Malang, PERSPEKTIF – Ratusan massa dari Solidaritas Perjuangan Buruh Indonesia (SPBI), aliansi rakyat, dan mahasiswa turut meramaikan aksi di Balai Kota Malang pada Jumat (01/05). Aksi digelar dalam rangka peringatan Hari Buruh Internasional dengan mengusung tema “Buruh dan Rakyat Bersatu! Lawan Imperialisme dan Kapitalisme”.
Berdasarkan pendataan, aksi dihadiri sekitar 800 massa. Aksi dihadiri oleh Ketua dan Sekretaris Jenderal (Sekjen) SPBI yang sekaligus memberikan orasi, serta penampilan musik dan mimbar bebas. Aksi dimulai oleh SPBI sejak jam 9 pagi, dilanjutkan oleh mahasiswa sekitar jam 3 sore.
Kemudian yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, aksi kali ini dilengkapi dengan penampilan musik. Andi (bukan nama asli), korlap dari Aksi Hari Buruh ini menyatakan jika konsep aksi tahun ini diubah dengan membangun seni dalam demokrasi, karena selalu terlihat sebelumnya bahwa aksi identik ricuh dan berakhir dengan kekerasan.
“Sebagai bentuk perluasan aliansi rakyat Bangkit Bersatu, kami dari aliansi memang melakukan perluasan ke segala elemen masyarakat,” ujarnya mengenai alasan mengundang punk (01/05).
Andi berharap jika gerakan di Malang hari ini bisa menjadi satu pantikan bahwasannya May Day bukan menjadi perayaan, tapi tetap menjadi momen penindasan, perlawanan, dan kebebasan untuk bisa tetap menjaga habis perlawanan.
“Tahun ini membangun momentum persatuan makanya kemudian aliansi rakyat Bangkit Bersatu ini kan sekarang kita mencoba menggaungkan persatuan semua kelas buruh petani, nelayan, pekerja, gojek, mahasiswa, dan sebagainya untuk pada memiliki satu frame yang sama untuk tidak terpecah belah karena evaluasi-evaluasi dari aksi tahun-tahun sebelumnya adalah kita seringkali digagalkan oleh pembagian-pembagian fokus yang tidak mengoptimalkan tujuan kita bersama. Jadi kita mengutamakan tujuan kolektif bersama kita dan kita gabungkan melalui aliansi ini seperti itu,” ujar perwakilan korlap lainnya (01/05).
Salah satu massa, Abi (bukan nama sebenarnya), menyatakan bahwa selama periode (kepemimpinan, red) Prabowo dari tahun 2024 hingga sekarang, tidak ada satupun kebijakan berpihak kepada kaum terkecil, terkhusus buruh.
“Seringkali kebijakan pemerintah menguntungkan diri sendiri, sehingga May Day diharapkan menjadi hari untuk mengingat kondisi buruh kembali”, ujar Abi (01/05).
Abi berharap dari aksi ini dapat menggugah, setidaknya pihak pemerintah untuk sedikit bergerak atau bahkan bergerak total, dan juga Aksi Hari Buruh dapat dihadiri lebih banyak orang.
(yzn, fdn, nat)





