Malang, PERSPEKTIF — Aroma dupa menguar tipis, perlahan memenuhi ruangan, sementara lampion-lampion merah bergelantungan menghiasi langit-langit Kelenteng Eng An Kiong. Kelenteng ini merupakan salah satu kelenteng tertua dan terbesar di Kota Malang yang telah berdiri dari mulai abad ke-19 juga sekaligus ruang untuk tiga ajaran yaitu Konghucu, Taoisme, dan Buddhisme hidup berdampingan di bawah satu atap. Di tempat ini, perbedaan bukanlah menjadikan batas, melainkan bagian dari tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Kelenteng Eng An Kiong telah lama menjadi tempat berlabuh bagi orang-orang dari daratan Tiongkok yang datang mencari kehidupan baru di Malang. Setelah dua abad berlalu, bangunan ini tetap berdiri kokoh, walaupun sebelumnya sempat terjadi pembatasan pada tahun 1965 karena kebijakan pada masa kepemimpinan Presiden Soeharto. Kini, kelenteng merah tersebut tidak hanya digunakan sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi ruang aktivitas bagi seluruh umat dengan berbagai latar belakang.
Kelenteng sebagai Ruang Ibadah, Budaya, dan Kebersamaan.

Altar utama (PERSPEKTIF/Reny)
Klenteng Eng An Kiong diketahui memiliki tiga visi dan misi, yang pertama agama, kedua budaya, dan ketiga sosial yang terwujud dalam kehidupan sehari-hari. Visi dan misi tersebut terpatri indah pada bagian dalam area klenteng dengan beberapa altar yang digunakan untuk bersembahyang kepada Tuhan Yang Maha Esa beserta para dewa. Selain itu, sesuai visi budaya dan sosial, kelenteng juga memiliki berbagai kegiatan dari mulai perayaan hari besar seperti Imlek dan Cap Go Meh, hingga kegiatan seni dan olahraga yang digelar rutin setiap minggunya.
Pengurus kelenteng, Rudy, menyebut fungsi kelenteng melampaui ibadah semata. “Di sini ada sanggar tari Jawa. Jadi kelenteng tidak perlu untuk sembahyang itu saja. Ada tari Jawa, ada gending,” ujarnya (23/02).
Keterbukaan ini tidak hanya dirasakan oleh umat klenteng, tetapi juga oleh masyarakat sekitar dari beragam latar belakang, suku, dan agama sehingga siapa pun dapat datang, baik untuk belajar maupun mengikuti berbagai kegiatan yang diselenggarakan.
Secara visual, klenteng didominasi warna merah dan kuning yang sarat makna filosofis. Merah melambangkan kebahagiaan dan keberuntungan, sementara kuning merepresentasikan keagungan. Pengunjung yang datang pun diharapkan berpakaian sopan serta menghormati aturan yang berlaku, seperti melangkahi ambang pintu tanpa menginjaknya sebagai sebuah simbol penghormatan terhadap kesetaraan manusia.
Komunitas yang terbentuk dari perantauan
Irawan Prajitno, sejarawan yang telah lama mendalami sejarah komunitas Tionghoa di Kota Malang mengungkapkan bahwa komunitas Tionghoa di Malang sudah hadir jauh lebih dahulu daripada kelenteng Eng Ang Kiong ini berdiri. Pada akhir abad ke-18, orang-orang Hokkian mulai bermukim di kawasan timur alun-alun malang, menyusuri tepi Sungai Brantas dan menjalani kehidupan sebagai pedagang, petani, pengrajin, hingga pembuat mebel, membentuk denyut ekonomi di kawasan tersebut.
Menurut Rudy, kedatangan mereka dilatarbelakangi kondisi sulit di tanah asal. “Banyak orang dari daratan China yang waktu itu di sana sengsara. Ada beberapa saudara, mereka berani. Naik perahu ke Asia Tenggara. Jangan kira Indonesia saja, ke Filipina, Singapura, Thailand, Malaysia, Brunei, Indonesia.” ungkapnya.
“Orang Cina datang ke Indonesia untuk berdagang. Mereka bermukim, membentuk komunitas, dan akhirnya timbullah perekonomian,” tuturnya ketika menceritakan sejarah tersebut.
Kawasan pemukiman mereka membentang dari sekitar kelenteng ke arah timur yang kemudian dikenal sebagai daerah pecinan lama. Fakta uniknya ketika jalur kereta api di bangun di era kolonial belanda pada tahun 1876, banyak di antara mereka yang ikut terlibat dalam pembangunan rel tersebut, sehingga orang Belanda menyebut daerah di sekitar pemukiman baru tersebut sebagai “mabel maker straat” atau jalan tukang mebel.
Komunitas mereka kemudian semakin menyebar dan besar tentunya sehingga melahirkan kebutuhan akan tempat ibadah. Bermula dari sebuah tempat sembahyang sederhana di sudut yang dikenal sebagai tua pek kong, kelenteng ini akhirnya berkembang menjadi bangunan utama pada 1825, dengan altar dewa bumi sebagai altar pertamanya yang merepresentasikan jiwa agraris pendirinya.
Dewa-dewa dan harapan yang dititipkan
Gelombang pendatang Tiongkok berikutnya tiba ketika gejolak politik terjadi, mereka datang dengan membawa serta patung-patung dewa dari tanah asal mereka. “Biasanya mereka pergi membawa patung-patung dewanya. Sampai di Malang, mereka mau titip patung ke kelenteng, sama kelenteng ya diterima,” ujarnya
Seiring bertambahnya jumlah patung, ruang-ruang di sisi bangunan utama pun beralih fungsi menjadi tempat penyimpanan hingga akhirnya dipenuhi oleh puluhan patung dewa, termasuk Dewi Kwan Im dan dewa-dewa lainnya.
Harmoni Tiga Ajaran dalam Satu Atap

Ruangan berdoa milik umat Buddha (PERSPEKTIF/Callista)
Di dalam ruang utama klenteng Eng An Kiong, suasana terasa hening, tetapi menyimpan makna spiritual yang mendalam. Di sana terlihat asap dupa tipis naik perlahan, sementara lilin-lilin besar menyala tanpa henti sejak perayaan Imlek. Di tempat inilah tiga ajaran bertemu dalam satu ruang yang sama. Praktik ini telah menjadi hal yang umum di banyak kelenteng, meskipun sejatinya bukan berasal dari tradisi awal, melainkan terbentuk dari dinamika sejarah yang kemudian diwariskan hingga hari ini.
“Semua kelenteng rata-rata juga gitu. Di tengah itu biasanya tempat Konghucu, terus nanti ada tempatnya Buddha, tempatnya Tao,” ujar Irawan. Ia menjelaskan juga bahwa penyatuan ini muncul setelah peristiwa 1965.
Dalam kesehariannya, ketiga ajaran ini berjalan berdampingan tanpa ada batas yang kaku. Perbedaan ajaran tidak menjadi penghalang, melainkan saling melengkapi dalam praktik spiritual umat. Konghucu dengan etika hidupnya, Taoisme dengan keseimbangan alam, serta Buddhisme dengan nilai belas kasih.
Pada momen tertentu, batas-batas tersebut bahkan melebur secara alami. Salah satunya terlihat saat perayaan Imlek yang tidak lagi dimaknai semata sebagai perayaan keagamaan. “Imlek ini sudah bukan lagi semacam identitas agama sebenarnya. Imlek ini adalah identitas tradisi dan adat-istiadat Tionghoa. Tionghoanya siapa? Siapapun, ” tutur Irawan. Ia menambahkan bahwa berbagai umat hadir bersama dalam perayaan tersebut, menjadikannya ruang pertemuan lintas keyakinan.
Bagi para umat, ruang utama klenteng bukan sekadar tempat ibadah, melainkan ruang spiritual yang mempersatukan. Di dalamnya, tidak ada perbedaan status sosial. Semua orang dipandang setara, tanpa melihat latar belakang ekonomi maupun identitasnya. Nilai kesetaraan ini menjadi dasar dari harmoni yang terus terjaga, menjadikan keberadaan tiga ajaran dalam satu atap sebagai cerminan kehidupan bersama yang telah terbangun sejak lama.
Keberagaman yang menumbuhkan banyak cerita

Pertunjukan Wayang (PERSPEKTIF/Nabila)
Pelataran Kelenteng Eng An Kiong didatangi silih berganti oleh orang-orang dengan berbagai latar belakang. Ada mereka yang datang untuk memanjatkan doa, ada mereka yang datang untuk mendapatkan pengetahuan baru, dan ada sebagian dari mereka yang datang untuk sekadar berkunjung. Di tengah perbedaan itu mereka berbaur menjadi satu tanpa memandang dari mana mereka berasal dan apa yang mereka yakini.
“Dibuka untuk umum bukan khusus Chinese tok. Toleransi sudah terbentuk puluhan tahun lalu,” tutur Rudy dengan senyum hangatnya.
Kelenteng tidak hanya berdiri sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai ruang sosial yang terbuka bagi siapapun. Banyak kegiatan yang bisa diikuti oleh masyarakat sekitar. Rudy menjelaskan jika kegiatan seperti latihan menari tradisional jawa, klub barongsai, wushu, dan karawitan dapat diikuti oleh siapa saja yang mendaftarkan diri. Jika terdapat acara seperti bazar juga siapa saja boleh menghadirinya.
“Kelenteng itu punya tiga visi dan misi. Visi dan misi pertama agama. Kedua budaya, ketiga sosial. Kita melaksanakan budaya Indonesia dan budaya China. Di sini ada sanggar tari Jawa. Jadi klenteng tidak untuk sembahyang saja,” terang Rudy sembari menunjukkan tempat yang biasa digunakan untuk latihan menari.
Keterbukaan dalam keberagaman ini mengalir alami melalui interaksi antar masyarakat. Bahkan di dalam Kelenteng Eng An Kiong juga terdapat klinik yang dapat diakses oleh masyarakat sekitar secara gratis, tenaga medis yang menanganipun berasal dari latar belakang agama yang berbeda, menciptakan ruang sosial yang sederhana namun hangat.
Derick salah satu umat di kelenteng, menyebut hubungan Kelenteng dengan masyarakat terjalin dengan baik. Komunikasi yang tercipta dan keterlibatan dalam berbagai kegiatan bersama menjadi pondasi utama kerukunan. Ia memberikan contoh perayaan besar seperti kirab yang melibatkan banyak pihak di luar komunitas kelenteng. Acara tersebut tidak hanya menjadi perayaan keagamaan, tetapi juga sebagai bentuk kolaborasi berbagai kelompok masyarakat.
Dari sudut pandang sejarah, kedekatan antara kelenteng dengan masyarakat bukanlah suatu hal yang muncul secara tiba-tiba. Dahulu, komunitas Tionghoa telah lama hidup berdampingan dengan masyarakat lokal bahkan sejak masa kolonial. Melalui kawasan sekitar kelenteng yang menjadi pusat permukiman, bertumbuh menjadi ruang interaksi berbagai budaya.
Kini interaksi yang tercipta menjadi semakin hangat dan menyatu. Tidak lagi terdapat batasan antara umat dan masyarakat luar. Siapa saja bisa datang untuk belajar, mengikuti kegiatan atau sekadar mengamati. Kehadiran mereka disambut dengan tangan terbuka oleh Kelenteng Eng An Kiong.
Di tengah keberagaman, Kelenteng Eng An Kiong pun hadir lebih dari sekadar tempat ibadah, ia menjelma menjadi ruang sosial dengan berbagai budaya yang berkelindan. Serupa lilin sembahyang yang terus menyala menghiasi bangunan kelenteng, harapan akan kebersamaan dan kerukunan juga selalu hidup di masyarakat.
(est, rn, cz, nat, jul)





