ini jelas sangat menekan. Kenaikan harga bahan kemasan secara langsung memangkas keuntungan bersih yang mereka peroleh. Dalam kondisi seperti ini, pilihan yang tersedia pun menjadi serba sulit.

Mau tidak mau, sebagian pedagang akhirnya menaikkan harga jual produk agar tidak merugi. Namun, langkah ini tentu tidak tanpa risiko. Konsumen bisa saja mengurangi pembelian atau beralih ke produk lain yang lebih murah.

Situasi ini makin terasa berat karena permintaan akan plastik melonjak saat lebaran kemarin. Banyak pembeli sudah lebih dulu menimbun stok, sementara sebagian pedagang belum sempat mengantisipasi kenaikan harga. Akibatnya, ketika harga sudah terlanjur naik, pedagang justru harus mengeluarkan modal yang lebih besar untuk mengisi kembali stok barang dagangan mereka.

Pemerintah Mulai Mencari Solusi

Melihat kondisi tersebut, pemerintah mulai mengambil beberapa langkah untuk meredam dampaknya agar tidak berkembang menjadi tekanan inflasi yang lebih luas. Kementerian UMKM bersama Kementerian Perdagangan berupaya mencari alternatif pasokan nafta dari negara-negara yang relatif stabil, seperti Afrika, India, dan Amerika.

Selain itu, pemerintah juga memberikan keringanan berupa pembebasan bea masuk untuk bahan baku plastik seperti PP, HDPE, dan LLDPE selama enam bulan. Langkah ini diharapkan bisa membantu menekan biaya produksi di tingkat industri maupun UMKM.

Tidak hanya itu, pemerintah juga mulai mendorong penggunaan LPG sebagai alternatif sementara pengganti nafta dalam proses produksi tertentu. Meski belum sepenuhnya menggantikan, langkah ini menjadi salah satu upaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan baku dari wilayah yang sedang bergejolak.

Di sisi lain, momentum ini juga bisa menjadi titik awal perubahan pola konsumsi masyarakat. Ketergantungan terhadap plastik sudah saatnya mulai dikurangi secara bertahap. Berbagai alternatif kemasan ramah lingkungan sebenarnya sudah mulai berkembang, seperti bahan dari bambu, rumput laut, hingga singkong yang dapat diolah menjadi bioplastik.

Bagi pelaku UMKM, beralih ke kemasan alternatif mungkin tidak mudah dan membutuhkan penyesuaian. Namun, dalam jangka panjang langkah ini bisa menjadi strategi untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor sekaligus meningkatkan nilai tambah produk di mata konsumen yang semakin peduli lingkungan.

Pada akhirnya, kenaikan harga plastik ini bukan hanya soal naiknya biaya produksi, tetapi juga menjadi pengingat bahwa struktur ekonomi kita masih cukup rentan terhadap gejolak global. UMKM, sebagai tulang punggung ekonomi, sering kali menjadi pihak yang paling cepat merasakan dampaknya. Baik pemerintah, pelaku usaha, maupun masyarakat memiliki peran masing-masing. Tanpa langkah bersama, kenaikan harga seperti ini bukan tidak mungkin akan terus terjadi dan semakin menekan keberlangsungan UMKM di masa depan.

(Visited 1 times, 1 visits today)
*) Penulis merupakan mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts

Apa yang kamu cari?